PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Cemburu buta


__ADS_3

"Hey bodoh!!! lama sekali si. Apa kau mati didalam?" Teriak Gibran dari luar.


Adiba bulak balik bingung takut bertemu dengan Gibran.


Gibran kembali menggedor pintu lebih keras membuat Adiba terpaksa membuka pintu.


"Heh apa yang kau lakukan hah? Aku menunggumu.


Cepat masak akan ada sahabatku berkunjung kesini!" Titah Adiba


"Ba_baik tuan" Jawab Adiba.


Adiba kembali ke dapur dan memasak berbagai macam makanan. Tak lama kemudian Gibran menghampiri Adiba yang sedang menata makanan di meja makan.


"Buatkan dua kopi dan bawa ke ruang tamu"Titah Gibran kemudian kembali.


Adiba membuat dua cangkir kopi Khas Gibran yang pahit dan membawanya ke ruang tamu seperti permintaan Gibran. Matanya mendapati Gibran sedang mengobrol dengan temannya yang memakai pakaian formal seperti orang kantor.


-Oh, tamunya sudah datang ternyata. Batin Adiba


Adiba meletakan kopi tersebut di meja tepat dihadapat kedua pria yang sedang mengobrol.


"Silahkan tuan." Ucap Adiba mempersilahkan kemudian beranjak dan pergi dari hadapan mereka. Tapi dengan cepat pria tersebut mencekal lengan Adiba.


"Bukankah kau perempuan tadi?"Tanya si pria.


Melihat sentuhan kedua kulit manusia itu membuat Gibran yang melihatnya geram tiba-tiba. Gibran menyangka Adiba bertemu dengan pria lain tadi. Dengan cepat meminimalisir kemarahannya.


"Apa kau mengenalnya Zein?"Tanya Gibran sambil matanya tetap tertuju kepada tangan Zein yang menggenggam lengan Adiba


Menyadari tatap Gibran, secepat kilat Adiba melepaskan cekalannya.


Zein melihat tangannya yang ditepis kemudian beralihat menatap Gibran.


"Iya, aku bertemu dengannya tadi." Jawab Zein santai

__ADS_1


"Perkenalkan! namaku Zein.


Siapa namamu?" Menjulurkan tangan kanannya dan menatap Adiba.


Wajah Zein berbinar-binar melihat kecantikan yang terpancar dari wajah adiba, apalagi ketika Adiba tersenyum padanya.


"Saya Adiba." Jawab Adiba tersenyum sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada, tanda tidak ingin bersentuhan.


Zein semakin penasaran dibuatnya, bagi Zein perempuan seperti inilah yang patut di kerjarnya. Cantik, Baik dan tidak mudah di sentuh pria.


Tidak tahu dari mana datangnya. tiba-tiba, Gibran yang melihat aktifitas mereka geram dan menggebrak meja membuat Adiba dan Zein terkejut.


"Hey tenanglah! kenapa kau ini?


kau baper ya, karena sudah lama tidak menyentuh kekasihmu karena dia sibuk. Haha" Ucap Zein sambil tertawa terbahak-bahak melihat reaksi sahabatnya yang konyol ini, sedangkan Adiba langsung berbalik kembali ke dapur


"Permisi" Ucap Adiba langsung berlari menuju dapur.


Zein memang mengetahui soal hubungan Gibran dan Shella sudah sampai sejauh itu. Tapi dia belum mendapati soal perselingkuhan Shella.


-Bodoh!! apa yang kulakuakan!!


Buat apa juga aku marah?. Sepertinya aku harus mengecek syaraf otakku. Batin Gibran


Gibran hanya diam menatap wajah Zein yang tersenyum melihat arah dapur.


"Cantik" Gumam Zein yang terdengar Gibran


"Eh sebentar, kenapa dia disini? apa dia pembantumu?" Tanya Zein yang baru menyadari posisi Adiba dirumah Gibran.


"Hmmm" Jawab Gibran sambil menyeruput kopinya.


Setelah lama berbincang-bincang soal bisnis dan kerjasama perusahaan. Mereka bertiga makan malam di dapur, menikmati masakan buatan Adiba dengan sangat lahap.


Sesekali Zein melirik kearah Adiba yang sedang menikmati makanan sambil menunduk, Gibran menyadari hal tersebut. Zein semakin tersenyum kerika mendapati sisa makanan di bibir Adiba.

__ADS_1


Zein mengarahkan tangannya kebibir Adiba hendak membersihkan, tapi tangannya segera di tepis oleh Gibran.


"Hey apa yang kau lakukan?" Teriak Gibran membuat Adiba terkejut.


"Ada sisa makanan di bibirnya." Jawab Zein jujur tetap menatap wajah cantik Adiba yang dari tadi menyihir matanya.


Gibran semakin geram dengan tingkah Zein yang menjadi-jadi. Gibran bisa menahan jika Zein hanya melirik Adiba, tetapi geramnya sudah tidak dapat tertahan lagi ketika tangan Zein hendak menyentuk Adiba.


"Tidak perlu! dia bukan anak kecil!" Jawab Gibran menatap tajam Zein


"Haha biarlah! aku akan membantunya." Jawab Zein bersikukuh ingin menyentuh Adiba.


"Heh! pergilah kekamarmu!" Teriak Gibran kepada Adiba ketika melihat Zein lagi-lagi ingin menyentuhnya.


Mendengar ucapan Gibran, Adiba segera beranjak dan masuk kedalam kamar.


"Apa salahku? kenapa dia meneriakiku?


Padahal tadi dia sendiri yang menyuruhku ikut makan bersamanya." Gumam Adiba kesal dan bingung kepada Gibran


"Kenapa kau meneriakinya? jika tidak suka pecat saja.


Dengan senang hati aku akan memungut dan menikahinya." Ucap Zein santai


"Cih! pergi sana. Waktu kunjungan sudah habis." Jawab Gibran merentangkan tangannya pertanda mempersilahkan keluar.


Zein tidak marah dengan tingkah Gibran, dia malah tertawa terbahak-bahak melihat Gibran merentangkan tangannya sambil membungkuk. Tidak pernah Zein melihat sosok Gibran yang gagah melakukan hal aneh seperti itu.


"Haha, baiklah-baiklah.


Ingat! jaga dia untukku" Jawab Zein sambil berjalan menuju pintu.


"Yaya" Jawab Gibran jengah terhadap Zein dan mendorong tubuh Zein menjauh dari pintu.


"Apa tadi katanya? menjaganya? cih aku akan memakannya terlebih dahulu" Tegasnya dengan rahang yang sudah mengeras

__ADS_1


__ADS_2