
Sekertaris Vino benar-benar menepati ucapannya. Dia mengantarkan Aisyah tanpa bermacam-macam sedikitpun.
"Ingat janjimu sayang!." Berbisik kemudian mengedipkan mata kepada gadis kecil yang melewatinya. Sedikit berlari untuk menemui ibunya yang sudah menunggu di depan pintu.
Aisyah bergidik ngeri mendengar ucapan Sekertaris Vino.
Pria tua mesum! gak tau diri!
"Nak Vino, tidak mampir dulu?" Ibu bertanya ramah disertai senyuman yang menyembang.
"Tidak bu, terima kasih. Saya permisi."
"Yowes, hati-hati"
"Baik bu"
Baru beberapa langkah, pria tampan nan bertubuh kekar itu tiba-tiba berbalik. Menatap gadis yang sedang bersembunyi dibelakang ibunya.
"Besok saya akan datang kembali untuk menentukan tanggal pernikahan." Vino berbicara dengan berwibawa.
Ibu Aisyah terharu dan tersenyum kepada putrinya. sedangkan Aisyah terkejut bukan main hingga mengeluarkan sebagian besar bola matanya.
Secepat ini? aissss! apa pria tua itu sudah benar-benar tidak sabar.
"Alhamdulillah, baiklah ibu tunggu kedatanganmu besok nak"
Sekertaris Vino tersenyum kemudian berbalik memasuki mobilnya dan pergi.
...---...
"Sayang!! kumohon sudah." Adiba mengerucutkan bibirnya.
Dirinya seperti body mobil yang hancur berkeping-keping. Semenjak kepulangannya dari kantor, Gibran terus saja meminta hal 'itu' lagi, lagi, dan lagi.
Bukannya mendengarkan keluhan Adiba, Gibran malah semakin menggila dan mempercepat gerakan pinggulnya.
Seringai licik mulai terbit diwajah Adiba yang sudah penuh dengan keringat.
"Aw, aw, awww!!!."
"Sayang! ada apa? apanya yang sakit?." Gibran langsung kerkesiap dan melepas senjatanya yang masih berdiri. Membuat Adiba ingin tertawa bercampur kasihan.
Shit!
Apanya yang sakit kau bilang? badanku sudah seperti puing-puing dan kau masih bertanya??!!!
"Perutku!." Lirih Adiba dengan nada yang dibuat-buat
"Benarkah?" Gibran beranjak menatap perut Adiba dan mengelusnya.
"maafkan daddy"
__ADS_1
Mengecup perut itu berkali-kali.
"Yasudah! kau istirahatlah!." Gibran beranjak dan menyelimuti tubuh Adiba yang masih polos.
Terbit penyesalan dan rasa bersalah dalam benak Adiba melihat Gibran yang belum juga puas akan permainan mereka.
"Tapi,, bagaimana dengan 'itu' mu" Adiba menunjuk sesuatu.
"Aku akan menidurkannya, kau tidurlah!" Gibran berjalan ke kamar mandi masih dengan tubuh polos. Membasuh si jantan kemudian membersihkannya dengan sabun hingga ia puas.
Lama Adiba menunggu kedatangan Gibran, hingga akhirnya ia tertidur.
Gibran baru tiba kembali setelah 2 jam kemudian, dia berganti baju tidur dan ikut membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Baby boy! gara-gara kamu aku tidak bisa puas bermain dengan ibumu!." Hardik Gibran dengan nada bercanda.
Ia mengelus perut istrinya.
"Besok kita akan cek, ada apa denganmu!"
Keesokan harinya, Gibran mendapati Adiba yang sudah duduk didepan cermin.
"Kau tidak membangunkanku?" Memeluk dan mencium rambut Adiba yang masih basah. menghirup aroma shampo disana.
"Aku tidak tega membangunkanmu, sepertinya kau kelelahan." Adiba menjawab tanpa melihat wajah suaminya.
Bukannya menjawab, tangan Gibran malah sudah traveling kemana-mana. hingga berakhir di perut Adiba.
"Good morning my baby boy!"
