
Satu minggu kemudian, Gibran dan Adiba kembali menjalankan aktifitas mereka dengan penuh hangat. Kini, Gibran lebih pengertian dan tidak terlalu mengekang Adiba. Gibran membebaskan Adiba untuk pergi keluar dengan syarat ditemani oleh sekertaris pribadinya.
Sama halnya dengan pengantin baru Aisyah dan Vino. Mereka kini sudah tinggal dirumah pemberian Gibran dan hidup bahagia disana. Sekertaris itu juga sudah kembali bekerja 3 hari setelah pernikahan mereka.
Tidak seperti dulu yang menyeramkan, kini kedua pria itu selalu datang dengan wajah berseri bahkan tak segan mereka selalu tersenyum jika tiba di kantor dan menjawab sapaan para karyawannya.
Para karyawan karyawati saling tatap melihat perubahan atasan mereka. Namun tak mau ambil pusing mereka hanya bergidik ngeri berharap jika ini bukanlah tanda-tanda datangnya bencana.
Sekertaris Vino sudah tiba diruangannya. Dia mengambil benda pipih miliknya dan menghubungi seseorang. Padahal baru satu jam dia meninggalkan istrinya dirumah, dia sudah sangat rindu.
Baru saja Aisyah ingin mengganti baju, dan bertemu dengan Adiba. Deringan handphonenya langsung terdengar, wanita itu memutar bola matanya malas.
Dia sangat lelah, Si ketek paus sialan itu ternyata benar-benar mesum. Tak hanya itu dia juga sangat gila dan tidak berakal!
Setelah tinggal di rumah baru mereka, dia hanya dikurung dikamar. Menunggu kedatangan Vino dan menyambutnya. Pria itu selalu saja meminta hal 'itu' pagi siang sore dan malam. Badan Aisyah bahkan seperti tidak terbentuk lagi.
"Ya ada apa?"
"Hm sayang! kau lupa janjimu ternyata!"
"Iya aku ingat, ada apa suamiku?" Aisyah berusaha bersikap manis dan memenuhi seluruh permintaan suaminya demi bisa keluar dan bertemu dengan sahabatnya.
"Pergilah dengan nona Adiba dan jangan lupa menggunakan kartu yang kuberikan!"
"Kami akan menyusul nanti?"
"Hm kami?"
"Iya aku dan tuan Gibran akan menyusul kalian."
Pupus sudah! pergibahan akan sirna jika ada lelaki ikut nimbrung.
"Baiklah"
Sekertaris Vino mengalihkan panggilan ke video call hingga menampakan wajah istrinya yang cantik.
"Ada apa lagi?"
"Buka bajumu!"
Hey kau gila ya!!!
Aisyah melotot tak percaya.
"Kau lupa janjimu sayang?" Aisyah tak menjawab. dia sangat benci kata itu.
"Baiklah! aku tarik kata-kataku!"
"Eh eh jangan! kumohon jangan kurung aku lagi" Aisyah memelas membuat Sekertaris Vino tersenyum tipis.
*Aisyahku memang cantik.
"Baik! baik*!" Aisyah sedikit membentak ketika wajah suaminya terus saja menatapnya tanpa ucap.
Perlahan dia membuka hijab dan membuka kancing bajunya hingga menimbulkan dua gundukan besar yang menyembul dari balik kain bra.
Ini gila!!
Aisyah memejamkan mata ketika baju nya sudah terlepas, dia sangat malu. Meski Vino sudah melihat dan mencicipinya, namun mereka melakukan hal itu dalam kegelapan tidak sedang terang seperti ini.
"Buka!"
Hah? kau gila ya!!!!!
Aisyah melotot. Tidak! ini tidak benar. Bagaimana jika tiba-tiba ada orang masuk keruangan dan melihat dirinya.
"Baiklah akan kucabut kat"
"Oke!"
bagus!
Aisyah sangat benci situasi ini, kemudian dia memikirkan untuk balik mengerjai suaminya. Dia tersenyum seksi sambil menggugit bibir bawahnya, mengelus halus kain pink tersenyum.
Sial! Sekertaris Vino menelas salivanya.
__ADS_1
Berniat mengerjai istrinya malah dia sendiri yang balik dikerjai dan terpancing.
Aisyah membuka kain bra tersebut dengan pelan, meremas bagian itu dengan tangannya sendiri dengan gaya yang sangat seksual.
Aisyah tersenyum penuh kemenangan ketika melihat wajah suaminya yang berkeringat, matanya bahkan tidak berkedip sedetikpun. Dengan sengaja dia membuka seluruh pakaiannya dan menampakan dengan jelas bagian sensitifnya, mengelusnya lembut.
