
1 jam kemudian, Gibran dan Adiba sudah kembali dengan pakaian yang sudah rapi kembali seperti semula. Adiba beristirahat di atas sofa sambil membaca beberapa buku yang tersedia disana. sedangkan Gibran, dia melanjutkan pekerjaannya yang ia tunda tadi.
Lama Adiba menunggu Gibran membuatnya bosan, belum sempat Adiba membuka mulutnya. Pintu terbuka dengan sendirinya.
"Hay bro" Sapa Zein tiba-tiba.
"Kau! apa kau tidak punya sopan santun hah?" Ucap Gibran kesal.
"Hehe maaf, kan biasanya juga gue begitu kali." Ucap Zein kemudian memutar bola mendapati gadia cantik pujaannya sedang duduk di sofa.
"Hay!" Sapa Zein yang langsung duduk di samping Adiba tanpa permiai, membuat Gibran kesal.
"Eh, hay?" Jawab Adiba sopan menjaga posisinya berada di depan suaminya.
"Sedang apa disini? kau makin cantik sekarang" Ucap Zein
"Hm, aku.." Adiba gelapan menjawab pertanyaan Zein membuat Zein menaikkan satu alisnya.
-Tidak mungkin kan aku bilang habis olahraga otot tadi, huft mau ditaruh dimana wajahku ini.
"Dia mengantarkan makan siangku"Jawab Gibran langsung matanya tetap fokus ke layar di depannya. membuat Adiba bernafas lega.
"Oh, klo begitu ayo keluar" Tawar Zein
"Kemana?"
"Kemana saja, ku tau kau pasti bosan duduk disini bersama majikanmu yang menyebalkan itu kan?" Goda Zein membuat Gibran semakin kesal.
"Dia tidak boleh kemana-mana!" Tegas Gibran.
"Kenapa?"
"Pokoknya tidak boleh!" Tegas Gibran.
"Ayolah brother! lagipula pembantumu ini sudah menjalankan tugasnya kan" Rayu Zein menatap Gibran yang masih sibuk dengan benda tipisnya.
Deg
-Pembantu?
-Jadi selama ini?? dia mengenalkanku hanya sebagai pembantu kepada temannya?
__ADS_1
-Haha, pede sekali dirimu jika dia sudah menerimamu dan menganggapmu sebagai istri. malang sekali nasibumu. Batin Adiba mengejek dirinya sendiri.
Hati Adiba seperti terbentur bongkahan batu besar, setelah seluruh hidup dan mahkotanya sudah ia serahkan dengan ikhlas kepada suaminya tapi kini dia hanya dianggap pembantunya.
"Tidak ya tidak!" Tegas Gibran yang langsung dijawab lebih tegasnya oleh Adiba.
"Zein benar tuan! tugas saya sebagai pembantu sudah selesai. saya permisi!" Ucapnya menekan kata pembantu dan tuan sambil menahan sesak didadanya.
"Ayo Zein" Ajak Adiba sambil menarik tangan Zein.
Zein senang tak terhingga, saat perempuan yang ia kejar dan ingin disenyentuhnya. Sekarang, dia sendiri yang menyentuh tangannya.
Mereka langsung keluar tanpa permisi dengan cepat.
Adiba ingin segera pergi dari hadapannya sekarang, pergi sejauh mungkin tanpa ada orang satupun
Berbeda dengan Gibran Ucapan dan perilaku Adiba membuat Gibran sangat marah, dia baru menyadari sesuatu. Ada yang salah dari ucapan istrinya tadi. tapi apa itu?
-Pembantu?
"Arghhhh......!" Gibran membanting semua benda di meja kerjanya.
Gibran sangat marah saat ini entah kepada siapa, dia sangat marah kepada Adiba, kepada dirinya sendiri. Dia ingin sekali mematahkan tangan pria yang tadi menyentuh tangan Adiba.
Tapi sekarang? kenapa dirinya marah?. Gibran keluar mengejar Adiba dan Zein tanpa memperdulikan karyawannya yang melihat kondisinya yang sudah acak-acakan. Sekertaris Vino yang melihatnya pun segera menghampiri tuannya dan menenangkannya.
