PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Perintah wajib


__ADS_3

-Huaaaa matilah aku. hey mulut tak tau diri..! kau mau membunuhku ya. Batin Adiba sambil kembali mencengram ujung bajunga


Ucapan Adiba membuat geram Gibran. Rahangnya mengeras, nafasnya menggebu-gebu. Gibran langsung beranjak dan mencekik leher Adiba.


"Beraninya kau berkata seperti itu!!!" Ucap Gibran dengan emosi.


"Beraninya kau keluar tanpa seijinku.....!" Ucap Gibran memperkuat cekikannya membuat Adiba susah bernafas.


Sekuat tenaga Adiba untuk bernafas dan menjawab ucapa Gibran yang sudah seperti srigala.


"Ma...maaf, maafkan saya tuan. saya tidak bermaksud berkata seperti itu." Jawab Adiba terbata-bata sambil melepas cengkraman tangan Gibran dilehernya.


gibran mendorong tubuh Adiba tepat diatas sofa membuat Adiba meringis kesakitan karna terbentur ujung sofa.


"Auww, tuan kumohon maafkan saya. Tolong jangan sentuh saya hiks hiks" Tangis Adiba tak bisa dibendung lagi dia sangat terluka jika harus disentuh secara paksa lagi meski oleh suaminya.


"Beraninya kau keluar dengan pria lain!!"


"Kau milikku!!!" Teriak Gibran sambil membuka paksa baju dan hijab Adiba


"Rambutmu matamu, bibirmu, semuanya milikku!!!" Tegas Gibran sambil menunjuk beberapa bagian tubuh yang disebutnya tadi.


adiba hanya menangis mendengarnya, Adiba kecewa dengan Gibran yang sudah berucap tidak akan menyentuhnya adalah omong kosong belaka.


"Tidak ada yang boleh menyentuh smua milikku... Kau mengerti?!!" bentak Gibran dengan sangat tinggi membuat Adiba terlonjak


"I_iya" Jawab Adiba sambil menangis


"Bagus" Gibran tersenyum senang sambil memainkan jarinya di bibir Adiba.


gibran langsung ******* bibir Adiba tanpa sisa membuat Adiba kewalahan dan kehabisan oksigen karna terlalu lama.


"Bernafas bodoh! Kau mau mati hah?" Bentak Gibran


Kemudian melanjutkan lumatannya lagi.


adiba semakin menangis sejadi-jadinya, dirinya seperti wanita murahan dimata suaminya sendiri.


Karna tidak ada balasan gibran melepaskan pautannya dan berdiri menatap tajam ke arah adiba yang duduk terpojok di atas sofa.


"Katakan! Siapa aku ini"


" tu tuan Gibran" Jawab Adiba pelan sambil menundukan kepalanya.


"Bodoh!! Aku siapa mu?"


Pertanyaan yang sangat menyulitkan bagi Adiba.

__ADS_1


Mau jawab dirinya? suami? Haha Dia kan tidak menganggap sudah menikah, bahkan adiba tidak dianghap sebagai istrinya.


"Majikanku" Jawab Adiba terbata-bata.


"Bodoh!! Aku suamimu!" Teriak Gibran lagi


"Ucapkan sekali lagi"


"Tuan suamiku" jawab Adiba hati-hati


"Kau ini!! Bodoh sekali!" Geram Gibran menatap tajam Adiba


-Sabar adiba!!!


"Ada tidak istri yang memanggil suaminya dengan sebutan tuan?" Tanya Gibran


"tidak ada tuan" Jawab adiba polos


"Panggil yang benar!" lagi-lagi Gibran berteriak.


-Aku harus memanggilnya apa? Aku pasti salah lagi.


"Anda suami saya." Jawab Adiba nyari aman.


Gibran geleng-geleng kepala dengan istrinya yang sangat polos


Mata Adiba terbelalak tidak percaya dengan apa yang diucapkan Gibran.


"Heh!! Tundukam pandanganmu!! Istri durhaka!"


"Maaf tuan" jawab adiba cemberut kesal karna lagi-lagi dia salah.


"Cepat!"


"I_iya suami ku sayang"


Uwek!! Adiba seperti ingin muntah detik itu juga. Panggilan yang sangat menggelikan menurutnya.


"Katakan hukum seorang istri tidak mematuhi perintah suaminya nona Adiba yang baik" Tanya Gibran menantang.


