
"Apa tadi katanya? menjaganya? cih aku akan memakannya terlebih dahulu" Tegasnya dengan rahang yang sudah mengeras
**
Gibran yang sedari tadi menahan amarahnya, mendorong pintu dengan sangat keras membuat Adiba yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku terkejut.
Gibran berjalan menghampiri Adiba dengan langkah besarnya, Adiba berdiri dan menunduk melihat tatapan mata Gibran yang serasa ingin memangsa.
"Itukah kelakukanmu selama ini hah?" Teriak Gibran yang lagi-lagi mencengkram dagu Adiba.
"Auw, maaf tuan.
Tapi saya tidak sengaja bertemu dengannya tadi." Jawab Adiba terbata-bata sambil menyentuh tangan Gibran yang mencengkram dagunya.
"Oh jadi kau suka disentuh pria seperti ini hah?" Ucap Gibran sambil mencengkram kuat lengan Adiba yang tadi disentuh Zein.
"Ti_tidak tuan, maafkan saya." Jawab Adiba yang sudah menitikan air mata.
"Baiklah akan kukabulkan keinginanmu!"Ucap Gibran yang langsung ******* bibir Adiba dengan kasar.
Adiba meronta memukul dada bidang Gibran. Sayang, tenaganya kalah kuat dengan Gibran. Tangan Adiba malah dikunci keatas kepala Adiba dengan satu tangan kiri Gibran.
Adiba menutup rapat bibirnya yang dilumat habis oleh Gibran dengan kasar dan rakusnya.
Karena tidak ada perlawanan, Gibran menggigit kecil bibir bawah Adiba membuat Adiba meringis dan membuka bibirnya. Mendapat celah terbuka, Gibran langsung menerobos masuk kedalam mengabsen setiap inci di dalamnya.
Tangan Gibran sudah masuk kedalam baju Adiba, meraba-raba benda di dalamnya dan membuka pengait bra kemudian meremas benda kenyal yang masih padat itu dengan kasar. Adiba semakin menangis dengan apa yang dilakukan Gibran, tetapi Gibran tidak memperdulikannya. Telinga Gibran seakan tuli sekarang.
Bayang-bayang Tangan Zein yang mencekal lengan Adiba terus berputar di kepalanya. Membuat Gibran semakin marah dan menggila. Gibran menggendong Adiba Ala bridal style dan meletakkannya di atas ranjang kemudian beranjak diatas tubuh Adiba.
Gibran melanjutkan ******* tadi yang sempat tertunda, kemudian membuka paksa baju yang melekat ditubuh kecil Adiba hingga merobek dan membuangnya kesembarang arah.
Adiba semakin menangis menjadi-jadi.
"Tuan, kumohon maafkan sa.."Lirih Adiba yang langsung dilumat bibirnya oleh bibir Gibran
Gibran mengecup leher jenjang dan putih Adiba hingga meninggalkan banyak kepemilikan disana, Gibran juga meremas kembali gundukan besar itu membuat Adiba menggigit kecil bibir bawahnya.
"Keluarkan saja sayang"Suara berat Gibran disela kegiatannya.
Tangan Gibran turun dan meraba kearea sensitif Adiba, membuat Adiba semakin memejamkan matanya sambil menangis dan mengepal kuat spai putih yang menjadi saksi bisu mereka.
Gibran menelungkupkan wajahnya di area paling sensitif Adiba dan menorobos masuk kedalamnya. Membuat Adiba tidak tahan lagi dan mengeluarkan suaran yang dibencinya.
__ADS_1
"Ahhhh" Desir Adiba yang sudah penuh keringat.
Gibran tersenyum penuh kemenangan mendengarnya dan membuatnya semakin menggila.
Karena dilakukan dengan amarah, Gibran memulai penyatuannya dengan kasar membuat Adiba meringis kesakitan. Tak sabar hasratnya belum juga disalurkan karena sulit, Gibran menghentakkan kembali penyatuan mereka dengan tenaga lebih membuat Adiba menjerit kesakitan.
Adiba membenci Gibran saat ini. Perlakuannya tak termaafkan, Adiba menangis ketika Gibrna memompa tubuhnya berkali-kali.
1 jam berlalu, membuat tubuh Adiba gemetar tak kuat lagi menyeimbangi permainan Gibran yang dari tadi tak kunjung berhenti.
"Sabar, sedikit lagi." Ujar Gibran ditelinga Adiba
Gibran menghentakkan tubuh Adiba untuk terakhir kalinya dan
"Argh!" Gibran telah melewati puncaknya dan mengeluarkan benihnya masuk menyeruak kedalam tubuh Adiba.
