PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Menikmatinya


__ADS_3

Tanggal pernikahan sudah di tetapkan, Jika saja Vino dapat memilih, dia pasti akan meminta besok hari untuk dapat menikahi gadis didepannya.


Melihat senyuman dan bibir itu membuat Vino semakin tak sabar.


Sial! jika saja bukan urusan perusahaan. aku pasti akan menikahinya sekarang juga. Geram Vino dalam hati.


Gibran yang menyadari ketidak sabaran Vino pun tersenyum.


Andai dulu aku mencintai istriku sebelum kita menikah. Aku pasti akan sangat bahagia seperti yang dirasakan dia sekarang. Gibran menatap istri kecilnya yang sedang berbincang-bincang dengan Aisyah dan ibunya.


Segulung rasa bersalah kembali melanda, ketika teringat perlakuan kasar terhadap Adiba dulu. Gibran sudah berjanji akan mengganti setiap air mata yang keluar dengan kebahagiaan. Bahkan dia akan menjaga Adiba meski nyawa taruhannya.


"Baiklah, saya permisi undur diri." Tutur Gibran sopan kepada orang tua Aisyah, Vino pun ikut berdiri kemudian menunduk hormat.


"Baiklah tuan, terimakasih banyak atas kehadiran anda." Jawab orang tua Aisyah santun, dia sudah mengetahui jika Gibran adalah atasan dari calon menantunya. dia pun sangat bangga karna putrinya menikah dengan pria dewasa dan mapan seperti Vino.


Apalagi mengingat putrinya yang hanya tamatan Aliyah. Tapi dia tidak malu, karna dia selalu mengajarkan kepada anak-anaknya jika Aklak itu paling utama.


'Inget ndok! orang berilmu tidak akan berguna jika tidak memiliki akhlak'


itulah yang sering ia ajarkan kepada anak-anaknya.


Gibran tersenyum, kemudian kembali menatap istri kecilnya.


"Sayang! "


"Hem?" Adiba menoleh kesumber suara, terdengar biasa saja namun sedikit malu karna Gibran dengan lantang memanggilnya dengan sebutan itu di acara seperti ini. Dirumah orang lain pula.


"Iya?."


"Ayo kita pulang."


"Eh iya." Adiba segera mensejajarkan kakinya. Gibran lebih dulu meraih tangannya dan membawanya keluar.


"Syah! Besok main ya!" Ujar Adiba sedikit berteriak.


Vino yang mendengar hal itu pun tersenyum, dia bisa bertemu dengan pujaan hatinya lagi besok. Ya, meski dia harus mencari alasan agar dapat ikut kerumah utama nanti.


"Inget! kalian harus di pingit dulu selama seminggu" Ucap Ibu aisyah yang mengerti senyuman dari calon menantunya yang tampan.


pingit?


Vino menautkan alis ketika ibu Aisyah berbicara sambil menatapnya.


Gibran dan Vino yang tidak mengerti saling pandang.

__ADS_1


Budaya macam apa itu!!


"Kalian tidak boleh ketemu selama seminggu sebelum acara akad" Adiba menjelaskan. mereka kini sudah tiba diteras rumah.


Oh. Gumam Vino enteng.


Sedetik kemudian


Vino menatap terkejut kepada Adiba seolah bertanya.


Apa!!! seminggu??? selama seminggu aku tidak boleh bertemu dengannya?


Adiba dan Aisyah tertawa menatap pria mereka yang diliput kebingungan.


"Baik pa, saya permisi. Terimakasih atas semuanya." Vino pamit ketika Gibran dan Adiba telah undur diri terlebih dahulu.


"Iya nak, berhati-hatilah"


Vino tersenyum kepada kedua orang tua tersebut, namun matanya tidak putus dari wajah itu. wajah yang akan ia rindukan selama seminggu sebelum pernikahan.


...---...


Satu minggu kemudian, setelah tanggal pernikahan ditetapkan Aisyah dan Vino melaksanakan saran orang tua mereka dengan baik. Ya, meski Vino harus melawan dirinya sendiri, tapi ia tetap melakukannya. Dia mengalihkan perhatiannya dengan fokus bekerja sedangkan Aisyah lebih asik menyiapkan acara pernikahan mereka ditemani dengan Adiba dan asisten Adiba.


"Ada yang anda butuhkan nona?" Asistennya menahan Adiba yang hendak berdiri.


"Arin, aku hanya akan mengambil kerudung itu" Adiba mengerucutkan bibirnya. Semenjak kedatangan Arin, dia tidak dapat beraktifitas lebar.