Haha rasakan kau pria mesum!!
Sukses membuat suaminya terangsang, dengan sengaja dia langsung menutup telponnya tanpa ijin.
"Sial! kau harus membalasnya nanti!" Ujar Sekertaris Vino dengan nada yang sangat berat. Dengan segera dia berlari kearah toilet dan mengunci pintu.
...---...
Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Gibran dan Sekertaris Vino sudah bersiap untuk pulang. kedua pria itu pulang dengan sangat terburu-buru karna ingin cepat bertemu dengan istri mereka.
Lama menempuh perjalanan, hingga akhirnya mereka tiba ditempat yang telah disampaikan Adiba sebelumnya.
Gibran berlari menghampiri istrinya dan langsung memeluknya membuat Adiba yang sedang tertawa lepas bersama seorang wanita itu terkejut. Ya, wanita itu adalah Aisyah. Mereka bertemu dan bermain disebuah mall besar yang terdapat dikota tersebut.
Berbeda dengan sepasang pengantin baru itu, Aisyah menunduk ketika mendapati sosok pria dibalik tubuh tuan Gibran. Sosok itu sangat menyeramkan, dia sepertinya sedang marah.
Aisyah semakin berjaga ketika suaminya mendekat dan langsung merangkum pundaknya.
"Sekertaris Vino, kau ikut juga?" Tanya Adiba yang juga terkejut akan kedatangan Sekertaris Vino.
"Iya nona" Jawabnya ramah dengan tangan yang masih merangkul pundak Aisyah.
"Hey! suamimu itu sebenarnya aku atau dia?" Gibran berkata sambil menatap Adiba yang kebingungan.
Ais kenapa ini? aku kan hanya bertanya.
"Hm maafkan aku suamiku, aku hanya basa basi saja tadi" Adiba menarik tangan suaminya agar memeluknya.
Masa bodo dilihat orang! yang penting kingkong tua ini tidak marah.
Gibran dengan sengaja kembali memeluk istrinya dan menyuruh Sekertaris Vino pergi dengan arahan tangannya.
Sekertaris Vino menunduk kemudian pergi sambil menarik istrinya.
"Lepasin!"
Sekertaris Vino membawa istrinya ketempat yang lebih sepi. Dia langsung mendorong istrinya hingga terpojokan.
"Kau harus menerima hukumanmu!" Sekertaris Vino membuka paksa kancing baju Aisyah dan langsung menyerang gundukan besar yang tadi menggodanya.
Aisyah kalah cepat, dia melenguh ketika lidah Vino sudah bermain diareanya. Aisyah selalu saja terbawa oleh suaminya sendiri.
Kenikmatan itu sirna, suaminya tiba-tiba menyudahi aktifitas mereka. Aisyah menatap wajah suaminya seolah bertanya 'ada apa?'
"Kita lanjutkan dirumah!" Membenarkan baju Aisyah kemudian menarik tangannya untuk bertemu Tuannya untuk ijin pulang.
Belum sempat sampai, seseorang memanggil nama suaminya
"Vino?"
Aisyah menarik tangan dan melepas genggaman mereka ketika melihat siapa yang memanggil nama suaminya. Sekeratris Vino yang menyadari ketakutan istrinya dengan segera memeluk dan merangkulnya.
Vino terdiam hingga gadis itu tiba didepannya.
"Hai, apa kabar? kau disini juga? " Vino tak menjawab. Dia malah menoleh kepada Aisyah seolah menunjukan jika 'Aisyahku ada disini'
Aisyah tertunduk, dia tidak berani menatap Anna. Dia merasa sangat bersalah padanya. Meski kali ini gadis itu terlihat baik-baik saja, namun Aisyah tau pasti hatinya sakit melihat pria yang dicintainya bersama wanita lain
tapi aku istrinya sekarang.
Anna tersenyum kepada Aisyah, tangannya terangkat berusaha mengelus lengan Aisyah namun tak sempat karna Vino lebih dulu menghalangi dan membuang kasar tangan anna hingga anna terjatuh
"Tolong jaga sikap anda nona!" Vino naik pitam ketika Anna berusaha melukai istrinya.
Gibran dan Adiba yang mendengar teriakan Vino pun berlari dan menghampiri mereka.
"Beginikan sikap seorang sekertaris jenius itu terhadap perempuan?" Ucapnya sinis.
Pria itu membantu Anna berdiri.
