Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku

Pembunuh Bayaran Palsu Perenggut Keperawananku
Penasaran


__ADS_3

"Mulai hari ini kau ku pecat."


"Hah????"


Shaina menatap Hendra tajam, namun dia hanya menganggap itu hanya gurauan.


"Aku serius, mulai besok kau jangan kerja lagi, oke!"


"Apa alasannya kau memecatku Mas?"


"Karena kau telah mencuri hatiku, hihi, tapi aku serius, mulai besok kau jangan bekerja lagi, aku akan mencarikan mu pekerjaan lain, agar Mami tak bisa bertemu denganmu oke!"


"Apaan sih Mas, sebenarnya masalahnya itu diMas, coba Mas menikah dengan MbakSisil, pasti tidak ada masalah dengan aku dan pekerjaanku Mas."


"Enak aja main suruh, emang bisa menikah tanpa cinta, lagian kamu rela kalau aku nikah sama wanita kayak Sisil, lihat tampilannya itu, aku juga tidak tau sebelumnya dia berpacaran dengan siapa saja kan? cara pacarannya juga aku tidak tau!"


Mereka pun sampai di mobil, Luri yang ke tinggalan pun tampak berlari kecil.


"Ri, udah bayar? aku lupa tadi hihi." Hendra tampak salah tingkah dan mencolek-colek telinganya.


"Udah, tenang saja, ayo!"


"Berapa Mbak, biar aku ganti."


"Jangan pikirkan itu, ayo!"


Mereka pun masuk Mobil dan berangkat menuju rumah Shaina. setelah 1 jam kurang lebih, mereka pun sampai.


"Hey... Shaina, kok udah pulang? ada apa?" Ummi tampak khawatir dan menyongsong putri kesayangannya itu.


"Nggak papa kok Mi, Shaina udah ku pecat dari pekerjaannya." Hendra yang duluan turun dari Mobil bergegas membukakan pintu belakang, dan mengangkat Shaina.


"Lho, ada apa, kok di gendong? kan nggak boleh, emang Shain sakit?"


"Iya Mi." Jawab Luri singkat.


"Sakit apa Nak?" Ummi bergegas kedalam dan membuka pintu kamar Shaina.


"Tadi terjatuh Mi, sekarang bayi Shain udah turun ke bawah, nggak boleh banyak gerak." cicit Henrda.


"Astagfirullah,"


Shaina pun di letakkan di ranjangnya, sementara Hendra keluar menemani Luri di ruang tamu.


"Kita pulang?" ajak Luri.


"Kamu pulang duluan ya, aku pesankan grabe. aku mau ngomong 4 mata sama Ummi."


"Ooh, baiklah. Biar aku pesan sendiri aja, nggak papa kok," Luri pun pamit sama Ummi dan Shaina.

__ADS_1


"Mi, besok jam 8 aku akan jemput Shaina ya!"


"Bukankah tadi Nak Hendra bilang Shaina di pecat?" ucap Ummi.


"Nggak kok Mi, akan aku pekerjakan di perusahaan lain. Ummi juga ikut besok ya?"


"Ngapain Ummi ikut? Ummi cukup jaga rumah aja."


"Pokoknya Ummi ikut aja ya."


"Baiklah Nak."


"Mi, aku mau tunangan dengan Shaina, bolehkan?"


"Nak, Shaina itu masih hamil, jadi tidak baik kalau di ikat-ikat duluan, baiknya jalani aja dulu ya?"


"Tapi Mi, aku takut ada orang lain mendahului aku nanti."


"Itu kan rahasia tuhan Nak."


"Baiklah Mi, oh ya, aku mau ikut tidur siang di sini, sekalian makan siang Mi ya, hihi. Aku tidur di sini aja nggak papa." Hendra pun mengambil bantal yang ada di lantai mungkin bekas Ummi rebahan, dan berbaring di Hambal, hanya rebahan sebentar dia pun tertidur.


Sementara di tempat lain, seorang wanita hamil sedang duduk sambil memeluk lututnya, rambutnya tampak acak adul.


