
Kembali ke 10 menit terakhir.
"Eh eh, lihat! bukankah itu Shaina? ayo ayo!"
Zeze yang melihat Shaina duluan sangat antusias ingin mempertemukan Shaina dan Fathir. Fathir pun tak mampu menolak, Zeze terus menarik tangan Fathir mendekati Shaina.
Hap
Ketika pemandangan yang tentu saja tak enak di pandang mata membuat Fathir patah semangat kembali.
"Kau? Bang Faruz? ada apa? tolong lepaskan!"
Shaina menghempaskan sedikit tangannya, hingga pegangan Faruz pun terlepas.
"Shain, tolong maafkan aku, ayo kita mulai dari awal, Ibuku sudah meninggal sebulan yang lalu, ayahku sudah menikah lagi, sedang aku? aku tidak bisa melupakanmu, aku hanya terhasut oleh kata kata ibuku saja, sekarang, tidak ada lagi yang menghalangi cinta kita."
Faruz membujuk Shaina dengan mengimbangi jalan Shaina yang terus berjalan menuju parkiran.
"Maaf Bang, aku hampir punya dua anak, dan merekalah satu satunya kekuatanku sekarang, mungkin saja aku tidak akan bisa lagi menerima lelaki lain selain Bang Hendra."
Shaina terus berjalan, namun berjarak 15 meter dari mereka berjalan Fathir juga sedang mengikuti mereka, tentu saja ada Zeze yang setia menemaninya.
"Shain, tolong pertimbangkan lagi, aku bersedia melakukan apa pun demi bisa kembali padamu."
Faruz terus saja memohon.
"Bang, dari awal mungkin kita memang tidak jodoh, dan sekarang pun jodoh itu bukan milik kita Bang, aku tidak mau menyakitimu, aku tidak bisa lagi mencintaimu, setelah kau meninggalkanku dulu. Tolong pergi dari kehidulanku Bang,"
Shaina mempercepat langkahnya menuju mobil di parkiran. Suasana terlihat sepi.
Hap
__ADS_1
Tiba tiba Faruz memeluk Shaina erat, dia menangis.
"Bang! tolong lepaskan! jangan menambah dosaku Bang, aku sudah banyak dosa selama ini, hamil di luar nikah, menikah dengan sisi hatiku di isi orang lain, dan kau?..."
Bugh bugh bugh
Hantaman demi hantaman kini mengenai belakang pundak Faruz. membuat Shaina terkejut juga Faruz meringis kesakitan.
"Kau? siapa kau?"
Faruz terus memegangi bahunya yang terasa nyeri bahkan terasa copot.
"Aku? aku calon suaminya Shaina, silahkan Tuan pergi!"
Fathir pun mendekati Shaina dan merangkul pundaknya. Shaina pun menggeliatkan bahunya, isyarat Fathir harus melepaskannya. Namun Shaina tak menyahut perihal Fathir menyebut calon Suami.
"Jadi? kau sudah punya pengganti? bukankah suamimu baru meninggal kemaren?"
Cecer Faruz.
Zeze pun angkat bicara.
"Nona Zeze? kau juga kenal mereka?"
Ternyata Faruz mengenali Zeze, tentu saja, restauran tempat Faruz bekerja kan pemilik Saham terbesarnya adalah Manae Grup.
"Mereka masih ada ikatan keluarga denganku, oh iya, bukankah kau maneger restauran cabang?"
Zeze ternyata juga mengenali Faruz.
"Iya Nona, maaf, baiklah, permisi."
__ADS_1
Dengan sopan Faruz pun pergi meninggalkan Zeze dkk. mungkin dia takut kena pecat, karena lumayan gajihnya di sana sangat besar sebagai manager restauran besar.
"Shaina! kau tidak papa?"
Zeze mendekati Shaina dan memeriksa tubuh Shaina.
"Mbak, terimakasih kau telah menyelamatkanku."
Ucap Shaina.
"Hey Nona! bukan aku tapi dia, pahlawanmu!"
Zeze menunjuk Fathir, Fathir pun jadi salah tingkah.
Sesaat Shaina terpana menatap Fathir yang memang sangat tampan. begitu juga Fathir terpesona dengan tatapan Shaina.Mereka saling menatap.
dan enatah mengapa dan mulai kapan, beberapa pasang mata pun mulai penasaran dengan mereka berdua, hingga mereka berdua kini tak lagi berdua. Ada beberapa pasang mata menatap mereka aneh.
"Ada apa mbak?"
Bahkan ada ibu ibu yang sengaja bertanya pada Zeze.
"Nggak bu, pasangan yang lama terpisah."
Sahut Zeze.
"Ehem ehem..."
suara Zeze membangunkan lamunan Fathir dan juga Shaina.
Ya Allah, kok aku khilaf lagi.
__ADS_1
Lirih Shaina. sambil segera menundukkan pandangannya.
BERSAMBUNG....