"Akan saya ambilkan" Adiba menghembuskan nafas kasar sedangkan Aisyah tersenyum melihatnya.


"Ingatlah Ba, tugasmu hanya satu yaitu melayani kingkong tuamu itu" Bisik aisyah kemudian diiringi tawa mereka.


Arin yang mendengar hal itu hanya menatap majikannya aneh, menurutnya Adiba sangat baik dan mandiri. Tapi kadang sangat usil dan kenakan kanakan.


"Ini nona" Arin memberikan hijab berwarna pink tereebut.


"Terimakasih"


"Arin, duduklah. " Aisyah merasa kasihan melihat Arin yang selalu berdiri disamping Adiba selama Gibran tidak ada.


Jika saja pria yang melakukannya, mungkin dia akan mengerti. tapi jika wanita yang melakukan tugas itu rasanya kasihan juga.


"Tidak nona terima kasih, saya disini saja" Jawab Arin sopan.


"Arin! duduklah. Ini perintah" Adiba sedikit meninggikan suaranya. Sekertaris ini sama sama keras kepalanya seperti Gibran.

__ADS_1


patuhnya kebangetan.


Arin menunduk kemudian duduk tepat di samping Aisyah yang sedang mencoba beberapa hijab yang dikirim Vino kerumahnya.


Malam hari segera tiba, Adiba memutuskan untuk segera pulang. Gibran akan sangat marah besar jika dirinya pulang lebih dulu dibanding istrinya.


Adiba kini sudah kembali ke apartemen mereka, mama Alexa telah kembali ke Italia bersama Anna kemarin. Adiba sedikit heran dengan sikap Anna belakangan ini. adik ipar selalu pulang terlambat dalam keadaan marah dan mabuk.


Hingga akhirnya mama Alexa memutuskan akan membawa Anna ke psikiater terbaik di Italia. Awalnya Adiba ingin ikut, tapi karna urusan kerjaan Gibran yang penting dan kehamilan bayi mereka membuat Adiba dan Gibran tidak bisa ikut.


grep.


Seseorang berbadan kekar memeluknya dari belakang. Orang itu terus saja menciumi area leher Adiba, bahkan tangannya sudah menjelajah kemana mana.


Adiba diam, dari wangi tubuhnya saja dia sudah mengetahui si pelaku.


"Sayang, hentikan!" Adiba sedikit membentak ketika tangan Gibran sudah ingin masuk kedalam kain segitinya.


Gibran tak peduli. dia malah semakin mempercepat gerakan tangannya, memainkan area favoritnya tersebut.


Lenguhan kembali terdengar ketika Adiba merasakan sesuatu yang berbeda dalam tubuhnya, darahnya sudah merasa panas akibat ulah Gibran. Lelaki ini!


Ingin sekali Adiba mengutuk pria yang selalu memberikannya kenikmatan ini.


Gibran tersenyum ketika Adiba semakin lenguh akibat gerakan tangannya. Kemudian membopong istrinya kedalam kamar, membuka semua baju itu dan melakukan pemanasan lagi.


Gibran tidak pernah membiarkan istrinya menahan sesuatu hal yang dia inginkan. dengan cepat dia merespon dan memberikan apa yang diinginkan istrinya.


"Are you oke baby boy? " Bertanya kemudian menciumnya dengan sangat lembut.


Ciuman itu sekarang turun, lebih turun dan turun hingga tepat di area sensitif Adiba. Adiba menggigit bibir ketika bibir Gibran menyentuh areanya.


Bermain-main disana, serta mengecupnya beberapa kali.


Gila! ini sangat gila!!


Adiba seperti orang yang sudah kehilangan akal, dia menginginkan hal yang lebih dari ini. Lebih dan lebih. Dia menekan kepala Gibran lebih dalam.


Gibran sengaja mengulur waktu, dia ingin tahu seberapa kuat istrinya bisa menahan syahwatnya.


Adiba yang sudah tidak sabar kemudian mendorong Gibran dan beranjak duduk diatas suaminya. Memulai penyatuan mereka dengan cepat. Nafasnya memburu, Adiba tidak kuat.


Dia terus menggoyangkan pinggulnya dengan cepat. Gibran sempat terkejut dengan ulah adiba yang lebih agresif darinya, tapi dia sangat puas dan senang.


Hingga pada akhirnya mereka berdua berada di puncaknya, Adiba jatuh tepat didada suaminya. Gibran membalikan posisi mereka mengecup kening istrinya yang sudah tertidur akibat lelah kemudian menyelimutinya.

__ADS_1


__ADS_2