
Pov Adiba on
"Vin, dimana suamiku?" Ucapku kepada sekertaris Vino.
Aku mulai bosan karna menunggu lama. Ketidakhadiran Gibran membuat hatiku sangat gusar. Entah mengapa, aku tiba tiba ingin bertemu dengan suamiku dan mengutarakan tentang kehadiran bayi kami.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan bertemu dengan daddy mu" Batin adiba sambil mengelus ngelus perutnya yang masih rata.
"Entah, tapi tadi kulihat sepertinya tuan naik ke lantai dua nona." Ucapnya sopan.
Aku bangga kepada sekertaris Vino yang selalu setia menemani suamiku. Awalnga, mereka memang terlihat menakutkan dan arrogant. Tapi benar kata pepatah
Tak kenal maka tak sayang
Aku mengenal mereka sekarang. Mereka orang yang sangat baik, bahkan lebih baik dari yang aku kira.
Kuharap Aisyah bisa berjodoh dengan sekertaris Vino. Gumamku mengingat tersenyum sambil mengingat ngingat tingkah aneh sahabatku itu.
Argh aku tidak sabar ingin memberitahh suamiku tentang kehamilanku ini. Dia pasti sangat bahagia.
"Aku ingin kesana" Rengek ku dengan wajah memelas.
"Baiklah" Ucapnya.
"Silahkan nona"
Aku mengikuti langkah Sekertaris Vino menuju lift, Dia menekan tombol yang tertera di samping pintu itu. Lama kami menunggu tapi pintu itu tak kunjung terbuka. Hal itu semakin membuat hatiku cemas, aku mengkhawatirkan suamiku.
"Apa tidak ada jalan lain Vin?" Tanya ku.
Sekertaris Vino memandangi wajahku.
"Apa nona baik baik saja?"
"Entahlah, aku sangat mengkhawatirkannya. Kumohon antarkan aku agar bisa bertemu dengannya"
Sekertaris Vino mengangguk. kemudian memalingkan wajahnya kearah lain seperti mencari cari sesuatu.
"Ada jalan lain"
"Apa itu?" Sahutku bersemangat.
"Kita harus melewati tangga darurat."
"Tidak apa apa, ayo kita segera kesana"
Sekertaris Vino menuntunku ke tangga darurat, ada banyak anak tangga yang harus ku lewati untuk bisa bertemu dengan suamiku.
Aku berjalan melewati setiap anak tangga satu persatu, dengan di temani Sekertaris Vino di sampingku.
Aku tersenyum senyuk membayangkan wajah seperti apa anakku nanti, dia pasti tampan dan gagah seperti ayahnnya. Gumamku tersenyum.
Aku berlari tidak sabar ingin bertemu dengannya.
"Hati hati nona" Teriaknya.
Mungkin dia khwatir terhadap keselamatanku.
__ADS_1
Tapi aku tak mengindahkan sahutannya, yang menjadi utama bagiku adalah bertemu dengannya.
Aku berlari lari hingga akhirnya pada titik tangga terakhir, disana tidak ada siapapun. Hanya pintu seperti tadi yang kulihat.
TING
Suara nyaring yang entah timbul dari mana.
DEG
Seorang pria sedang bercumbu dengan wanita, aku tidak dapat melihat dengan jelas wajah mereka. Tapi dari pakaian dan postur tubuh si pria, sepertinya aku mengenalnya. sepertinya...
Tidak, tidak! aku tidak boleh suuzon.
Aku mengingat ngingat pakaian yang dikenakan Gibran sebelum terakhir kami berpisah tadi. Jas hitam dan sepatu mengkilatnya, Ya! itu dia Gibran.
"Suamiku..." Lirihku dengan suara yang bergetar, lidah dan tenggorokanku seperti tercekik. Aku kehabisan oksigen di lingkungan seluas ini, kaki kaki ku lemas tak bertenaga.
Ya Allah cobaan apa lagi ini.
Aku melangkah mundur ketika pria itu berbalik dan menampakkan dengan jelas wajahnya. Tidak! dia benar benar suamiku. Ayah dari bayiku, sedang bercumbu mesra bersama wanita lain di depan mataku. Tidak, tidak! bukankah itu keyla. Teman yang baru ku kenal tempo hari.
Aku ga peduli.
Ayah... aku rindu. Lirihku dengan air mata yang sudah kian menetes.
Aku berlari menuruni anak tangga dengan sisa sisa tenangaku, menghiraukan suara pria yang teriak teriak memanggil namaku.
Kakiku keseo karna kehabisan tenaga.
Tubuhku jatuh dan penglihatanku jadi gelap. Aku tidak mengingat apapun lagi.
Pov Adiba off
...---...
"Sayang, bangunlah" Gibran meraih kepala Adiba yang sudah bersimbah darah. Menempatkan di paha.
"Sayang, kumohon bangunlah"
"Maafkan aku" Lirih Gibran memeluk kepala Adiba. Air mata lolos begitu saja dari seorang pria yang dikenal kejam dan menakutkan.
