
Adiba kembali kemeja makan, melanjutkan sarapannya tanpa Gibran.
Setelah selesai, Adiba kembali beranjak menuju kamarnya. Tubuhnya masih lelah akibat kingkong tua itu saat ini. Menyumpahi dia encok malah dirinya sendiri yang encok sekarang.
"Huft" Adiba membuang nafasnya kasar sambil mendudukan dirinya diatas sofa.
Baru berapa menit dirinya beristirahat diatas sofa, ponselnya berdering tanda panggilan masuk
tertera nama Suamiku disana
"Tidakkah bisa kau membiarkanku istirahat walau satu menit saja kinkong tua?" Gumamnya kesal.
"Menyebalkan!"
Dengan malas Adiba menganggkatnya.
"Halo?" Tanya Gibran langsung setelah sambungan tersambung.
"Iya?"
"Sedang apa?" Tanya Gibran
"Duduk" Jawab Adiba
"Itu saja?" Tanya Gibran heran
"Hemm" Jawab Adiba singkat
-Sial! berani sekali dia mengacuhkanku, akan kuberi pelajaran kau nanti! Batin Gibran tersenyum penuh arti.
"Antarkan bekal makan siangku nanti siang! Pak Li akan menjemputmu." Ucapnya
"Baiklah" Jawabnya malas.
"Ingat!! jangan terlambat atau.."
"Atau aku akan memakanmu" Jawab Adiba yang memotong ucapan Gibran membuat Gibran tertawa terbahak-bahak
"Buahahahah kau sudah pintar sekarang rupanya." Jawab Gibran.
"Yasudah dandan yang cantik!" Ujarnya lagi dan langsung menutup sambungan telponnya.
"Apa katanya? dandan yang cantik? ih dulu saja aku di bentak gara-gara berpenampilan rapi." Gumamnya sendiri.
"Tapi baiklah aku akan melihat reaksimu tukang memerintah!" Monolog Adiba sendiri.
***
Siangnya, Adiba sudah memasak makanan favorit suaminya dan tiba di kantor diantar pak Li. Adiba tertegun melihat kantor yang kokoh menjulang tinggi.
Adiba melangkahkan kakinya dengan kotak makan di tangannya.
"Permisi, saya mau bertemu dengan tuan Gibran" Ucap Adiba ketika sampai di ruang resepsionis.
Dua orang wanita tertebut saling melempar pandangan. Mereka tersenyum mengejek ketika melihat penampilan Adiba dari bawah sampai atas.
__ADS_1
-Cantik si tapi gak modis. Gumam mereka berdua
Adiba menghiraukan tatapan mereka, matanya fokus menatap arloji yang melingkar di tangannya.
-10 menit lagi. Batin adiba cemas.
"Saya sudah terlambat, dimanakah ruangannya?" Adiba bertanya kembali.
"Apa sudah ada janji sebelumnya?" Tanyanya sambil tertawa mengejek.
"Tidak, tapi beliau memintaku mengantar bekal makan siangnya" Jelas Adiba
kedua wanita itu tertawa melihat Adiba yang memperlihatkan kotak makanannya. Tuan Gibran Adelard Wijaya, pria tampan dan kaya mana mungkin meminta seseorang mengantar bekal makan siangnya. Makanan yang tersedia dikantin ini lebih enak dan mewah dibanding makanan yang berada di dalam kotak itu.
Lagipula, mereka tidak pernah melihat tuannya membawa atau memperkenalkan kekasihnya kemuka umum.
Adiba menggebrak mejanya, membuat kedua wanita itu melolot kearah Adiba.
"Beraninya kau!" Tunjuk salah satu wanita itu.
Sekertaris Vino yang melihat kegaduhan disitu, segera menghampirinya. Matanya langsung tepat sasaran melihat keberadaan Adiba disana.
"Nyonya? Silahkan anda sudah ditunggu tuan muda" Sekertaris Vino mempersilahkan.
-Nyonya? Gumam kedua wanita tersebut sambil meremas bajunya.
Sekertaris Vino mempersilahkan Adiba masuk kedalam lift khusus, tubuhnya berbalik sebentar menatap tajam kedua resepsionis tersebut.
"Matilah aku"
*
"Telat 2 menit" Ucap Gibran yang melihat kedatangan Adiba.
