PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Di dalam mobil


__ADS_3

 Adiba duduk di


belakang karena ia menolak duduk berdampingan dengan pria yang bukan mahramnya.


lagi-lagi hal itu membuat Gibran kesal.


 Cihh!!!! gadis sok suci!!.Batin Gibran


 Tidak ada


pembicaraan didalam mobil itu selain keheningan menyelimuti keduanya. Dibelakang


kemudi, sesekali Gibran menatap kaca spion yang mengarah kebelakang menatap


wajah gadis yang dibalut dengan hijab berwarna putih itu.


 Aku akan mengabulkan mimpimu menjadi nyonya gadis sok suci! Kau


telah berani menolakku dan kau akan merasakan akibatnya. Penolakan Adiba untuk duduk di depan membuat


Gibran sangat kesal, baru kali ini ada gadis yang menolak berdekatan dengannya.


 Adiba yang


sadar jika pria itu menatapnya dengan tatapan yang menyeramkan langsung


menundukan wajahnya. Bibirnya komat kamit membaca banyak doa yang dihafalnya


guna melindungi diri dari pria itu.


 "Berapa usiamu?" Tanya Gibran


datar memecah keheningan. Pria itu hanya bertanya asal, dia semakin marah dengan


kebisuan Adiba membuatnya terlihat jelas seperti sopirnya.


 Usahanya tak


sia-sia, Adiba mendongkakkan wajahnya dan berkata


"19 tahun tuan" Jawab Adiba


kemudian menunduk lagi sambil meremas ujung bajunya. Dia sangat takut dengan


pria dewasa di depannya ini, sangat tampan namun menyeramkan.


 "Apa kau menerima perjodohan mama?"


Bertanya karena ia yakin mamanya pasti sudah berbicara panjang lebar dengan gadis


ini.


 Adiba


menganggukan kepalanya


 Tersungging


seringai sinis dari ujung bibir Gibran.


Sudah kuduga! Gadis licik, kau memanfaatkan kesalahanku agar bisa menjadi


nyonya kan? tetapi dihadapan semua orang kau berlaga sok suci dengan menolakku

__ADS_1


ketika aku menggenggam tanganmu dan bahkan dengan hanya duduk di sampingku.


baiklah, akan ku kabulkan keinginanmu gadis licik!!.Batin Gibran


 Tidak mengerti


arti tatapan Gibran, Adiba hanya menundukan wajahnya. Adiba menyetujui


perjodohan ini karena ini adalah amanat terakhir sang ayah tercinta sebagai


bakti terakhirnya dan dia juga tidak tahu siapa anak tante Alexa yang dimaksud.


Tidak mungkin dengan


tuan menyeramkan ini kan? Dia sudah tuan dan pasti sudah menikah kan? Entahlah.


 Sesampai di


pemakaman.


 "Turun!!" Sentak Gibran mengejutkan


Adiba yang sedang melamun. Adiba bergegas turun dan berjalan mendekati pintu


kemudi.


 "Terima kasih tuan, sudah mengantar saya."


Ucap Adiba menunduk tanpa berani menatap wajah Gibran yang sangat seram baginya.


Pria ini, seperti psyco saja.


 Tanpa menjawab


berdiri menatap kepergiannya.


 Huft


Adiba menghela


nafasnya panjang. Bisa-bisanya dia bertemu dengan pria Arrogant sepertinya.


 "Kenapa dengan pria itu? kenapa menatapku


seperti itu, dia seperti mau memakanku hidup-hidup saja?! Huh aneh, aku bahkan


tidak mengenalnya." Gerutu Adiba sembari melangkah menuju pemakaman


ayahnya yang sudah sepi.


 Tubuh Adiba langsung ambruk ketika netranya


tepat pada kata nama sang ayah. Benda itu seperti mimpi baginya.


 "Ayah, hikss, hiks hiks. Kenapa ayah tinggalin


Adiba sendiri? Adiba pengen ikut sama ayah dan ibu saja, Adiba nggak sanggup


harus hidup sendiri seperti ini.”


Senyap, keluhan Adiba hanya berlalu bergitu saja tanpa lawan bicaranya.


Adiba semakin menangis.

__ADS_1


“Ayah bangunlah, Adiba lebih suka ayah memarahi Adiba daripada pergi


seperti ini, hikss….”


Menumpahkan seluruh kesedihan sambil menciumi batu nisa. Sekelebat


bayangan kenangan manis bersama sang ayah kembali muncul. Adiba tersenyum


melihat ayah yang sedang berdiri tersenyum padanya, Adiba mengerjap. Ayah


menghilang, sosok yang dirindukan itu sudah tidak ada.


“Maafin semua kesalahan Adiba, maaf Adiba belum bisa berbakti kepada


Ayah. Adiba akan melaksanakan amanat terakhir ayah.”


 “Ayah, hiks, hikss, hiks. Ayah sudah berjanji akan menemani adiba


wisuda nanti,


ayah sudah berjanji akan membawakan bunga untuk adiba jika adiba juara


nanti. Ayah akan datang mengganti Ibu. tapi kenapa sekarang ayah pergi? Aiapa yang akan menemani adiba nanti hikss, hiks,


hiks" Lirih Adiba masih belum terima, hidungnya kembang kempis. Jangan


lupa dengan matanya yang sudah basah sedari tadi.


 Setelah mulai


tenang, Adiba menenangkan dirinya dan mulai membacakan ayat-ayat suci


Al-qur'an.


 Dari kejauhan,


Hati Gibran bagaikan tersayat pisau tajam melihat dan mendengar keluhan Adiba,


ia memang tidak menyukai gadis itu. tetapi semua penderitaannya adalah


penyebabnya, ia sangat merasa bersalah karna itu.


 Hatinya kesal,


kasian, marah bercampur malu ia tidak mengerti akan emosi yang dihadapinya


sekarang.


 Gibran tidak


meninggalkan Adiba, ia hanya memarkirkan mobilnya dan hanya menatap Adiba dari


kejauhan. Karena jika ditinggal, ia tahu akan seberapa marah mamanya itu.


 Sekian lama


menunggu membuat Gibran kesal karena gadis itu tak kunjung selesai dari


kegiatannya.


 "Apa yang dilakukan gadis bodoh itu. Kenapa lama sekali!!." Kesal


Gibran melihat Adiba yang tak kunjung selesai dari aktifitasnya.

__ADS_1


__ADS_2