
Mustahil jika dia mencariku. Gumamnya.
Adiba memutuskan kembali ke Apartemen dan segera menyelesaikan pernikahan mainannya.
Adiba membuka pintu apartemen, tidak ada siapapun disana. Adiba membersihkan badannya dan mengganti bajunya kemudian tertidur.
Pukul 7 sore, Gibran kembali ke apartemennya. Dia melihat adiba yang sedang tertidur lelap, tersungging senyuman tipis di bibirnya.
-Haha lihatlah! dia tidak akan bisa jauh dariku!.
-Sekertaris vino benar dia pasti akan kembali. Batin Gibran tersenyum
Gibran masuk kedalam kamar mandi membersihkan badannya yang lengket kemudian kembali. Dia tidak mendapati Adiba lagi disana, kemudian Gibran mengganti bajunya menggunakan celana pendek dan kaos oblong.
Dia berjalan menuju dapur, senyuman kembali muncul di wajahnya ketika melihat Adiba sedang sibuk memasak disana.
Gibran memeluk Adiba dari belakang. membuat Adiba yang sedang memasak terlonjak kaget.
-Setalah apa yang terjadi 2 hari lalu, tanpa tau malunya dia memelukku. Batin adiba geram
"Aku merindukanmu!" Ucap Gibran yang sudah menciumi area tengkuk Adiba.
Adiba melepaskan pelukan Gibran dan menghindarinya dengan menata makanan diatas meja. Gibran tersenyum dengan tingkah istri kecilnya yang sedang merajuk.
Gibran duduk dan menatap wajah cantik istrinya yang selama ini ia rindukan. dua hari dia menahan rindu dan amarahnya, menuruti nasehat Sekertaris Vino dengan membiarkan Adiba menenangkan dirinya sendiri.
"Makan malamnya sudah siap tuan, saya permisi" ucap Adiba yang langsung pergi
"Hey siapa yang menyuruhmu pergi hah?" Teriak Gibran membuat langkah kaki Adiba terhenti.
"Tidak ada" Jawab Adiba namun kembali melanjutkan langkah kakinya.
Gibran berlari mengejar Adiba dan mencengkram lengan Adiba.
__ADS_1
"Aku menyuruhmu temani aku makan sekarang!" Tegas Gibran.
"Maaf tuan, tapi tugas saya menyiapkan makan malam sudah selesai. Tidak ada tugas menemani makan bagi seorang pelayan" Jelas Adiba.
Gibran kembali tersenyum mendengar keluhan berkedok penjelasan itu.
"Siapa bilang? kau pelayanku! kau harus menemaniku makan malam dan melayaniku diatas ranjang setelah ini!" Ucap Gibran membuat Adiba kembali tersulut emosinya.
Adiba meminimalisir kemarahannya dan mencoba menenangkan dirinya.
"Baiklah tuan, cepat lakukan! akan lebih baik jika 3 bulan ini segera berakhir" Ucap Adiba yang langsung berjalan menuju meja tanpa menunggu Gibran.
"Hey apa maksudmu tiga bulan?"
"Bukankah setelah tiga bulan anda akan menceraikan saya? dan saya akan bebas dari pernikahan lelucon ini" Ujar Adiba meluapkan seluruh emosinya dan membuat Gibran marah.
"Beraninya kau" Ucap Gibran dan langsung menampar keras pipi halus Adiba.
Adiba tersungkur ke sofa, dia memegangi pipinya yang panas. Benteng matanya tak tertahan lagi, air matanya jatuh begitu derasnya.
"Maaf, maafkan aku." Ucap Gibran yang langsung memeluk erat tubuh Adiba.
Adiba tak lagi membantah, dia hanya menikmati sakit dipipinya dan menangis.
"Kumohon maafkan aku, jangan menangis lagi. Aku mohon, aku hanya tidak ingin jika kau berniat pergi dariku. Aku mencintaimu kumohon jangan pergi dari hidupku"
Ucapan itu lolos dengan sendirinya dari mulut Gibran, Gibran yang khawatir dan diliputi rasa bersalah menjadi tak terkontrol ucapannya.
Adiba tertegun, dia menatap wajah yang dua hari ini dia jauhi. Wajah itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya sambil memeluk erat tubuhnya.
"Apa yang kau ucapkan tadi?" Tanya Adiba memastikan.
Gibran melepaskan pelukannya ketika mendengar suara Adiba, dia menyentuh kedua wajah Adiba dengan lembut. Hati Gibran kembali tenang ketika melihat wajah Adiba tak lagi menangis.
__ADS_1
Dia kembali memeluk erat tubuh istrinya. Tak ingin jauh meski hanya sejengkalpun.
"Aku mencintaimu istriku" Ucap Gibran jelas di telinga Adiba.
Adiba yang mendengarnya terkejut, benarkah apa yang diucapkannya.
"Benarkah?"
"Kau mau aku gantung diri di menara eiffel untuk membuktikannya?" Tanya Gibran yang masih memeluk Adiba.
"Hm tidak tidak"
Adiba membalas pelukan Gibran yang menghangatkan tubuhnya. entah apa yang dirasakannya saat ini, dirinya nyaman dan damai berada di samping Gibran. Dirinya pun sangat bahagia mendengar ungkapan perasaan suaminya.
Lama mereka berpelukan Gibran membopong tubuh istrinya dan membaringkannya di ranjang. Dengan segera, Gibran pun ikut membaringkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh istrinya.
wajahnya ia benamkan di leher Adiba yang putih, menikmati wangi khas tubuh istrinya yang sudah lama dirindukannya.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku walau hanya sejengkal!" Tegas Gibran masih di posisinya.
-Baiklah, baiklah. Tuan muda yang berkuasa, aku yakin kau pasti ikut jika aku mau buang hajat nanti. Batin Adiba
Adiba hanya menganggukan kepalanya membuat Gibran lega.
"Tidurlah. Aku tidak akan mengajakmu berolahraga malam ini, aku hanya merindukanmu" Ucap gibran
Adiba menatap wajah tampan suaminya yang ia rindukan, tak dipungkiri dalam hatinya. Meski dia kesal dan benci terhadap tingkah suaminya dia tetap merindukan pria yang akhir-akhir ini mengisi hari-harinya.
Adiba berusaha melihat kebohongan dimata biru tersebut, tapi nihil. Hanya kejujuran dan keteguhan dimatanya tidak ada kebohongan didalamnya.
Gibran meraih ramote dan mematikan lampu kamarnya, kemudian mengecup kening istrinya.
"Good night sayang" Ucapnya kemudian tertidur.
__ADS_1
Wajah Adiba memerah seketika, jika saja lampu masih terang benderang akan terlihat jelas bagaimana merahnya wajah Adiba. Hati Adiba berbunga-bunga mendengar penuturan suaminya. Pertama kalinya dia memanggil Adiba dengan sebutan seromantis itu.
Adiba membalas pelukan suaminya kemudian tertidur.