
setelah kejadian tersebut, semua kembali ke kediamannya masing masing. Gibran bersama Adiba, Mr. Alonzo bersama Keyla, Zein bersama sekertaris pribadinya dan Sekertaris Vino bersama Aisyah atas perintah Gibran.
"Sayang apa kau masih marah padaku?" Ucap Gibran tak bersemangat ketika melihat Adiba menggeser duduknya.
Tangan kiri ia gunakan untuk menggengam tangan Adiba dan tangan lainnya untuk mengendali stir mobil.
"Tidak" ucapnya tanpa menoleh, Adiba memandang luar lewat kaca jendela mobil melihat pohon pohon yang seakan mengikutinya. Bayang bayang Gibran yang mencium Keyla masih terngiang ngiang dikepalanya membuat hati Adiba masih sakit.
Sesakit inikah meski aku sudah tahu kebenarannya.
Tidak ada lagi percakapan selama perjalanan, keduanya diam larut dalam pemikiran masing masing. Sesampainya di apartement, tangan Gibran tak mau lepas dari tangannya. Adiba mengikuti langkah Gibran yang lebar tanpa berucap hingga tiba di depan pintu Gibran langsung menggendong dan membaringkannya di atas kasur.
"Hey apa yang kau lakukan"
Gibran tak menjawab, terus menggendong Adiba dan mendudukannya di bibir ranjang. Bertumpu pada satu kaki , Gibran mendongkakan kepalanya agar dapat melihat wajah Adiba yang hanya diam tak bereaksi.
Gibran menggenggam tangan Adiba dan menciumnya.
"Sayang, Kumohon maafkan aku. Kau boleh marah bagaimanapun aku terima. Bahkan jika kau mau mengambil nyawaku aku ikhlas Adiba."
"Asal satu, jangan tinggalkan aku" Lirihnya menelungkupkan wajah di paha Adiba.
Hati Adiba terasa perih mendengar ucapan Gibran. Adiba mengusap rambut hitam Gibran lembut. Gibran mendongkakan wajahnya menatap manik istrinya yang sendu.
Tangannya meraba perut Adiba.
"Baby boy maafkan daddy"
"Sayang kumohon jangan menangis. Air matamu membuktikan betapa bodohnya aku." Gibran memeluk Adiba dalam dekapannya memberikan kehangatan di dalamnya.
Adiba melepas pelukan kemudian beranjak ke kamar mandi. Membuat Gibran menghela nafas.
"Menghadapi perempuan ternyata lebih sulit dibandingkan menghadapi seribu investor" Gumamnya.
Gibran memutuskan memasak makanan untuk Adiba. Hingga pada akhirnya beres, Adiba tak kunjung tiba.
Pria bertubuh atletis tersebut menyusul istrinya ke kamar.
Terlihat Adiba sudah terlelap tidur, Gibran menghampiri dan menciumnya. Gibran beranjak untuk membereskan makanan yang sudah tertata rapi kemudian mandi.
"Kosongkan jadwalku besok!" Ucapnya dalam sambungan kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping Adiba dan memeluknya erat.
"Good night honey, Good night baby boy" Kecupan lembut mendarat di bibir Adiba yang kenyal.
Ingin rasanya Gibran mendapatkan yang lebih dari itu, tapi dengan kondisi Adiba yang masih syok membuatnya menahat hasrat.
Adiba membuka mata ketika pelukan di tubuhnya mulai melemah tanda si empu sudah terlelap.
"Maafkan aku belum bisa memaafkan mu sepenuhnya"
Menyingkirkan tangan tersebut dan beranjak. Adiba menemukan beberapa makanan yang sudah rapi di simpan dan tertutup.
"Apa tuan itu yang memasak?" Gumamnya mengingat terakhir dia memakan nasi goreng buatan suaminya.
Adiba mencicipi masakan tersebut dan hasilnya bertahan seperti dulu.
Asin dan aneh.
Adiba mengambil segelas air dan meneguknya, kemudian beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu dan sholat.