"Good morning too my daddy!" Jawab Adiba mengikuti suara anak kecil, Gibran tersenyum menatap wajah istrinya.
"Tunggulah dibawah, aku akan segera menyusul!"
Adiba berjalan kebawah setelah Gibran masuk kedalam kamar mandi, tak pula ia memakai hijabnya.
Sudah ada mama Alexa dan Anna disana.
"Selamat pagi ma, adik ipar"
"Pagi kak"
"Pagi sayang, gibrannya mana?."
"Sedang mandi ma, nanti menyusul"
Mama alexa mengangguk, Adiba menatap wajah Anna yang sedikit sembab. Meski diolesi make up, tapi mata sembabnya masih terlihat.
"Adik ipar, kau baik-baik saja?"
Anna tersenyum menanggapi, mama Alexa yang mendengar pertanyaan Adiba ikut menatao objek yang j.
__ADS_1
"Benarkah?" Mama Alexa memicingkan matanya.
"Iya mamaku sayang"
Mama Alexa hanya mengangguk, dia tahu betul sifat putra putrinya. Mereka sangat tidak suka jika urusan pribadinya diikut campur tangan orang lain. Karna hal itu, Mama Alexa memberikan ruang privasi bagi anak-anaknya dengan point dia masih mengawasi mereka dari jauh.
Setelah kedatangan Gibran, acara sarapan baru dimulai. tak ada obrolan didalamnya. Hanya keheningan yang menyelimuti hingga akhirnya seorang pria masuk dan mengalihkan semuanya.
"Selamat pagi tuan!" Pria itu membungkuk kemudian berdiri tak jauh tepat dari posisi Gibran.
Seorang gadis mengintip dari sudut mata ketika pria pujaannya tak kunjung melihatnya walau hanya sekejap. pria itu hanya diam dengan pandangan hanya fokus kepada Gibran.
"Kau makanlah Vin"
"Aku sud"
"Ini perintah!."
"Baiklah!." Vino menarik kursi tepat dinsamping gadis yang sedari tadi menahan hasrat rindu dan kesalnya.
Adiba yang mulai menyadari gerak gerik kedua insan tersebut merasa jadi tidak enak.
Sepertinya ada yang ingin dibicarakan adik ipar kepadanya.
Dia berusaha membantu sang Adik ipar agar pria dingin jiplakan Gibran ini tak terlalu jahat. Setidaknya pria ini tidak terlalu dingin terhadap perempuan.
"Sekertaris Vino?"
"Iya nona, ada yang anda butuhkan?" sekertaris Vino berdiri dengan sigap. membuat Adiba takjub akan kesetiaan dan kesigapan dari sekertaris suaminya ini.
"Eh tidak-tidak" Bagaimana ini, tubuh Adiba bergetar ketika wajah Gibran sudah menghunus matanya.
"Hm maksudku, apa kau sibuk?" Adiba memberanikan diri untuk bicara, Sekertaris Vino menautian kedua alisnya, kemudian menatap Gibran seperti meminta jawaban.
Gibran seperti memberi kode "Tidak nona, ada apa?"
"Adik ipar bukankah kau ada jadwal pemotretan di **** sana sekarang?."
Anna sedari tadi hanya menunduk dan mendengarkan tiba-tiba terperanjat ketika namanya dilontarkan.
"Iya kakak ipar" Jawab Anna pelan, dia sangat tidak ingin membuat kedua pria di depannya ini marah. Ya, walau dia menyukai Vino tapi tidak dipungkiri ia juga takut dan segan terhadap pria itu karna pengabdian dan pribadinya.
"Baiklah, sekertaris Vino bisakah kau antar adik iparku ke tempat tujuannya?."
Kakak ipar! apa yang kau lakukan.
Sekertaris Vino terlihat terkejut, terpampang jelas ketika raut wajahnya berubah.
"Tapi nona, saya akan pergi ke kantor bersama tuan mud"
"Pergilah Vin, lagipula aku juga akan cek kehamila Adiba terlebih dahulu"
__ADS_1
"Baiklah tuan"