PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Extra part (Bimbang)


__ADS_3

Seorang gadis mengacak rambut frustasi setelah mendengar kabar kelahiran pewaris perusahan Adelard Wijaya.


"Akh sial!" Rutuk nya.


Semenjak laporan sekertaris Vino tempo hari membuatnya harus dikurung dipenjara selama beberapa bulan, dan kini dia akhirnya bisa bebas karena jasa pria bandot tua yang menginginkan tubuhnya.


kurungan tersebut ternyata tidak membuat gadis cantik dan sexy bernama Shella itu jera, Shella malah lebih berambisi untuk mendapatkan Gibran dan membalaskan dendamnya kepada Adiba dan sekertaris sialan yang selalu ada untuk Gibran.


Senyum tipisnya mengembang ketika dia mengingat sesuatu yang bisa menjadi senjata melawan Gibran.


"Tunggulah kehancuran mu!" Gumam Shella diiringi tawanya menggelegar mengisi seluruh ruangan.


Namun di detik kemudian seorang pria menarik rambutnya, membuat dia meringis menahan sakit. Pria sama yang menjamin kebebasannya yang ia bayar dengan tubuhnya.


Pria tua itu memerintah agar Shella melanjutkan kegiatan mereka, terus bergoyang diatas pinggulnya yang sedikit keriput.


"Cepat! puaskan aku atau kau ku kirim lagi ke penjara" Hardiknya, kemudian mendorong wajah Shella agar kepemilikan nya masuk lebih dalam.


Shella mengepal tangan, dia berusaha menahan amarah. Karena bodyguard bandot tua ini yang banyak dan sigap di luar ruangan membuatnya tidak dapat melawan.


Dasar tua Bangka tak tau diri, akan ku bunuh kau setelah aku menjadi Ny. Gibran nanti. Tekad Shella kuat.


Di tempat lain

__ADS_1


Kedua pria tampan dan gagah kini sudah duduk di ruangan mini cahaya, ruangan yang tidak jauh dengan ruang perawatan Adiba.


Setelah kejadian tadi, Gibran tidak sanggup menatap wajah istrinya. Menatapnya, kini mengingatkannya pada kesalahan terbesarnya.


"Apa yang harus kulakukan Vin?" Lirih Gibran kepada Sekertarisnya yang berdiri tak jauh dari posisinya.


Gibran berharap Vino dapat memberikan usul yang tepat


"Maaf tuan, apa tidak sebaiknya anda jujur saja kepada nona" Jawab sekertaris Vino sopan.


"Hey! kau mau mati ya" Hardik Gibran yang langsung menatap tajam.


Aku tidak mungkin melakukannya, bagaimana jiak dia tidak memaafkan ku dan malah pergi meninggalkanku.


Sekertaris Vino bisa merasakan apa yang dirasakan tuannya.


"Maaf tuan, tapi coba fikirkan lah baik baik bagaimana jika nona lebih dulu mengetahui hal ini dari orang lain" Sekertaris Vino mencoba memberi keterangan.


memang benar apa yang dikatakan sekertaris nya. Bagaimana jika Adiba malah mengetahui hal ini dari orang lain.


Bukan hanya tidak memaafkan mungkin Adiba akan langsung pergi tanpa kata.


Karena Adiba pasti berfikir suaminya lebih kejam dari siapapun. Membunuh ayahnya serta menyembunyikan kebenarannya juga.

__ADS_1


"dia pasti tidak akan sudi melihatku" Jawab Gibran.


Sekertaris Vino dapat melihat guratan kecemasan di wajah tuannya.


Setelah berfikir sejenak, kemudian Gibran berjalan keruangan istrinya. Bertekad bulat akan mengatakan hal yang sebenarnya dan menerima apapun resikonya.


"Sayang"


Eh iya, Adiba mengusap air mata yang tersisa. Dia tidak menyangka jika Gibran kembali lebih cepat.


Adiba menatap Sekertaris Vino yang membawa beberapa kantung makanan.


oh pantas saja cepat,


"Makanannya nona"


"Simpan disini saja" Adiba mengarahkan meja yang tak jauh dari mereka.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi" Ucap sekertaris Vino sopan.


"Ya, terimakasih Sekertaris Vino. Sampaikan salam ku pada Aisyah." sahut Adiba mengiringi langkah kaki Sekertaris Vino.


Sekertaris Vino berbalik kemudian tersenyum menanggapi. Mereka ternyata sepasang sahabat yang baik.

__ADS_1


__ADS_2