
Fathir sudah menyelesaikan makan malamnya.
"Aku tunggu di luar ya!" Ucapnya.
Zeze pun juga terburu buru menyelesaikan makan malamnya.
"Baik." jawabnya.
Selesai makan, Zeze pun berdandan sangat cantik dan seksi, dia mengenakan bluse warna hijau daun, rok di awah lutut yang ketat.
"Mari!"
Mereka pun berangkat menuju pinggiran kota, di mana Zeze akan rapat dengan klien.
"Bagaimana kabar Shaina?" Basa basi Zeze.
"Alhamdulillah sehat, oh iya, di mana rumah sekretaris mu? bukankah kita perlu menjemputnya dulu?" Tanya Fathir.
"Oh tidak jadi, anaknya sakit, kasian tidak ada ibunya kalau dia ikut." Ucap Zeze.
"Sakit? lalu kita cuma berdua?" Tanya Fathir heran.
"Iya, emang kenapa?" Zeze menatap wajah Tampan Fathir tajam, seakan mata Zeze menggodanya.
"Ooh tidak apa apa." Fathir pun melanjutkan perjalannnya. sesampainya di Hotel yang di maksud, Zeze menerima telepon."
'Helo pak,'
'Maaf Bu kami mengalami kecelakaan, dan sekarang kami ada di rumah sakit.'
'Jadi bagaimana in maksudnya?'
'Kami tidak bisa menghadiri rapat ini, maaf, mohon di maklumi, sopir dan Bos Fajar lagi kritis.' Ucap seseorang itu.
'Baiklah.'
Telepon pun di tutup.
"Fathir, kita menginap saja malam ini di Hotel ini, rapatnya di tunda karena Bosnya kecelakaan." Ucap Zeze.
"Kita pulang saja, aku merindukan anak anak, aku tak terbiasa jauh dari mereka."
"Kau merindukan anak anak atau Shaina hem?."
Selidik Zeze.
"Ya, aku merindukan Shainaku." Jawabnya.
Fathir sengaja mengatakan itu, karena Fathir sudah merasa ada yang tidak beres dengan Zeze, mungkin kelamaan nggak dibelai alias Jablay😁
"Baiklah," Zeze menurut.
Aku harus mendapatkan kesempatan ini, bagaimana pun caranya.
Zeze dan Fathir pun balik arah menuju kotanya kembali.
"Aku haus dan lapar, kita minum dulu, tapi tunggu, aku mau ke apotik dulu minum obat, kayaknya maghku kumat nih." ucap Zeze.
__ADS_1
Mereka pun mampir disebuah apotik pinggir jalan. Setelah beli obat. Mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga menemukan sebuah restauran mewah, selera Zeze memang sekarang berkelas.
"Makan yang banyak." Ucap Zeze.
"Terimakasih."
Fathir pun makan, namun pikirannya slalu tertuju pada Shaina dan anak anak.
"Fathir, bisa minta tolong nggak? aku mau nambah capcay ini nih." Ucap Zeze.
"Oh, baklah." Fathir pun melambai ke pelayan, namun pelayan itu tidak melihatnya. Akhirnya terpaksa Fathir berjalan mendekatinya sendiri. Fathir merogoh kantongnya dan mengambil HPnya, dan mengatifkan kamera depan seakan sedang menchat.
Tap
Tap
Tap
"Ini Nyonya." pesanan Zeze datang.
Zeze menatap Fathir sambil sedikit tersenyum.
Fathir makan tanpa minum, Selesai makan Fathir dengasengaja menyenggol gelasnya hingga terjatuh.
Treng teng
Gelas pun lecah berserakan.
"Fathir? kenapa?" Muka Zeze berubah masam.
"Oh maaf," Ucap Fathir.
Ze, aku tau rencanamu, namun tak semudah itu menjebakku.
Ternyata Fathir melihat Zeze menaburi sesuatu di gelasnya saat Fathir mendekati pelayan tadi lewat layar kamera Hpnya yang sengaja di aktifkannya.
"Ayo!" Fathir pun berjalan menuju mobil tanpa menunggu Zeze menjawab.
Fathir merasa tidak enak dan ingin segera sampai di rumahnya.
Setelah beberapa puluh menit mereka sampai di Mansion.
"Ze, aku langsung pulang ya, asalamulaikum."
"Oke, wa alaikum salam."
...
...
...
Ceklek
Krek krek
Fathir sudah sampai di rumah mungilnya, karena dia punya kunci sendiri jadi bisa masuk.
__ADS_1
Ceklek
Tap
Hap
Fathir memeluk tubuh Shaina erat, sekan tidak mau lepas lagi.
"Ha?" Shaina menoleh kaget.
"Beng, kok pulang?"
"Sssst, aku rindu kamu sayang, jangan berpaling dariku." Ucapnya, sambil menciumi rambut panjang istrinya.
"Bebeng aneh ah, kok nggak jadi bermalam ya?" Tanya Shaina heran.
"Kliennya ke celakaan dan masuk Rumah sakit." Sahut Fathir.
"Oooh, trus kenapa Bebeng datang datang nempel kayak gini?" Tanyanya lagi.
"Aku udah bilang, aku kangen, emch emch." Fathir menci**mi pundak Shaina yang terlapis baju tidur.
"Aduh, sakit Beng." Pekik Shaina.
"Sakit? emang kenapa?"
"Tadi siang aku jatuh Beng. Saat mau ke rumah Ummi, aku nggak Fokus."
"Kamu terluka?" Fathir pun bangun dan membuka selimut Shaina.
"Cuma sedikit ini di tangan."
"anak anak bagaimana?"
"Mereka tidak apa apa Beng cuma lecet, oh iya, aku tadi liat Bebeng sama Zeze di mobil makanya aku jatuh."
Shaina pun menatap wajah Fathir ingin mengetahui sesuatu.
"Di mana? kok malah jatuh?"
"Di jl garuda sana Beng, kelihatannya Zeze..."
"Pasti kamu liat saat Zeze tertidur di pundak Bebeng kan? kamu cemburu?" Fathir sengaja langsung memotong perkataan Shaina, pasti istrinya itu salah paham.
"Mm." Shaina hanya mengangguk.
Dia pasti sakit hati saat itu, trus kalau aku cerita masalah lain, dia pasti akan terluka lagi, baiklah, aku akan mengambil keputusan.
"Sayang, rasanya aku nggak cocok kerja di kantor Zeze, bagaimana kalau kita buka usaha kecil kecilan, kita jual mobil itu, dan kita mulai dari nol." Ucap Fathir.
"Emang kenapa Beng?" Shaina penasaran.
"Aku nggak mau ninggalin kalian sampai larut malam, seakan aku nggak punya waktu untuk kalian, kita sudah opunya anak 3 lho, kita harus fokus pada mereka."
"Itu terserah Bebeng saja, bagaimana pun, Bebeng adalah kepala keluarga." Jawab Shaina.
"Maaf, aku belum bisa ngebahagiain kamu sayang."
__ADS_1
Fathir pun kembali berbaring dan memeluk Shaina kembali.
Bersambung....