
-ih bego banget si, udah jelas kayu dibilang golok." Batin Aisyah merutuki kebodohannya sendiri.
Sekertaris Vino seakan tuli, dia semakin mendekat, mendekat dan...
HEP!
"Aaaa!!" Jerit Aisyah sambil menutup wajahnya.
.
"Hey! Gadis aneh! kau kenapa?" Tanya Vino yang khawatir karna Aisyah tiba-tiba berteriak sambil menutup wajahnya. Padahal Vino hanya mau mendekatikanya bahkan belum sampai, dia tersenyum karna mereka hanya berdua dan berniat ingin menjahilinya.
Vino geleng-geleng kepala melihat tingkah Aisyah, niat ingin menciumnya lagi atas dasar hukuman, malah terkurung niatnya karna Aisyah menjerit.
-Huft, dasar gadis aneh. Bagaimana jika aku beraksi dengan juniorku. Batin Vino.
Aisyah terdiam mendengar suara Vino.
perlahan dia membuka matanya, menatap Vino yang sedang berusaha menyadarkannya kemudian menatap seluruh tubuhnya.
-Dia tidak menerkamku?. Batin Aisyah menatap aneh sekertaris Vino.
"Kau terlalu berharap padaku, sehingga kau berhayal aku memelukku bukan?" Tebak sekertaris Vino yang mengerti keanehan gadis ini.
"Ck, percaya diri sekali" Sangkal Aisyah.
"Haha kau itu terlalu bodoh untuk berbohong" Ucap vino menyentil dahi Aisyah kemudian beranjak pergi.
"Auww, sakit tau!" Aisyah mengelus-ngelus dahinya.
Kemudian beberapa saat dia baru menyadari posisinya, dia mengedarkan pandangannya menatap perkebunan luas dan hijau.
Aisyah dibuat merinding ketika tidak ada siapapun di tempat itu, kemudian dia berlari mengejar Sekertaris Vino.
"Hey tunggu...!" Teriak Aisyah, tapi sekertaris Vino tak menghiraukannya. Dia malah mempercepat jalannya.
Sesampainya,
"Mobilnya sudah siap tuan" Ucap Vino ketika sudah sampai di tempat istirahat Gibran dan Adiba.
Adiba menelik wajah Aisyah yang peluh oleh keringat.
"Kau kenapa?" Tanya Adiba heran kepada sahabatnya.
__ADS_1
Adiba khawatir jika Sekertaris Vino sampai menyentuh sahabatnya. Karna bagaimana pun Aisyah adalah sahabatnya, Adiba tidak akan membiarkan suatu hal buruk menimpa sahabatnga.
Aisyah tidak menjawab, dia masih mengatur nafasnya yang masih memburu akibat mengejar ketek paus tadi.
Tak kunjung mendapat jawaban, Adiba menatap tajam sekertaris Vino sedangkan Gibran hanya diam memerhatikan tingkah istrinya dengan cool.
"Kau tidak menyentuhnya kan vin?" Hardik Adiba membuat Vino menghembuskan nafasnya kasar.
Vino sudah menyangka jika Adiba pasti berfikir dia sudah menyentuhnya karna kondisi Aisyah yang tersengl-sengal ditambah keringat.
"Tidak mungkin saya menyentuhnya nona, malah dia yang berlari mengejarku. Bahkan dia berhayal dipeluk olehku tadi." Jelas Vino membuat Aisyah membulatkan matanya.
-Sialan! ketek paus sok tampan! akan ku cabik-cabik habis mulut lebermu itu!. Batin Aisyah geram.
Adiba mengelengkan kepalanya, dia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Dia yakin pasti hal yang seharusnya tidak dia ketahui sekarang.
"Bagus, ayo kita berangkat!" Ucap Gibran menyudahi penyelidikan istrinya kemudian beranjak meninggalkan tempat tersebut diikuti oleh Adiba, Aisyah, Sekertaris Vino dan para bodyguardnya.
...---...
Lama menempuh perjalanan, membuat Adiba sampai tertidur di dalam mobil. Gibran mendekap istri kecilnya kedalam pelukannya.