"Ha_harram tu, eh suamiku"


"Bagus!!" Buka bajumu" Titah Gibran dengan santainya dengan keadaan masih menatap Adiba sambil melipat tangannya.


"Hah?"


Lagi-lagi Adiba terbelalak matanya, tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Gibran

__ADS_1


-Apa tadi katanya? buka baju? untuk apa?? aaaa Kingkong bre*****k seenaknya saja. Batin Adiba kesal


"Kau ini! Sudah kubilang tundukan pandanganmu!! Bentak Gibran.


"Ma maaf tuan, eh su_suamiku" Ralat Adiba karna Gibran menatap tajam kepadanya membuat adiba menelan ludahnya.


"Cepat buka!!"


-Aaaa jika begini caranya, kubilang wajib saja tadi. *Wajib melanggarnya* huh. Jawab Adiba kesal jawabannya telah mengerjai dirinya sendiri.


Gibran yang melihat Adiba mengerucutkan bibirnya kesal tersenyum penuh kemenangan.


-Tidak akan kubiarkan lepas apa yang sudah menjadi milikku. Puji Gibran kepada dirinya sendiri.


Badan Adiba sudah keringat basah mendengar ucapan Gibran, tatapan membunuh Gibran membuat Adiba mau tak mau membuka bajunya yang sudah berantakan akibat ulah kingkong tua tadi.


Berhubung resletingnya dibelakang, membuat adiba bernafas lega karna bisa terselamatkan dari keadaan gila ini dan bisa beralasan susah.


Gibran yang menyadari kesulitan Adiba langsung memposisikan dirinya dibelakang Adiba.


Adiba memejamkan matanya ketika Gibran mulai membuka refketing bajunya. Dengan otomatis dress panjang yang melekat ditubuhnya terjun seketika memperlihatkan lekukak tubuh putih Adiba yang kini hanya dibalut dengan dalaman saja.


Adiba semakin memejamkan matanya ketika Benteng tirai tubuhnya terjun kebawah membuat Adiba malu setengah mati. Berdiri di depan seuaminya dengan keadaan hanya memakai dalamannya saja.


Kedua tangan Gibran menyentuh pundak kecil Adiba kemudian turun ketangan Adiba dan terakhir ke b*k*ng padat adiba.


Tak habis sapai disitu, Gibran mecium lembut tengkuk putih Adiba dengan lembut. Membuat buku kuduk Adiba berdiri.


Lagi-lagi Gibran melanjutkan aksinya membuka pengait bra Adiba kemudian menyentuh posisi pengait tadi hingga berjalan perlahan kegundukan besar Adiba, membuat Adiba refleks menggenggam tangan Gibran karna sudah meremas area sensitifnya.


Gibran tersenyum penuh kemenangan karna berhasil memancing hasrat kucing kecilnya. Tanpa menunggu lama Gibran menggendong Adiba ala bridal style dengan gagahnya dan meletakannya di atas ranjangnya.


Gibran melepas seluruh pakain yang membalut tubuhnya dan membuangnya kesembarang arah, tak lupa juga membuka paksa cd Adiba.


Kini, Adiba sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya. Ucapan Gibran tadi benar, Pria yang sedang menjamahi tubuhnya sekarang ini adalah suaminya, wajib hukumnya bagi seorang istri melayani dan memuaskannya lahir batin.


Gibran memulai penyatuannya, Adiba meringis kesakitan karna ini adalah hal kedua kalinya melakukan hal tersebut. Adiba meremas kuat sprai putih yang menjadi pangkuannya saat ini.


Waktu sudah menunjukan pukul 01:00, tapi mereka tak kunjung selesai juga dari kegiatan panasnya, pelipis Adiba sudah dibanjiri keringatnya bercampur keringat Gibran. Tubuhnya terkulai lemas, tulangnya seperti patah semua.


Gibran menyeka keringat Adiba dengan ibu jadinya, kemudian mempercepat gerakannya ketika menyadari tubuh Adiba sudah gemetar tak kuat lagi menyeimbangi permainnya.


Lama Gibran mempercapat gerakannya, Gibran kini sudah berada dipuncak kenikmatannya. Gibran membiarkan benih platinumnya menyeruk masuk kedalam tubuh Adiba.


Gibran mencium dahi Adiba dengan sangat lama


"Terimakasih" Ucapnya tersenyum dan ikut berbaring disamping Adiba sambil memeluknya dengan sangat erat kemudian tertidur.

__ADS_1


__ADS_2