"Nak, makan duku ya?"


"Mas Bay, Mas Bay hik hik hik"


"Mas Bay, apakah Mas May benar akan lahir dari sini?" Wanita itu menunjuk parutnya.


"Iya sayang, ayo makan dulu!"


"Sini, hap aemmm nyam nyam, enak bu," Dia pun makan dengan lahapnya. Bagai anak kecil makan belepotan ke sana ke mari.


Damooon, kamu di mana nak, kenapa nggak pernah pulang, udah 4 bulan ini kamu nggak pulang nak.


Ternyata itu Mama Damon dan adiknya Loli.


sudah 2 bulan Loli menderita depresi karena telah di tinggal suaminya, suaminya maninggal karena terjatuh dari proyek, itu yang mereka tau.


"Mau lagi?"


Bumil itu menggeleng. Mama Damon pun keluar dari kamar dan menguncinya dari luar.


*


*


*

__ADS_1


"Mbak Ze, aku hari ini mau pulang ke rumah ibu, aku merasa sudah aman. sudah lama aku tidak pulang, aku merindukan ibuku, karena Hpku hilang, aku nggak punya lagi nomor ibu."


"Baiklah, nanti aku akan nyetir sendiri, kau libur saja untuk beberapa saat."


"Terimakasih Mbak." Damon pun ke kamarnya dan membereskan pakaiannya, perjalanan mekan 2 jam dari Mansion Pak Manae menuju rumahnya akan menyita tenaganya. Setelah merapikan baju dan lain-lain dia pun menujukamar Pak Manae.


Tok tok tok


"Pak, apa kau di dalam?"


"Masuklah!"


"Aku mau pulang e rumah ibu Pak, susah 4 bulan tidak pulang. Rindu dengan adik, terakhir plang dia sdang hamil 3 bulan. sekarang pasti udah 7 bulanan."


"Hati-hati, mudahan tidak ada yang mengenalimu."


Setelah selesai siap-siap, dia pun berangkat menuju rumahnya menggunakan mobil mewahnya yang dia beli dengan bekerja di kantor pak Manae dan uang hasil membunuhnya terdahulu.


Setelah sejam perjalanan dia berhenti untuk membeli makanan di warung pinggir jalan.


"Ummi, mau belanja lagu, silahkan di pilih?" Tukang warung itu terlihat bercakap-cakap dengan seorang ibu yang sedang memilih-milih barang belanjaan sembako.


"Iya nih, si Bumil sering merasa lapar kalau malam-malam."


"Misi bu, mau beli minuman dingin dan beberapa cemilan." Damon pun memasuki warung tersebut.


"Di sana nak lemari Esnya, cemilannya iti dekat Ummi," Tukang warung engan sopan menunjukkan arah.


"Terimakasih bu."


Hap


Damonun mengamnil beberapa minuman dingin dan menuju cemilan.


"Aku dengar tadi ibu mencari cemilan Bumil ya, soalnya adikku juga lagi hamil, apa ya kesukaan Bumil klo mau nyemil?" Tanya Damon pada wanita yang di panggil Ummi.


"Biasa makanan ringan aja, seeprti kacang-kacangan, jangan yang terlalu banyak Mecin nggak baik."


"Terimakasih bu."


Damon pun memilih biskuit dan kacang juga kerupuk olahan rumahan. Lalu membayar.selesai membayar dia pun menuju mobil dan merapikan belanjaan di kursi belakang.


"Oh ya Bu, gimana kabar Shain? kandungannya udah 7 bulan kan?"


"Iya, alhamdulillah sehat."


Deg


Damon yang baru mau masuk terkejut nama Shain, apa yang di maksud Shaina? dia pun masuk mobil dan menunggu ibu itu pulang.

__ADS_1


"Makasih bu, ini udah selesai, aku pulang dulu, assalamualaikum." Ummi pun pergi dari warung, sementara Damon mengikuti dari jarak jauh.


BERSAMBUNG....


__ADS_2