
Adiba dan Zein telah tiba dirumah Aisyah, Adiba disambut sangat ramai oleh Aisyah
"Adiba..... !! Akhirnya kesini juga, kirain udh punya suami lupa kesini, karna sibuk diranjang" Cerocos Aisyah sambil memeluk Adiba.
"Ish ngmong apaansi, boleh aku masuk" Adiba salah tingkah mendengar ucapan Aisyah yang vulgar, untung Zein masih jauh berjalan menghampirinya.
"Eh iya, silahkan silahkan" Aisyah terkekeh.
"Itu siapa ba? Sepertinya bukan tuan genteng kamren deh" Bisik Aisyah melihat kedatangan Zein
"Sut diem! Itu Zein temennya tuan Gibran"
"Masya Allah indahnya ciptaanmu" Suara Aisyah lolos begitu saja tanpa intruksi membuat Zein tersenyum berbeda dengan Adiba kesal.
"Auww Sakit tauk...!""mengelus-ngelus pinggangnya yang dicubit Adiba
"Lagian kebiasaan! Udah ayo kita boleh masuk ngga" Kesal Adiba.
"Hehe silahkan masuk pak tampan" Adiba yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala.
Mereka bertiga terlihat sangat bahagia bercengkrama dengan begitu lama membuat Adiba melupakan semua masalahnya.
"Adiba maaf, saya harus harus pergi sekarang" Ucap Zein tiba-tiba, terlihat sangat terburu-buru karna selalu menatap arloji yang melilit di tangannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa silahkan. Terimakasih sudah mengantar"
"Dengan senang hati" jawabnya tersenyum manis membuat hati Aisyah meleleh.
Adiba dan Aisyah kembali bercengkrama ria meluapkan kerinduannya, karna biasanya mereka selalu bersama. Tidur, makan bahkan mandi pun mereka bersama. Kemudian datang Ibu Aisyah mengajaknya makan bersama.
Hari sudah mulai gelap, kemudian Adiba pamit kembali ke apartemennya.
"Syah, aku pulang dulu ya. Terimakasih makannya tadi" Ucap Adiba ramah
"Elah kayak ke siapa aja. Oh iya jangan lupa besok Wisuda. dateng ya jngn sampe ngga. klo gk dateng fiks kita end" Ucap Aisyah sambil tertawa
"Haha ni anak bisa aja"
"Baiklah, yaudh ya assalamualaikum"
Di Apartemen...
Adiba mengetuk pelan Pintu Apartemen, tak berapa lama kemudian Sekertaris Vino muncul dari balik pintu.
"Selamat malam nona" Sapa sekertaris Vino sambil membungkukan badan.
"Malam" Jawab Adiba tersenyum
__ADS_1
Sekertaris Vino membalas senyumannya kemudian berjalan menjuhi apartemen.
"Anda mau kemana Sekertaris Vino?"
"Tugas saya sudah selesai, giliran anda nona. semoga selamat" Berbalik dan tersenyum membuat bulu kuduk Adiba berdiri melihat senyuman getir Sekertaris Vino.
" Terimakasih" Jawab Adiba tersenyum paksa.
Adiba berjalan memasuki apartemen, terlihat gelap gulita di seluruh ruangan. Adiba takut akan kegelapan tapi dia tetap berupaya tenang sekarang.
-Mungkin dia sudah tidur. batin Adiba
Perlahan Adiba melangkah memasuki kamar yang sama gelapnya, betapa terkejutnya Adiba mendapati Gibran yang sedang duduk disofa tak jauh dari posisinya menatap tajam kepada Adiba sambil melipat tangan di dadanya Membuat suasana sangat mencekam.
Adiba menggenggam erat ujung bajunya dengan wajah yang sudah berkeringat.
"Darimana saja kau?" Suara berat Gibran tetap di posisinya.
Adiba menelan ludahnya dengan susah. Wajah Gibran seperti akan menerkam mangsanya. Adiba menarik nafas perlahan dan membuangnya, mencoba tenang.
Fikiran Adiba kembali kepada Shella yang datang ke Apartemennya, Adiba berfikir mungkin Gibran tadi habis bemesraan bahkan tidur dengan kekasihnya, membuat Adiba benci hal itu. Entahlah apa yang terjadi pada dirinya.
"Bukan urusan anda tuan, bukankah kau sendiri yang bilang tidak peduli dengan semua urusanku. Akupun tidak peduli dengan urusanmu!"
__ADS_1
Adiba menutup mulutnya dengan cepat, Ia sendiri tak menyangka akan mengeluarkan kata-kata tersebut.
-Huaaaa matilah aku. hey mulut tak tau diri..! kau mau membunuhku ya. Batin Adiba sambil kembali mencengram ujung bajunya