
Shella tersungkur akibat tembakan bodyguard Gibran yang baru saja tiba dengan Sekertaris Vino. Bodyguard tersebut menembak Shella tepat di dada.
Gibran berlari meraih Baby B yang di hempaskan ke udara.
"Brian!!!" Teriak Adiba menggema
Adiba membulatkan mata.
Namun di detik kemudian dia bersyukur ketika Gibran mampu menggapai Baby Brian dengan tepat meski harus menjatuhkan tubuhnya ke tanah
Adiba terkejut dengan serangkaian kejadian yang baru saja terjadi dengan begitu cepat.
Adiba mengingat ngingat dia memang menarik pelatuknya.
tapi kenapa?
Sekertaris Vino baru saja tiba beserta rombongan bodyguardnya membekuk habis para bodyguard yang dibawa oleh Shella.
"Kamu!" Suara Adiba tercekat.
Dia menatap Gibran yang berjalan mendekati nya sambil menggendong baby Brian.
"Sayang..."
"Berhenti"
Gibran menghembuskan nafasnya kasar. Memberikan Baby Brian kepada bodyguard nya.
"Vin berikan!"
"Tapi tuan,.."
"Berikan kubilang!"
Vino memberikan senjata api yang sebenarnya. Senjata yang Shella berikan kepada Adiba tadi.
__ADS_1
Adiba menerimanya dengan tangan gemetar, kedua pria itu ternyata tak hanya menyembunyikan kebenaran darinya. Tapi mereka juga sudah bertindak satu langkah lebih maju darinya.
Pantas saja pelatuk tadi tidak ada pengaruh apapun padanya.
"Ayo sayang, lakukanlah sebagai tanda maafku padamu"
"Aku memang menembaknya tapi aku tidak sengaja melakukannya." Ujar Gibran membuat Adiba menggeleng mendengar pengakuan Gibran yang memang benar-benar menembak ayah.
Pengakuan Gibran sangat menyayatkan luka.
"Soal ibumu, aku juga tidak tau dan tidak ingin seperti itu"
Adiba menutup telinganya rapat-rapat, dia tidak tahu dan tidak mau tahu hal menyakitkan ini lagi.
"Sayang, kumohon maafkan aku. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya." Teriak Gibran ketika Adiba berjalan mundur.
"Berhenti! aku mohon berhenti! hiks hiks"
Gibran berlari menunjang tubuh istrinya yang hendak jatuh
"Kumohon hentikan hiks hiks" Lirih Adiba yang kini sudah berada di dalam pelukan suaminya
Adiba tak menjawab, dia marah kepada Gibran. Tapi apa yang dilakukan Gibran memang terlihat jelas bukan karena unsur sengaja.
Kekecewaan Adiba muncul karena Gibran tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Adiba kembali menangis, dia menangis karna tidak dapat mengontrol emosi hingga membuat nyawa keluarganya terancam.
Gibran mengerutkan pelukannya. Memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk istrinya.
Mereka menangis di tengah hutan dan disaksikan oleh puluhan bodyguard yang bersiaga.
Adiba mengambil alih gendongan dan mengecup putranya
Setelah melihat putranya kembali membuat kesadaran nya pulih.
__ADS_1
Adiba menangis menciumi wajah baby B.
"Maafin mama sayang, maafin mama"
"Mas, maafkan aku" Lanjut Adiba kepada Gibran.
Adiba merasa sangat bersalah karena tidak mendengarkan penjelasan Gibran. Dia merasa menjadi istri yang paling bodoh karena telah bertindak dan keluar tanpa seijin suaminya.
Adiba juga merasa bersalah karena sempat mengabaikan putranya.
"Hey kenapa kau meminta maaf, akulah yang bersalah disini. ayo tembak aku sekarang"
Adiba membuang senjatanya.
"Aku tidak butuh itu, aku hanya butuh keluarga kecilku dan bayiku yang baru saja lahir" Lirih Adiba
Gibran menangis bahagia, dia bahagia Karena Adiba memaafkan dan menerimanya kembali.
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah memaafkan ku" Ujar Gibran terharu, kemudian kembali memeluk istri dan putranya.
Setelah sekian lama terbebas dari kubangan hitam, Gibran kini sudah kembali.
Mulai detik ini, Gibran bertekad akan kembali mengangkat senjata jika ada siapapun yang berani mengusik keluarganya.
SELESAI.
---
Hallo semua, terimakasih yang sudah baca novel pertamaku. Karena masih tahap belajar, jadi banyak kesalahan kata dan alur yang tidak sesuai.
Aku mohon maaf, semoga semuanya dapat memahami.
dan demi kenyamanan para pembaca, aku mau coba bikin novel serial ke 2 dari kisah ini. Dan tentu saja kisah Baby B yang menggemaskan🤩
Yang setuju sama ide aku, silahkan komen dibawah ya. Biar semangat
__ADS_1
I love you
sampai bertemu di novel selanjutnya...,❤️😘😘😘😘