PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Extra part (Kebahagiaan pengantin baru)


__ADS_3

Setelah makan kemarin, Gibran mengajak Adiba untuk menginap lagi dirumah utama menyambut kedatangan mama Alexa sekaligus merayakan pernikahan Anna dan Zein.


Entah bagaimana mereka bisa bertemu hingga sampai menikah, Adiba tidak mengerti. Tapi dia bersyukur Anna sudah membaik bahkan dia terlihat sangat bahagia bersama Zein.


Terlihat sangat jelas ketika Zein terus saja menarik pinggang ramping Anna untuk terus menempel padanya.


Adiba tidak cemburu, dia malah bersyukur karna teman baiknya Zein kini sudah mempunyai tambatan hatinya. Lagipula cinta Adiba hanya untuk Gibran seorang.


"Mama bersyukur kamu udah membaik sayang" Mama Alexa memeluk Anna, air mata kebahagiaan itu lolos dari matanya yang sayu.


Anna ikut menangis, membalas pelukan mama lebih erat.


Adiba, Gibran dan Zein ikut terharu melihat hal tersebut.


"Apa aku dilupakan sekarang?" Ucapan Gibran membuat semua orang menatap padanya.


Kemana sosok Gibran yang menakutkan?


Mama Alexa tersenyum


"Tentu tidak, mama tidak akan pernah melupakan jagoan kecil mama" Gibran ikut memeluk kedua wanita tersebut.


Sedewasa apapu seorang laki laki jika dihadapkan dengan ibu mereka, dia akan tetap menjadi jagoan kecilnya. Buah hati kecil yang selalu menenangkan hati dan fikiran seorang ibu.


Adiba dan Zein saling tatap. Mengerti jika kedua menantunya terabaikan, mama Alexa memanggil Zein dan Adiba.


"Kemarilah"


Perlahan Zein dan Adiba mendekat, ikut memangis bahagia dan memeluk wanita paruh baya yang menjadi orang tua satu satunya bagi mereka.


Kini mereka sudah menjadi keluarga.


"Mama sangat bahagia sekarang"


"Berbahagialah anak-anakku, dan berikanlah mama cucu yang banyak"


"Siap!!!" Jawab Gibran dan Zein dengan semangat.


Adiba dan Anna menatap suami mereka masing-masing, sedangkan mama Alexa tertawa mendengar jawaban dari putra dan menantunya.


"Hahaha, kalian ini. Yasudah ayo makan"


Mereka kini mulai makan malam, Adiba melayani suami dan mertuanya dengan sangat baik. Tak sekali kali mama Alexa melarang Adiva untuk tidak melayani karna kehamilannya, namun Adiba menolak. Dia tidak ingin memanjakan tubuhnya karna alasan hamil. Dia ingin beraktifitas aktif agar kelahirannya normal nanti.


Anna juga melayani Zein dengan baik, meski sepertinya Anna terlihat masih malu-malu apalagi ketika Zein terus saja menggodanya.


"Sedikit lagi" Ucap Zein, Anna menambah nasi keatas piring suaminya.


"Sedikit lagi" Anna mengulang hal yang sama meski sepertinya dia sedikit jengkel sambil menatap tak percaya.


"Mama?" Zein berucap tanpa ragu, nada bicaranya seolah seperti anak bungsu.


"Iya?"


"Bukankah untuk menjalankan tugas darimu butuh energi banyak?"

__ADS_1


Mama Alexa menautkan alis, kemudian melihat nasi yang setumpuk dipiring menantunya. Dia tersenyum sambil menatap Anna.


"Tentu saja,"


"Kau dengar?" Zein bertanya kepada Anna yang berpura pura tidak mendengar.


"Anna, kau juga harus makan banyak. Bukankah untuk melewati malam hari ini akan sangat melelahkan. iya kan Adiba?" Mama Alexa menatap Adiba yang pura-pura tidak mendengar.


Adiba membulatkan matanya.


pembahasan macam apa ini


Dia sangat tahu jika pembahasan ini sangat sensitif dan memalukan.


"Eh, hehe iya ma" Jawab Adiba kikuk.


Gibran tersenyum devil.


"Sayang, lalu kenapa kau tidak menambah porsi makanku agar aku lebih kuat dan bertenaga?" Adiba dan Anna melotot tak percaya.


Ada apa dengan pria pria ini


***


Disebuah rumah berlantai dua, seorang wanita cantik dengan rajin memasak makanan untuk suaminya. Wanita itu mengikat asal rambutnya keatas agar tidak mengganggu.


Sebelum suaminya tiba, Aisyah menata makanan itu dengan sangat rapi dimeja. kemudian kembali kekompor untuk membuatkan teh hangat. Karna cuaca sedang dingin dan hujan mungkin teh hangat akan sangat dibutuhkan.


Grep.