"Huft, ini tidak adil" Dengusnya kesal sambil mengatur nafasnya yang masih terpongoh-pongoh akibat berlari tadi karna tidak ingin telat
Gibran mendekati Adiba, mengambil alih kotak makan dan meraih tangan Adiba. Membawanya duduk di sofa, Adiba hanya mengikuti langkah Gibran.
Adiba dan gibran kini sudah duduk berdampingan di sofa. Gibran sengaja mengajak Adiba duduk terlebih dahulu karena menyadari Adiba yang masih kelelahan akibat berlari.
"Apanya yang tidak adil?" Tanya Gibran sambil menyeka keringat Adiba.
Membuat pipi Adiba memerah seketika karna jarak mereka sangat dekat sekarang.
"Hm tidak" Jawabnya dan langsung beranjak.
Gibran mencekal dan menariknya membuat Adiba duduk di pangkuannya, Adibapun refleks menyimpan tangannya di pundak Gibran membuat mereka seperti berpelukan sekarang.
"Kau mau kemana?"
"Pulang?"
"Siapa yang menyuruhmu pulang hah?" Bentaknya kesal
Adiba menunduk.
__ADS_1
"Suapi aku" Titahnya
"Hm baiklah"
Tanpa melepas Adiba dari pangkuannya, Adiba menyuapi Gibran dengan berhati-hati. karena posisinya ini sangat sulit.
"Aku sudah sangat lapar karna telalu lama menunggumu\, gunakan tanganmu agar lebih ce******pat!"
"Hah?" Ucapan Gibran membuat Adiba melotot penuh.
"Mau membantah? Tanyanya.
"Tidak" Jawab Adiba cepat dan langsung mengambil nasi dan menyodorkan kemulut Gibran dengan tangannya
"Bagus" Dengan senang hati Gibran menerimanya.
Adiba geram dengan tingkah Gibran yang berlebihan, tidak hanya mengambil makanan ditangannya tapi Gibran juga menjilati tangan Adiba dengan sengajanya.
"Aku turun saja ya, kau pasti pegal karna aku dipangkuanmu" Ucap Adiba di sela makan Gibran karna tidak nyaman dengan posisinya.
"Apa pegal? kau meremehkan tenagaku? Tubuhmu itu seperti kapas! ck enteng sekali." Ucap Gibran dengan sombongnya.
Adiba hanya memutar bolanya malas.
CUP
Tiba-tiba Gibran mencium bibir Adiba sekilas.
"Itu ucapan terimakasih karna kau telah menemani makan siang hari ini" Ucapnya kemudian melanjutkan ciumannya.
Adiba yang tadinya hanya diam, sekarang mulai menyeimbangi permainan Gibran. Semakin lama mereka berpautan, semakin membuat nafas mereka memburu. Ciuman yang tadinya lembut kini berubah saling menuntut.
Gibran menggendong Adiba kedalam kamar peristirahat yang terdalam diruangannya.
Adiba menahan tangan Gibran ketika ingin mambuka kancing bajunya.
"Apa tidak apa-apa kita melakukannya disini?" Tanya Adiba pelan tatapi Gibran malah menciumi seluruh tubuhnya tanpa henti.
"Memangnya kenapa?" Tanya Gibran menghentikan aksinya dan menatap wajah cantik istrinya.
"Aku takut kau di pecat nanti" Ucap Adiba terbata-bata
Ucapan Adiba membuat Gibran kembali tertawa, perutnya sampai sakit mendengar ucapan aneh istri polosnya.
-Siapa yang akan berani memecat seorang Gibran Adelard Wijaya, Perusahaan ini milikku! Mau aku berhubungan denganmu meski sebulan sekalipun tidak akan ada yang berani menggangunya apalagi memecatku.
Ungkapan Gibran dalam hati.
Sudah puas tertawa Gibran kembaki menghujani Adiba dengan ciuman tanpa menjawab ucapan Adiba.
Adiba yang tidak dihiraukan ucapannyapun kesal. Dia mendorong dada bidanh suaminya yang sibuk menjamahi tubuhnya.
"Diamlah! ini hukuman untukmu karna kau telat tadi" Gibran malah mencekal tangan Adiba dan menaikkannya keatas kepala, sedang tangan lainnya sudah entah jauh berada dimana.
"Huft" Dengus Adiba pasrah.
__ADS_1
Kegiatan semalam yang membuat encok badan Adibapun kembali terulang, belum sempat sembuh badannya akibat semalam dirinya harus kembali berolahraga. Adiba heran dengan Gibran yang tak ada kata puas dan lelahnya saat ini.