Kebahagiaannya yang baru ia dapatkan, tak akan ia biarkan hilang. Penembakan terhadap ayah Adiba selalu menghantui fikirannya.
Gibran memikirkan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya dan meminta maaf terhadap istrinya. Adiba berhak tau penyebab kematian ayahnya.
"Maafkan Aku" Lirih Gibran sambil mengecup lembuh kening istrinya.
Lama menempuh perjalanan, akhirnya mobil mewah yang ditumpangi Gibran dan Adiba telah sampai di apartemennya.
Gibran membopong tubuh Adiba dengan sangat hati-hati dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Gibran mendekati istri yang teramat dicintainya, kemudian membelai pipinya. Wajah Adiba yang damai selalu mengingatkan kejadian penembakan tersebut membuat Gibran tidak tenang.
"Aku janji akan menjagamu meski nyawaku taruhannya" Ucapnya kemudian mengecup lama dahi Adiba.
Puas memandangi wajah Adiba, kini Gibran beranjak ke kamar mandi membersihkan badannya kemudian ikut menyelami alam mimpi bersama istrinya.
Ditempat lain.
"Aku bisa sendiri!" Sungut Aisyah ketika Sekertaris Vino mencoba membantu membawa tas yang berada di pundaknya.
"Yasudah!" Jawab Vino dan langsung melepaskan beban tas tersebut dan membuat Aisyah meringis karna beratnya.
__ADS_1
"**Auw berat tau!"
"Tadi bilang, tidak ingin dibantu**"Jawab Vino sinis kemudian berjalan mendahului Aisyah dengan gagah dan senyumnya menemui kedua orang tua Aisyah yang sudah menunggu di depan pintu.
"Ish dari cari muka!" Gumam Aisyah yang geram terhadap Vino.
"Assalamualaikum, selamat sore"
"Wa'alaikum salam, wah ndok
Ternyata iki bos anyar kamu.
ganteng buanget" Jawab Ibu Aisyah yang terpana dengan ketampanan sekertaris Vino.
Sekertaris Vino melongo karna tidak mengerti bahasa yang wanita paruh baya itu ucapkan, tapi seketika Sekertaris Vino membusungkan dada mendengar kata ganteng.
"Hah? bos ku?" Aisyah menatap ibunya kemudia beralih menatap sekertaris Vino.
Sekertaris Vino mengedipkan mata ketika Aisyah menatapnya dengan jengkel.
"Bosku iki wong edan, dibilang tampan" Jawab Aisyah malas kemudian berlalu masuk meninggalkan sekertaris Vino.
"Boski iku wongdan?" Sekertaris Vino mengulangi kata yang diucapkan Aisyah membuat kedua orang tua Aisyah tertawa.
"Tulung mlebu, ngaso dulu. Ibu bakal nggawe kopi" Ucap ibu aisyah sopan.
Sekertaris Vino semakin melongo, tidak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan. Dia memutuskan segera pergi daripada dibikin gila karna tidak mengerti apa yang mereka ucapkan
"Ah tidak-tidak terima kasih. Saya akan segera pergi."
"Yowes, ati-ati"
"Assalmualaikum"
"Wa'alaikum salam"
Ibu dan bapa Aisyah tersenyum melihat kepergian sekertaris Vino yang menurut mereka cocok mendampingi pitrinya.
Sedanngkan di dalam mobil, sekertaris Vino memijat pelipisnya. Dia merasa sangat lelah hari ini, ditambah ucapan yang tidak dia ngerti tadi.
"Boski iku wongdan?" Sekertaris Vino mengulang-ngulang kata yang Aisyah ucapkan tadi, dia penasaran apa artinya. Kemudia dia meraih handphone nya dan mencarinya di google dan menekan kata TRANSLATE.
**Bos ku itu orang gila😂
__ADS_1
"Sialan! beraninya dia mengataiku gila**" Monolognya.
Tetapi tak lama kemudian dia senyum-senyum sendiri mengingat kejadian dikamar mandi tempo hari membuatnya ingin merasakan kembali bibir manis itu lagi.