__ADS_1
"Zein?" Adiba tak percaya, setelah kepergiannya bersama Zein yang tak jadi itu dia tidak pernah lagi bertemu dengan Zein karna dia bilang akan pergi ke Italia dan sekarang pria itu ada disini bersama Anna?
Zein tersenyum menanggapi keterkejutan Adiba. Dia mengelus lengan Anna yang kotor dan menatap tajam pria yang berani mendorongnya.
"Dia berusaha menyentuh istriku!" Ucap Sekertaris Vino.
"Lihatlah! kejeniusanmu bahkan sudah sirna sekarang" Jawab Zein diiringi tawa. Anna tertunduk melihat kemarahan Vino.
Zein menarik pundak Anna agar lebih dekat padanya, berjalan beriringan kepada Gibran dan adiba.
"Maafkan kami terlambat kakak ipar"
"Kakak ipar?" tanya Adiba dan Vino bebarengan, Zein tersenyum sinis. Sedangkan Gibran menghembuskan nafasnya kasar.
"Maafkan aku karna lupa memberitahumu jika Anna sudah menikah" Gibran menjelaskan.
Adiba semakin dibuat terkejut.
Menikah? bukankah Zein mencintaiku maksudku tidak mencintai Anna dan Anna mencintai sekertaris Vino.
Keterkejutan dan pertanyaan-pertanyaan Adiba mewakili perasaan Sekertaris Vino.
"Aku sudah memutuskan untuk tidak lagi mengerjar orang yang tidak ditakdirkan untukku dan berusaha menerima cinta suamiku" Anna buka suara.
Dia menjelaskan untuk membuktikan jika dia benar-benar sudah melupakan Vino. Zein tersenyum, perjuangannya selama ini akhirnya tidak sia-sia.
Zein mengetahui jika model cantik dan seksi itu mencintai Sekertaris sialan Vino. Tapi dia sudah menikah dan membuatnya ada kesempatan untuk menikahinya hingga nekat menemuinya ke itali.
dengan kegigihan dan kerja keras nya membuat Anna dan mama Alexa luluh dan menerima kamaran Zein.
"Alhamdulillah jika seperi itu" Adiba berucap sambil memeluk Anna.
Aisyah pun turut terharu dan semakin bersalah karna Vino sudah mendorong Anna tadi.
"Anna maafkan aku!" Lirih Aisyah, Aisyah tertunduk.
"Aisyah! kau tidak bersalah. Tapi akulah yang salah, aku mengerti kemarahan Vino itu karna kekhawatirannnya padamu" Anna menjelaskan kemudian memeluk Aisyah.
"Tapi tak akan kubiarkan kau berbuat itu lagi pada Annaku!" Zein menatap tajam Sekertaris Vino yang hanya terdiam. Merasa bersalah namun ia tetap diam dan membiarkan Zein bicara.
"Atau nyawaku penggatinya!" Zein menarik kerah baju Vino membuat semua wanita panik.
Gibran memisahkan dengan tegas.
"Sudah, sudah! Zein, Vin aku ingin kalian tidak bertengkar"
Kedua pria itu diam tak menjawab.
"Apa kalian tidak dengar?" Gibran bicara dengan sangat tegas.
"Ya tuan"
"Ya kakak ipar"
Adiba, Aisyah dan Anna tersenyum melihat kepatuhan Zein dan Vino kepada Gibran.
"Yasudah kita makan dulu disini sebelum pulang" Gibran menarik Adiba dan duduk disalah satu meja yang cukup besar.
Vino pun ikut dengan menggandeng tangan Aisyah dan ikut duduk disamping Adiba tak lupa juga dengan Zein dan Anna. Diam-diam Zein mencuri curi cium pipi Anna membuat wajah Anna memerah.
"Zein!"
"Kenapa? aku kan sudah menjadi suamimu" Bisik Zein yang terdengar oleh Adiba karna memang posisi mereka berdekatan.
Adiba tersenyum penuh syukur menatap pemandangan indah didepannya, ketentraman dan penuh kebahagiaan. Dia sangat bersyukur karna masalah demi masalah sudah selesai.
Adiba menatap Gibran yang tersenyum padanya. Aku sudah mendapatkan cinta suamiku.
Kemudian menatap dua pasang pengantin baru yang sedang bermanja didepannya....
Memang benar, tuhan tidak akan memberikan cobaan diatas kemampuan hambanya. Berusahalah menerima apa yang sudah diberikan padamu, dan bersyukurlah.
Maka tuhan akan mendatangkan yang lebih baik daripada itu.
aku mencintaimu suamiku.
__ADS_1
Gibran Adelard Wijaya.....
TAMAT.....