Adiba menghembuskan nafas lega, Gibran langsung terkulai lemas berbaring disamping Adiba hingga akhirnya mereka tertidur dengan dibalut selimut yang sama.
***
Keesokan harinya, Adiba terbangun ketika mendengar suara Adzan yang sangat menenangkan hatinya.
Betapa terkejutnya Adiba mendapati Gibran yang sedang tertidur memeluknya dalam keadaan sama-sama tidak memakai baju hanya ditutup selimut yang sama.
Pelan-pelan Adiba menyingkirkan tangan Gibran yang melilit tubuhnya, kemudian menutup tubuhnya dengan selimut. Adiba bergeser dan membuka kedua kakinya hendak turun dari ranjang.
"Auwww" Ringis Adiba karena sakit di daerah selangkangannya.
"Kenapa? apakah sakit? Tanya Gibran tiba-tiba terbangun karena mendengar suara Adiba.
Adiba hanya menunduk malu dan masih kecewa atas perbuatan Gibran semalam. Gibran mengerti dengan apa yang dirasakan Adiba, kemudiam Gibrab turun dari ranjang dan jongkok tepat di depan adiba yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Coba lihat!" Ucap Gibran
-Apa?dia ingin melihatnya? cihh memalukan sekali. Batin Adiba
"Ti_tidak tuan." Tolak Adiba
Tidak peduli dengan penolakan Adiba, Gibran membuka paksa kedua kaki Adiba kemudian geleng-geleng kepala.
-Kenapa sampai bengkak seperti itu. Batin Gibran yang menyadari kesalahannya.
Tanpa menunggu lama, Gibran menggendong Adiba dan membawanya ke kamar mandi.
__ADS_1
"Eh, eh mau apa tuan?" Adiba panik ketika Gibran tiba-tiba menggendongnya.
Gibran tidak menggubris ucapan Adiba.
"Turunkan tuan, saya bisa jalan sendiri." Teriak Adiba sambil menarik selimut untuk menutup tubuhnya.
Bukan di turunkan, Gibran malah menatap tajam membuat nyali Adiba menciut dan menunduk.
Gibran meletakan Adiba kedalam bath up dan menarik selimut yang menutup tubuhnya.Secepat kilat Adiba menutup bagian berharganya dengan kedua tangannya.
"Tidak perlu ditutup! aku sudah melihatnya. Aku bahkan sudah hafal setiap inci tubuhmu!"Tegas Gibran Kemudian berjalan menuju shower untuk membersihkan badannya sendiri.
Mendengar ucapan Gibran, membuat Adiba semakin kesal dan geram.
Adiba terbelalak matanya mendapati pemandangan yang tak biasa, Gibran berjalan dengan percya dirinya tanpa memakai sehelai benangpun.
"Astagfirullah, tenang Adiba. Sudah sah!" Monolognya menenangkan diri kemudian membersihkan seluruh badannya yang sudah bercampur keringat Gibran dan membasuh area sensitifnya menggunakan air hangat.
Gibran kembali ke kamar hendak mengambil kimono handuknya dan Adiba. Gibran tersenyum puas melihat bercak darah di sprai putih saat melewati ranjang.
Perbuatan baik apa yang telah dilakukannya dimasa lalu sehingga mendapatkan gadis muda yang masih terjaga kesuciannya. Gibran mendekati sprai itu dan mengambilnya, Gibran tidak berniat mencucinya. Dia malah berniat menyimpannya untuk dijadikan kenangan. (Taro aja di musium bang)
Gibran kembali ke kamar mandi membawa kimono untuk Adiba, Melihat Adiba yang sudah selesai dan hendak berdiri. Tanpa menunggu komando, Gibran langsung menghampirinya dan menggendongnya kembali.
Adiba hanya diam dengan perlakuan Gibran. Mau melawannya? buang-buang tenaga saja!
Gibran mendudukan Adiba ditepi ranjang.
"Pakailah! aku akan kembali sebentar lagi." Ujarnya
Adiba hanya menunduk, perasaannya bercampur aduk antara malu, kecewa dan senang melihat perlakuan Gibran yang lembut.
"Tidak! jangan percaya dengan aktingnya." Gumam Adiba sendiri kemudian melanjutkan kegiatannya memakai kimono dan mengganti pakaiannya.
****
Hay-hay para readers ku yang selalu setia mengikuti jejak kisah Cinta Adiba dan Gibran.
Aku sangat berterimakasih bagi setiap readers yg sudah memberikan like berharga dan sarannya. Ini novel karya pertamaku, mohon dimaklumi jika banyak kesalahan tanda baca atau tulisan.
Tinggalkan jejak kalian dengan like, dan komen ya agar lebih semangat lg up nya.
Terimakasih🤗🤗❤
__ADS_1
Salam Author.