
"Hey kau gila ya!" Bentak Vino yang kesal dengan ulah Aisyah.
Karna ulahnya, wajah tampan dan jas yang melekat di tubuhnya kotor tersapu ice. Untung saja tidak ada orang lain disana, sehingga tidak ada yang dapat melihatnya dengan kondisi seperti itu.
Tidak berbeda jauh dengan Gibran, Vino sangat mengutamakan penampilan. Baginya, penampilan merupakan cerminan kehidupan bagi seseorang. Bisa dipastikan jika seseorang selalu memakai pakaian kusut atau tidak rapi hidupnya tidak teratur dan berantakan. Berbanding terbalik jika seseorang selalu berpenampilan rapi dan gesit bisa dipastikan ia seseorang yang rajin dan baik. Begitu pemikiran Vino.
"Ya aku emang gila!" Jawab Aisyah lebih tegas kemudian melengos pergi.
"Lagian sok kegantengan, cuman main ke pasar malem aja sampe pake jas segala!" Gumam Aisyah yang masih terdengar Vino.
Vino tersenyum melihat kemarahan Aisyah, meski kesal karna ulah gadis gila itu. Setidaknya dia mendapatkan jawaban dari uji cobanya. Vino berdiri kemudian berlari mengejar Aisyah.
Menariknya kesebuah tempat sepi dan langsung menciumnya dengan sigap.
Aisyah yang mendapat serangan tentu saja terkejut. Hatinya menolak keras, tapi tubuhnya justru malah menerimanya. Entah apa yang sedang terjadi padanya. mengapa hati dan tubuhnya tidak berjalan berselaras. Tubuh Aisyah terdiam Mengikuti alur yang dibuat Vino dibibirnya, di dalam keterdiaman pemikirannya melayang mencari alasan kenapa dirinya marah kepada pria tua yang senjatanya hampir pensiun ini.
Satu tangan, Vino gunakan untuk menarik pinggang ramping Aisyah agar lebih mendekat. kemudian tangan lainnya memegang wajah Aisyah agar tidak bergerak.
Lama menyesapi bibir manis yang ia rindukan hingga nafasnya tersengal sengal, Vino baru melepaskan.
Aisyah tertunduk malu dengan apa yang telah ia lakukan sambil menutup wajah dengan tangannya. Tidak ingin lagi melakukan hal yang salah, Aisyah berbalik kemudian pergi berlari meninggalkan Vino yang sama sama tertunduk mengatur nafas.
Vino yang baru sadar mendapati Aisyah sudah berlari jauh, ia berusaha mengejarnya namun nihil karna ini wilayah Aisyah membuat Vino tidak mudah menemukannya. Sepertinya gadis itu bersembunyi dan tidak ingin bertemu dengannya setelah kejadian tadi.
Tapi kenapa? Bukankah ini bukan hal pertama baginya? Aku pernah menciumnya ketika di Villa waktu itu.
Kepergian Aisyah membuat Vino merasa bersalah..
Ataukah aku yang terlalu mesum bagi gadis semuda dia. Maafkan aku.
Lelah mencari kesana kemari, akhirnya Vino memutuskan kembali ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah Aisyah dan benar saja Aisyah sudah sampai disana. Ditandai dengan sendal yang Aisyah pake tadi sudah bertender di sana.
Lebih baik aku memberinya waktu dan menemuinya lain kali.
Putusnya, kemudian melajukan mobilnya kembali kekediamannya.
Di dalam rumah, Aisyah langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya. Aisyah tidak langsung beranjak, dia menyandarkan tubuhnya di pintu sambil menatap langit langit kamar.
Ya tuhan, apa yang telah aku lakukan. Maafkan aku.
Lirih Aisyah sambil menyentuh bibirnya.
Aisyah kemudian bergegas ke kamar mandi dan membersihkan bibir tersebut, berharap bekas ciuman tadi bisa hilang dan membuat bibirnya kembali suci.
Lama menatap wajahnya di pantulan kaca, ponselnya berdering.
Tertera nama "om om" disana.
__ADS_1
Aisyah tidak ingin mengangkat telponnya, itu sangat memalukan. Apalagi jika dia hanya ingin membahas soal tadi.
TIDAK.
dan benar saja, tak lama kemudian. Vino mengirim pesan.
VINO
Kenapa kamu meninggalkanku tadi?
Tidak ada jawaban, Aisyah hanya membacanya.
VINO
Jika ini soal tadi, aku meminta maaf aku tidak bermaksud seperti itu.
Kan! Kan! bahas itu.
Akhh memalukan!!! Frustasi Aisyah malu sendiri melempar ponselnya ke atas kasur tanpa ada niat menjawab pesan Vino.
Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering, membuat Aisyah yang sedang tertunduk mau tidak mau menghampiri kasurnya.
VINO
aku akan bertanggung jawab.
"Hey apa yang dia katakan! aku tidak meminta pertanggung jawaban apapun darinya. memang apa yang telah dilakukannya padaku hingga dia harus bertanggung jawab seperti ini"
Aisyah terdiam memikirkan alasan dia marah tadi ketika Vino bersama gadis gadis SMA itu.
"Ndok kamu kenapa to?" Tanya Ibu aisyah yang sudah tiba di kamar putrinya.
"Eh eh tidak apa apa ko bu"
"Serius? Tadi kamu ngomong pertanggung jawab jawab gitu"
"Oh itu! dia tadi ngmong mau bertanggung jawab!" Jawab Aisyah jujur.
Ops, Matilah aku!!!
Aisyah maupun ibunya menutup mulut karna terkejut dengan ucapan Aisyah. Termasuk Aisyah yang terkejut dengan ucapannya sendiri.
"Masya Allah Ndok kamu hamil? berapa bulan? sama siapa?" Cecer Ibu Aisyah, beliau tidak memberi kesempatan sedikitpun kedapa Aisyah yang ingin bicara.
"Terus kapan dia akan bertanggung jawab?" Cerocos Ibu aisyah.
Melihat Aisyah yang juga terkekut dan tidak menjawab, ibu aisyah langsung berlari keluar menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Masya Allah bapa!!!!" Teriak Ibu Aisyah yang langsung berlari keluar mencari suaminya.
"Waduh!!!! ribet banget si!" Ucap Aisyah sambil mengusap wajahnya kasar.
Di tempat lain.
"Maaf tuan, besok saya meminta izin cuti" Ucap Vino kepada Gibran di dalam sambungan.
Setelah kejadia tadi, membuatnya tambah gusar. Vino memutuskan untuk segera menyelesaikannya.
"Kenapa? apa kau punya masalah besar?" Tanya Gibran yang khawatir, belakangan ini sekertarisnya selalu tidak fokus dalam bekerja.
"Tidak tuan, aku hanya ingin beristirahat" Lebih baik tidak mengatakan apapun, Vino tidak ingin merepotkan orang lain apalagi tuannya.
"Katakan!" Sarkas Gibran.
Gibran sangat yakin sedang terjadi sesuatu yang menimpa sekertarisnya, apalagi dia sampai meminta cuti. Hal itu bukanlah type Vino, dia sangat disiplin dan telaten. Mengesampingkan seluruh masalah pribadi untuk dirinya dan bekerja.
Jika Vino sampai memutuskan mengambil cuti, pastilah hal itu sangat besar.
Vino menghela nafasnya kasar. Dia sudah menyangka jika tuannya pasti tidak akan percaya begitu saja, kebersamaan mereka yang sudah bertahun tahun sangat mustahil jika keduanya tidak saling mengerti.
"Aku akan melamar Aisyah besok!"
"APA!"
Adiba yang sedang tidur dibawah kukungan tubuh Gibranpun ikut terperanjat mendengar ucapan suaminya yang naik 1 oktaf dari biasanya.
Tadinya Gibran akan melakukan ronde kedua olahraganya, tapi ketika ponselnya berbeding dan sekertaris Vino yang menelpon membuatnya menghentikan gerakannya.
Untung saja sudah selesai tadi, jika saja belum sama sekali akan ku bunuh kau! Sarkas Gibran.
"Ada apa suamiku?" Tanya Adiba khawatir, Gibran menatap istringa lekat lekat seperti menatap wajah gadis yang akan di lamar Vino.
Vino dapat mendengar suara nona Adiba, membuatnya tambah frustasi karna masalah ini semakin banyak orang yang tahu.
"Itu saja yang mau saya sampaikan tuan, terimakasih" Ucap Vino mengakhiri sambungan telepon.
Gibran masih terdiam, bagaimana bisa Vino tiba tiba ingin melamar Aisyah sahabat dari istrinya.
"Sayang, katakan apa yang kamu ketahui!" Tegas Gibran yang menduga jika Adiba mengetahui hal yang tidak diketahuinya.
"Maksudmu?" Adiba malah balik bertanya.
"Kau tidak mengetahui apapun?" Tanya Gibran sekai lagi untuk memastikan, Adiba yang tidak mengetahui apapun tentu saja menggeleng.
"Vino ingin melamar Aisyah besok!"
__ADS_1
"APA?!" Mulut Adiba ternganga saking tidak percayanya.
Bagimana bisa? bukankah Vino tidak begitu menyukai Aisyah hingga pernah mendengar Vino memanggil Aisyah dengan nama gadis gila.