
Gibran yang fokus melajukan kudanya, tidak dapat lagi menahan keinginannya untuk melihat senyuman yang terukir indah di bibir istrinya, kemudian Gibran menarik tali kekang yang otomatis membuat kudanya berhenti.
"Kenapa berhenti?" Tanya Adiba sambil berbalik badan menatap suaminya.
"Apa kau bahagia?"
"Tentu saja" Jawab Adiba menampilkan senyuman terbaiknya.
"Kalau begitu, aku harus dapat hadiah karna berhasil membuatmu bahagia!" Ucap Gibran membusungkan dada.
"Hadiah?" Adiba menaikkan satu alisnya sembari menatap wajah suaminya yang sedang tersenyum devil.
"Heem"
"Baiklah, tapi nanti ya. Aku tidak membawa hadiahnya sekarang." Telak Adiba.
"Kau tidak perlu menunggu nanti, karna hadiahnya sudah ada di depanmu!" Tegas Gibran
"Di depanku?" Adiba menunjuk dirinya sendiri karna bingung apa yang dimaksud dengan ucapan suaminya ini.
"Hemm" lagi-lagi jawaban khas keluarga Adelard keluar.
Adiba menatap lekat wajah suaminya yang melipat tangan dengan heran.
"Sayang... apa maksudmu aku tid--!"
"Shit!" Geram Gibran yang langsung ******* habis bibir merah Adiba, karna istri kecilnya tak kunjung mengerti.
__ADS_1
Adiba mendorong dada Gibran dengan sangat kuat, karna Gibran tiba-tiba saja menyerangnya.
"Itu maksudku!" Jawab Gibran sambil mengelap sisa aor liur di bibirnya membuat Adiba bergidik ngeri dengan manusia satu ini.
Kini, Gibran puas menatap bibir indah yang mengulas senyum karnanya itu. Kemudian, dia kembali melajukan kuda putihnya mengelilingi perkebunan.
Tak jauh dari posisi Gibran dan Adiba ada sepasang makluk sedang bersenda gurau. duduk disebuah rumput hijau yang terasa seperti tikar berbulu.
"Perkenalkan namaku Aisyah" Ucap Aisyah memperkenalkan dirinya.
"Aisyah,, nama yang cantik seperti orangnya." Jawab Alex seketika membuat Aisyah klepek-klepek.
"Aaaa mas Alex bisa aja." Ujar Aisyah sambil menepuk lengan Alex dengan sedikit kasar.
Alex menatap lengan yang tadi di tepuk gadis baru dikenalnya ini.
"Oh ya ampunnn.. maafkan aku, aku bahagia karna kau memujiku karna itu aku menepuk lenganmu" Jawab Aisyah tersenyum kaku.
Alex yang merupakan keturunan bule ini ternyata tidak mengerti sikap asli gadis indonesia seperti Aisyah yang bar-bar.
Alex mengerutkan keningnya heran.
"Apa seperti itu gadis indonesia jika mereka senang?" gumam Alex kecil menatap Aisyah yang masih tersenyum kaku.
"Bukan seperti itu! tapi dia memang gadis gila makannya seperti itu." Timpal Vino yang tiba-tiba datang dan duduk di tengah-tengah mereka.
Aisyah menatap tajam kearah Vino karna telah mengganggu kencan pertamanya dan mengatainya gila.
__ADS_1
Sedangkan Alex jadi salah tingkah karna kepergok mengobrol bersama Aisyah.
"Maafkan saya tuan, saya permisi" Ucap Alex sopan dan langsung enyah dari posisinya.
"Eh kau mau kemana?" Teriak Aisyah menatap kepergian Alex.
"Bekerja nona" Jawabnya singkat dan langsung melanjutkan aktifitasnya.
"Bagus! tau diri juga ternyata." Gumam Sekertaris Vino sambil tersenyum penuh arti.
Kepergian Alex membuat Vino aman dan mendapat kesempatan emas. Tanpa aba-aba, Vino mendekatkan dirinya kepada Aisyah.
Semakin mendekat di belakang Aisyah, sedangkan Aisyah masih cemberut sambil memainkan rumput-rumput dengan kasar tanpa menyadari gerak-gerik ketek paus Vino itu.
Seketika Aisyah merasa ada yang bergerak di area belakangnya dan kemudian langsung berbalik.
"Heh mau apa kau ketek paus??" Tanya Aisyah waspada sambil sedikit demi sedikit mundur.
Tapi Vino malah tersenyum membuat Aisyah semakin yakin sedang berada dalam bahaya. Apalagi Gibran dan Adiba sudah tidak terlihat dan seluruh bodyguardnya jauh dari posisi mereka, itu bisa membuat ancaman besar bagi Aisyah karna tidak bisa berlari dan berteriak.
Vino melangkah perlahan sambil menatap tajam tubuh Aisyah yang gemetar.
"Ketek paus!!!"
"Jika kau berani menyentuhku lagi, akan kubunuh kau pake,,,," Tangan Aisyah meraba-raba mencari senjata ampuh untuk melawan Vino sialan ini, sedangkan matanya sigap menatap Vino. Takut jika dia tiba-tiba datang dan menyerang.
"Pake pedang ini...!" Aisyah menodongkan sebuah kayu yang membuat Vino semakin tersenyum devil.
__ADS_1
-Dih bego banget si, udah jelas kayu dibilang golok." Batin Aisyah merutuki kebodohannya