Fikiran Gibran berkecamuk, Adiba melihat kebejatannya tadi. Tapi, itu ia lakukan di alam bawah sadarnya. Dia sangat merindukan keyla, bertahun tahun Gibran mencarinya dan baru kini Gibran bertemu dengan gadis tercintanya.
Bukan hal yang wajah bukan jika Gibran melakukan hal tersebut ?.
"Vino...!!!!" Teriak Gibran menggelegar seisi ruangan.
Tak lama kemudian Sekertaris Vino datang dan membantu.
30 menit berlalu, dokter tak kunjung keluar dari ruangan istrinya. Dengan wajah cemas Gibran sudah seperti setrika bolak balik di depan pintu ruangan, sedangkan Vino hanya menatapnya dari kejauhan sambil memikirkan kejadian yang belum lama terjadi.
Ada hubungan apa tuan dengan istri Mr. Alonzo ?
Ceklek
"Bagaimana dengan keadaan istri saya dok?" Sambar Gibran disusul oleh Vino yang juga mengkhawatirkan keadaan nonanya.
__ADS_1
Bagi Vino, Adiba merupakan istri yang sangat baik dan cantik. Jika saja ada dua Adiba di dunia ini, dia pasti akan langsung melamarnya.
Bukan seperti gadis aneh Aisyah itu. Gumamnya.
"Luka kepala yang di alami istri tuan muda cukup hebat hingga mengeluarkan banyak darah, untung saja tuan cepat membawanya kesini. Dia sudah melewati masa kritis, dan sekarang kita hanya tinggal menunggu dia sadar"
Gibran dan Vino menghembuskan nafas lega.
Meski belum sadar, setidaknya Adiba dipastikan bisa sembuh.
"Apa saya bisa melihatnya?" Tanya Gibran.
Gibran yang sedari tadi meronta meminta masuk, tapi ditahan oleh pihak rumah sakit.
Semua pihak rumah sakit tahu jika Gibran pemilik rumah sakit ini, tapi apa boleh buat? Demi menjalankan protokol kesehatan dan keselamatan Adiba semua menahan tuan Gibran masuk. Mereka mengerahkan 4 security untuk menahan Gibran hingga akhirnya Gibran menyerah dan memilih untuk menunggu di luar.
"Silahkan, tapi hanya untuk satu orang" Jelas Dokter Aditya.
Gibran membuka pintu ruangan VIP tersebut, kakinya gemetar melihat istri tercintanya sedang terkujur kaku diatas ranjang dengan selang yang menempel dihidungnya.
Semua salahku.
Gibran menciumi seluruh wajah Adiba yang pucat.
Maafkan aku...
Gibran meraih tangan Adiba mencium dan menggenggamnya erat. Kesalahan terbesar membawa Adiba kesana, janji Gibran untuk menjaga Adiba telah sirna ditelan udara.
Bayangan Adiba yang menangis ketika melihatnya sedang mencium keyla terngiang ngiang dikepalanya.
*Aku memang tidak berguna Adiba. Aku lemah, kecintaanku padamu dan kehadiran keyla membuat hidupku bimban*g.
Siapa yang harus ku pilih. Aku mencintaimu istriku.
Tapi aku juga menyayangi kekasihku.
Gibran menjatuhkan kepalanya di atas tangan Adiba yang di genggamnya. Menumpahkan seluruh kesedihan dan kebimbangan hatinya hingga akhirnya tertidur.
Sayup sayup suara adzan terdengar di telingan Adiba, dia menggerakan tangannya yang terasa sangat berat dan sakit. Menganggat pelopak mata agar bisa melihat dunia.
Adiba berusaha lebih kuat menggerakan tangan dan membuka mata. Tangan kirinya terasa sangat berat, dia menoleh kesamping.
Dilihatnya seorang pria bertubuh atletis sedang duduk tertidur di sampingnya. Adiba merasaka sakit di seluruh badan, terutama di kepala.
Baru saja Adiba hendak membangunkan si pria dengan mengusap rambutnya, seorang wanita masuk tanpa mengetuk pintu. membuat Adiba mengurungkan niatnya dan kembali memejamkan mata pura pura tertidur.
Keyla datang seorang diri, dia mengelus lembut pundak Gibran. Adiba yang tidak tahu apa yang terjadi hanya diam di tempat hingga suara menyadarkannya.
"Honey, week up please." Suara Keyla terdengar sangat lembut.
Lagi lagi hati Adiba seperti tersayat sembilah pisau tajam.
Meski Adiba tidak mahir dalam bahasa Inggris, tapi Adiba sedikit mengerti apa yang diucapkan keyla.
Apa mereka mempunyai hubungan? Adiba mengingat kejadian di lift, bayangan Gibran yang mencumbui keyla berkeliaran di kepalanya.
Jadi yang kulihat itu bukanlah mimpi? Adiba menangis dalam diam dan terpejam. Tanpa disadari, cairan bening keluar dari sudut matanya. Adiba menahan sesak nafas di dadanya dengan berusaha menahan sendu menangisi kenyataan pahit ini.
__ADS_1