"Ya Allah, pemilik semesta alam. Pemilik segala rasa di dunia. Maafkan aku yang belum bisa memaafkan suamiku sepenuhnya. tolong ampuni dosaku yang telah bersikap durhaka kepadanya. Kumohon berilah petunjuk bagiku dan keluarga kecilku, berilah kesehatan kepada kami dan kepadanya yang menjadi imamku. Aamiin"
Gibran yang sedari tadi mendengarkan doa Adiba diam tak bergerak, tubuhnya kaku. Dia sudah menggores luka istri kecilnya. menggores luka seorang ibu dari anaknya.
Adiba ikut berbaring setelah melipat alat sholat.
"Good night too dady" Ucap Adiba pelan sambil mengusap pipi Gibran tanpa menciumnya.
Hati Gibran terenyuh mendengar kata daddy dari mulut istrinya, dia berusaha memaafkan dirinya demi anak kami.
"Aku berjanji akan menjaga mu meski nyawaku taruhannya."
Ditempat lain.
Tak ada percakapan diantara dua makhluk tersebut. Hanha deruan mobil terdengar mengiringi perjalanan mereka.
Dengan sudut mata Vino melirik gadis di sampingnya tanpa menoleh. Bersikap seolah tak peduli padahal ingin menerkamnya.
Aisyah yang was was pun berjaga agar tidak tertidur. Seribu kata ia menolak untuk di antar si ketek paus itu, seribu kata pula dia menjawab.
__ADS_1
"Dengan senang hati"
Aisyah memutar bola matanya malas.
Senang hati, gondoken yang ada. Gumam Aisyah kesal.
Lama perjalan membuat kantuk Aisyah tak tertahan, manik nya menutup perlahan membuat si sopir menyunggingkan senyum kemudian membelokan arah agar lebih jauh dan lebih lama sampai.
Dirasa si gadis tidak lagi bersiaga, Sekertaris Vino baru menoleh menatap gadis yang terlelap tidur seperti bayi. Menggerak gerakan tangan kiri di depan wajah Aisyah untuk mengecek.
Huft.
Vino meminggirkan mobilnya dan membelokan badannya menatap gadis tersebut.
"Cantik juga"
"Tapi kenapa bibirnya tak secantik wajahnya" Gumam Vino mengingat Aisyah yang jika berbicara seperti kereta tak ada rem.
Hal itu membuatnya tersenyum tipis menatap bibir kecil tersebut.
"Bibir itu..."
Bayang bayang dirinya mencumbu Aisyah di toilet tempo hari memutar kembali membuat hasrat Vino naik.
"Ah shit!!"
Vino menatap Aisyah dan mencoba mendekati wajahnya ke wajah Adiba, tiga centi lagi bibir mereka bersentuhan. Vino memiringkan wajahnya dan...
"Kring kring, kring kring"
Seru ponsel Vino berbunyi membuat Aisyah menggeliat. Dengan segera Vino menyingkir sebelum gadis itu membuka mata dan melihat posisi mereka.
Vino melihat siapa yang telah mengganggi waktunya
Tuan muda
Nama tersebut terpampang jelas di layar. Vino mengela nafasnya kasar.
"Hall___" belum beres Vino menjawab tuannyabsudah menyambar
"Kosongkan jadwalku besok!"
Tttuuuuttttt sambungan terputus membuat Vino menggenggam poselnya kuat kuat.
Sabar ini ujian.
Vino melihat Aisyah yang menatapnya.
"Ada apa?" Tanya Aisyah.
"TIDAK!" Jawab Vino ketus kemudian melajukan mobilnya.
Aisyah menyerngitkan dahi.
Si ketek paus ini kenapa? perasaan dari tadi aku tidak melakukan apapun. aku sampai mengatur nafas ku agar tidak mengganggunya tadi.
aneh.
...---...
Keesokan harinya, Gibran bangun lebih awal dan membangunkan istrinya. Hanya dengan usapan di lengan membuat Adiba terbangun.
"Sayang bangun, ayo kita sholat berjamaah"
Adiba terdiam menatap suaminya yang sudah rapi memakai sarung dan peci. Sangat tampan.
"Ayo" Ujarnya lagi
Adiba mengangguk dan beranjak ke kamar mandi kemudian berdiri dibelakang imamnya.