"Tenanglah tuan, ayo kita masuk" Ucap Sekertaris Vino lembut. Akhirnya Gibran pun kembali keruangannya karna tidak mendapati Adiba dan Zein yang sudah pergi menjauh dari perusahaan tersebut.
Sekertaris Vino tertegun melihat ruangan yang sudah berantakan, dia mendudukan tuannya di sofa dan memberikan air putih.
Di tempat lain.
Zein dan Gibran sudah berada di sebuah danau. Adiba sendiri yang menginginkan Zein mengantarkannya kesini. Menurutnya inilah tempat yang paling pas untuk menenangkan dirinya sekarang.
"Apa kau mau minum?" Tanya Zein yang khawatir dengan adiba yang sedari tadi diam setelah pergi dari kantor Gibran.
"Boleh"
"Baik, tunggulah disini aku akan kembali" Zein beranjak membeli air putih di sebrang jalan.
"Memangnya apa yang kuharapkan? dia memang tidak pernah menganggap ada pernikahan ini. Dia hanya menganggapku sebagai pembantunya, ART nya dan pelayan di..." Gumam Adiba berhenti, dia tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi.
__ADS_1
Dia menangis sejadi-jadinya di tepi danau tersebut. Nasib apa yang sedang dijalaninya, dia hanya seorang wanita pelayan di tempat tidur sekarang.
Zein yang baru tiba langsung berhampuran memeluk Adiba yang sedang menangis seorang diri. Adiba membiarkan dirinya di dekap oleh temannya ini, dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi sekarang di dunia ini.
Adiba membalas pelukan Zein dan menumpahkan seluruh kesedihannya.
"Ayah....! Adiba rindu ayah" Ucap Adiba disela tangisnya.
Zein yang mendekap Adibapun ikut meneteskan air matanya, dia tidak kuat melihat air mata yang keluar dari mata cantik gadis pujaanya. Tak hanya itu diapun sama seperti Adiba, ayahnya meninggal ketika menyelamatkan nyawanya di kecelakan mobil 20 tahun silam. Jadi Zein bisa merasakan kesakitan Adiba yang disangkanya merindukan ayahnya.
"Tenanglah! ayahmu pasti bahagia disana" Ucap Zein menenangkan.
Adiba kembali kepada kesadarannya ketika mendengar suara Zein, dengan cepat dia menjauh dari posisi tersebut dan menyeka air matanya.
"Maafkan aku" Ucap Adiba tidak enak dibalas senyuman oleh Zein.
Mereka kembali canggung setelah kejadian tadi, tidak ada pembicaraan apapun lagi setelah itu. Adiba hanya menatap kosong danau indah di depannya, sedangkan Zein. Dia terus menatap lekat wajah cantik disampingnya.
"Kau pulanglah! ini hampir gelap" Ucap Adiba
"Ayo, aku akan mengantarmu" Ucap Zein
"Tidak, terima kasih. Aisyah akan menjemputku disini" Jawab Adiba berbohong.
"Hm baiklah, aku permisi"
"Hm terimakasih sudah menemaniku"
"Dengan senang hati" Jawab Zein tersenyum kemudian beranjak pergi meninggalkan Adiba sendiri di danau tersebut.
Adiba enggan pergi, dia masih ingin menikmati kegelapan dan kesendiriannya disini.
Sudah puas Adiba disana, dia beranjak pergi menuju rumah Aisyah. Adiba enggan pulang dan bertemu dengan orang itu sekarang, dirinya belum siap menerima hinaannya lagi. Tak apa besok dia mendapat hukumannya, yang penting sekarang dia ingin sendiri sekarang.
Adiba sudah sampai dirumah Aisyah. Aisyah dan keluarganya menyambutnya dengan sangat hangat. Adiba tidak banyak bicara selama disana, dia tidak ingin orang lain mengetahui masalahnya membuat Aisyah ikutan canggung dan membiarkan Adiba tenang.
-Mungkin ada masalah dengannya. Gumam Aisyah.
2 hari berlalu, Gibran tak kunjung mencarinya.
Adiba tersenyum mengejek kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
-Mustahil jika dia mencariku. Gumamnya.