
Fathir mencengkram tangan Zahwa dan ingin membawanya lari.
"Tuan...lepaskan!"
Shaina menghentakkan tangannya agar terlepas dari cengkraman Fathir.
"Shain, ini bukan rumah tangga namanya, ini adalah kuburan, bahkan seperti neraka, lihat! kau sedang hamil namun kau tidak di hargai Shain!"
Bentak Fathir.
"Tuan, ini urusanku, dan aku akan menyelesaikannya sendiri. Tolong tuan pulang sekarang! permisi, aku mau lewat."
Shaina pun keluar menuju mobil dan mengambil beberapa barang, bahkan Shaina kesulitan membawanya karena terlalu banyak.
Hap hap hap
Fathir mengambil semua barang itu dan membawanya masuk kedalam.
"Shain...kenapa lama sekali!" Teriak ibu
mertuanya. sementara Ayah Hendra hanya menatap Fathir misterius.
Tap tap tap
Bruk.
Fathir melempar semua belanjaan itu di lantai kamar Laila.
"Kau? beraninya kau! siapa kau beraninya melempar barang barang mahalku heh?"
Bentak Ny.Linggar marah. Semenyara Laila coba memunguti satu persatu belanjaannya.
Bruk bruk bruk
Namun tiba tiba Fathir masuk dan kembali menginjak injak belanjaan itu.
"Berapa kau minta bayaran heh, akan,aku bayar semua ini."
Tantang Fathir.
"Kau?"
Bugh
"Kurang ajar."
Ny.Linggar memukul Fathir dengan Tas brandednya.
Hap
__ADS_1
Krek krek
Tas itu pun di cabik cabik Fathir tanpa ampun.
"Tuan, hentikan."
Shaina datang melerai.
"Shaina, siapa dia berani masuk masuk ke rumah orang tanpa sopan santun ha!?"
Ny.Linggar marah besar. melihat Tas puluhan jutanya kini hanya jadi sampah yang tak berguna.
"Kau mau tau siapa aku?"
Fsthir menantang dengan menepuk dadanya.
"Tuan ayo!"
Dhaina menarik Fathir sekuat tenaga, namun tak bergerak.
"Aduuuh," kini Shaina pun terpaksa pura pura sakit perut dan memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.
"Shaina ada apa?"
Fathir pun memeriksa Shaina.
Shaina berjalan pelan seakan akan perutnya memang sakit.
Setelah sampai bawah.
"Tuan, tong bantu aku, denan Tuan menjauh dsri hidupku, aku,sudah sangat kesulitan, tolong jangan tambah bebanku Tuan."
Ucap Shaina, wajahnya murung.
"Apa kita ke rumah sakit?"
Tanya Fathir.
"Tidak, aku memang sering kram begini, dengan tidur sebentar akan sembuh sendirinya."
Ucap Shaina.
"Baiklah, aku akan pulang. ingat! aku akan selalu menunggumu sampai kapanpun itu, ingat itu!"
Fathir pun keluar dari rumah keluarga Linggar.
Tap tap tap
"Kurang ajar, Shaina! Siapa dia, mengapa dia berani sekali merusak dan menginjak injak Tas mahal kami heh!?"
__ADS_1
Ny.Linggar turun dari tangga sambil ngomel ngomel ke Sahaina.
Ceklek
"Shaina, ada apa?"
Hendra keluar dari kamar, dan kali ini dia sadar dan mengingat Shaina.
"Obang, ayo masuk! nanti aku ambilkan nasi buat makan Obang." Ucap Shaina.
Shaina pun menuntun Hendra masuk kamar.
"Dasar suami istri penyakitan, yang suami gila yang istri sakit jiwa."
Bentak Ny.Linggar berteriak.
Apa bedanya ya gila dengan sakit jiwa😄
Ceklek
Papah Hendra juga keluar dengan masih duduk di kursi roda.
"Kau mengatai Hendra Gila? ada apa denganmu heh? dulu kau sangat menyayanginya, bahkan kau tidak rela kalau ada orang lain menyakitinya sedikitpun, lalu sekarang apa?"
Teriak Pak Linggar pada Luna istrinya.
"Heh, dulu dia adalah pewaris tunggalmu, dan sekarang pewaris tunggalnya ada di sini."
Ny.Linggar mengelus elus perut Laila.
"Ooh, jadi hanya karena Hendra lupa ingatan, kau menganggapnya bukan anakmu lagi?"
Pak Linggar terlihat marah kali ini.
"Kau mau apa? dia bukan anakku kok? dia anakmu dengan istri pertamamu yang telah mati itu heh. Kau pun sebentar lagi pasti akan mati. pesakitan."
Ucap Ny.Linggar, dia pun pergi ke kamar Laila sambil menggandeng Laila.
"Ooh, jadi dia bukan anak mamah?"
Tanya Laila.
"Bukan..."
Tampak Pak Linggar tersenyum sambil menatap ke dua wanita itu pergi.
ada apa dengan pak Linggar ya?
BERSAMBUNG....(564)
__ADS_1