Dengan suara yang lantang dan fasih Gibran melantunkan ayat ayat suci. Adiba terkagum mendengarnya, ia tidak pernah mendengar Gibran mengaji sebelumnya.
"Tuhan dzat yang maha pengasih, kasihilah keluarga kecilku. Jagalah istri dan anakku yang masih berada dalam kandungannya, jika kau ingin menimpakan cobaan timpakanlah kepadaku. Aamiin"
Adiba terdiam mendengar ucapan Gibran, terdiam di posisi tangan yang masih menganggakat. Adiba baru tersadar ketika Gibran yang mencium keningnya.
"I love you" Ucapnya mencium perut Adiba.
Adiba tersenyum.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
"Sayang apa kau lupa tugasmu?" Ranjuk Gibran sambil membawa dasi ke dapur menghampiri Adiba yang sedang memasak dibantu Bi Lastri.
"Hm maafkan aku"
Adiba mencuci tangan kemudian memakaikan dasi Gibran di atas pangkuan pria tersebut.
CUP
"Kebiasaan yang akan terjadi sampai kita mati" Ucapnya membuat Adiba tersipu.
Mereka sarapan bersama di temani Bi Lastri dan Sekertaris Vino yang sudah berada di samping mereka.
"Ayo berangkat" Ucapnya sambil menyodorkan tangan.
"Hm kemana?"
"Kerumah utama, sudah lama kita tidak kesana"
"Kenapa tidak memberitahuku?!" Ucap Adiba kesal karna belum bersiap.
"Aku sedang memberitahumu ini"
Terserah!
Adiba mengganti pakaiannya kemudian mengikuti Gibran masuk kedalam mobil.
Selama di perjalanan, tak sedetikpun Gibran melepaskan pelukannya.
"Aku merasa sesak nafas" Lirih Adiba
"Kau tidak mau aku peluk?" Nada Gibran seperti marah.
Aku yang hamil kenapa dia yang sensi.
"Bukan, maksudnya aku merasa sesak kasian baby boynya"
Mendengar nama baby boy membuat Gibran senang.
"Ah benarkah? baby boy maafkan daddy" Ucapnya langsung mengusap perut Adiba dan menciumnya.
Vino yang mendengar ucapan tuannya yang sedikit lebay ingin menertawainya. Bucin tingkat dewa, haha.
Belum sempat Gibran kembali mendaratkan ciuman. Tubuhnya mundur dan.
"Vin stop"
Gibran keluar dari mobil dan berlari ke pinggir jalan.
Uwek, uwek!!
Dia memuntahkan seluruh makanan yang baru saja masuk kedalam perutnya. Adiba dan Vino yang khawatir tentu saja keluar menyusul suaminya.
"Ada apa? apa kau sakit?" Gibran menggeleng
wajahnya pucat, berkali kali Gibran memuntahkan seluruh isi perutnya di pinggir jalan. Untung saja jalan tersebut sepi hingga tidak ada yang melihatnya.
"Sekertaris Vino kita kerumah sakit"
"Tidak sayang" Ucapnya sambil memeluk Adiba.
"Vin ganti parfum mobil ini dengan wangi jeruk, ganti juga seluruh parfum di kantor dengan wangi yang sama"
"Baik tuan"
🌹🌹🌹🌹
hallo para readers semua? Gimana kabarnya? semoga selalu sehat ya.
Author mengucapkan beribu maaf ni kepada readers tercinta karna jarang up akhir akhir ini. Author sempat down sakit dan kurang bersemangat ketika yang baca novel author beribu orang tapi yang like hanya ratusan.
Author sempat terhibur dan sedih juga baca komen dari @Sofa abdul ini. Ya kali di ganti judulnya😁, tapi klo dipikir pikir dari author yang jarang up kyknya ada bener juga si ya🤣🤣🤣 haha.
Pkoknya author ngucapin maaf dan terimakasih yang sudah membaca dan menantikan kelanjutan kisah cinta adiba dan Gibran, Vino dan Aisyah. semoga masih berkenan like dan ngasih vote agar author lebih semangat lagi.
Salam hangat.
__ADS_1
I Love you😘😘😘❤