Aisyah terkesiap, dari wangi maskulin yang ia hirup dia sudah bisa menebak siapa pelakunya. Aksi Sekertaris Vino membuat bulu kuduknya meremang.


Sekertaris Vino membalikan tubuh Aisyah dengan pelan. Menempelkan kening mereka, kemudian menciumnya. Aksi suaminya kali ini sangat gila, Sekertaris Vino terus menjelajahi seisi mulut istrinya tanpa jeda. Aisyah yang belum biasa tentu kehabisan nafas, dia mendorong dada bidang Sekertaris Vino berharap suaminya melepaskan pautan mereka.


Vino membiarkan Aisyah menghirup udara, namun di detik kemudian dia menarik pinggang Aisyah agar lebih menempel padanya. Pria itu kembali mencium istrinya dengan penuh nafsu, tangannya ia keratkan membuat Aisyah tak berkutik.


"Hm suamiku,,,"


"Makanlah dulu" Ujar Aisyah di sela ciuman mereka.


Dia tidak habis fikir, kenapa suaminya seakan tidak lelah setelah seharian bekerja. Bukankah seharusnya dia mandi terlebih dahulu dan maka bersama.


Jika seperti ini jadinya, untuk apa ia lelah memasak tadi.


Hmmm Batin aisyah lesu.


Vino tak menggubris, pria itu semakin liar seolah sedang menyantap hidangannya.


"A-appa yang kau lakukan?" Aisyah berusaha lepas kala Vino mulai mencium bagian leher dan dadanya.


"Tentu saja menyantap hidanganku" Jawabnya tersenyum devil.


kemudian melepas tali kimono yang Aisyah kenakan, melemparnya kesembarang arah.


"Tap-tapi kita masih di dapur" Bisik Aisyah malu-malu ketika Vino mendudukannya di meja makan.

__ADS_1


"Lalu kenapa" Mendekatkan wajahnya, semakin dekat.


Semakin dekat membuat Aisyah semakin gemetar.


Tidak mungkin kan pria gila ini menginginkannya sekarang disini....


"Tidak ada siapapun disini" Ujarnya dan langsung melahap bagian sensitif Aisyah, membuat gadis itu terkejut bercampur nikmat.


"Sttt, Tuan"Pekik Aisyah.


Aisyah berusaha menolak karna ia sangat malu jika harus melakukannya di atas meja seperti ini. Apalagi dengan keadaan lampu terang.


Vino tak menggubris, pria itu seperti singa lapar yang baru mendapatkan jatah makan. Vino melahap semua yang menjadi haknya, menyesapinya hingga dalam.Lebib dalam kala tangan Aisyah mendorongnya.


Sekertaris Vino tersenyum devil.


Bibirmu menolah,tapi tangan dan tubuhmu mengharapkannya.Baiklah sayang!


Pria itu semakin gila memainkannya, Aisyah tak sanggup.Dia mengharapkan lebih dari ini. Pancingan ini memnuatnya tersiksa.


Aisyah mendorong Vino, membuka jas dan kemeja suaminya dengan kasar. Memainkan vino junior dan menyesapinya.


Niat ingin membuat suaminya terpancing, dia malah yang tidak kuat.


Dengan segera dia memasukan Vino junior kedalam lubang surgawi. Posisi Vino yang sudah telentang diatas meja memudahkan aisyah untuk melakukannya. Lagi, dan lagi.


Vino membulatkan mata melihat aksi istrinya yang ganas. Tapi erangan halus keluar dari bibirnya kala menikmati permainan istrinya yang memabukkan.


Aku menikmatinya.


"Teruskan sayang!" Ujar Vino dengan suara tertahan


Aisyah tak kuat, dirinya sudah menggapai puncak beberapa kali. Namun suaminya tak juga puas,


Vino mengambil alih, membalikan posisi mereka dan melanjutkan menyetir.


Aisyah semakin kewalahan, permainan Vino lebih kuat. Suaminya sangat gagah.


"Akhhh!!!"


Keduanya mencapai pelepasan secara bersama.


Vino menghujani bibit di dalam perut Aisyah, berharap buah hati mereka segera lahir dan menambah kebahagiaan diantara mereka.


"Terima kasih sayang" Vino mencium kening Aisyah, membopongnya masuk kedalam kamar dengan keadaan tanpa sehelai benang.


Aisyah yang setengah sadar menyembunyikan wajah didada bidang suaminya. Sungguh dia sangat malu.


Melakukan hal seperti itu di dapur, kini mereka berjalan tanpa dosa dengan keadaan seperti ini. Untung aaja mereka hanya berdua,


mau ditaro dimana wajahku jika aku melakukan ini di dapur ibu...


Vino meletakan Aisyah di bathup, membiarkan istrinya istirahat dan berendam.


Pria itu berjalan kearah shower, mengguyur badannya dengan air dingin dan mandi disana.

__ADS_1


__ADS_2