
Ana gelagapan mendengar pertanyaan yang
dilontarkan Alexa, selama ini ia tidak pernah jujur kepada sang mama mengingat
mamanya yang sangat tidak menyukai
Darren. Akhirnya Ana menjalin hubungan bersama Darren tanpa sepengetahuan Alexa
dan hanya diketahui oleh Gibran.
"Mereka hanya berteman." Jawab Gibran inisiatif setelah melihat Ana gelapan
dengan pertanyaan mama Alexa.
"Oh,
lain kali hati-hati ya An. Jika
hendak menerima telpon, menepilah terlebih dahulu." Nasehat mama
Alexa
"Iya
ma," Jawab Ana menunduk. Dia sangat merasa bersalah karena tidak
menceritakan semuanya, tapi jika mama Alexa mengetahuinya Ana tahu akan
seberapa besar marahnya.
Tak berapa lama kemudian, datang dokter Aditya
dan Dokter Rino. Dokter Aditya merupakan dokter yang sangat kompeten di
bidangnya ia juga merupakan Direktur di RS ini. Dia selalu menjadi garda
terdepan dalam menangani permasalahan medis keluarga Adelard Wijaya.
Ia tidak pernah membiarkan dokter lain dan
perawat biasa dalam menanganinya, semua itu ia lakukan karna ingin memberikan
yang terbaik kepada keluarga pemilik Rumah sakit terbesar ini. Sedangkan Dokter
Rino merupakan putra bungsu Dokter Aditya, ia mewarisi gen Aditya yang sangat
menyukai hal medis. Dari kecil Rino memang bercita-cita menjadi dokter seperti
ayahnya.
"Selamat
pagi" Sapa mereka sopan.
“Pagi dok.” Jawab Alexa ramah.
"Syukurlah, nona Ana sudah sadar. Kami akan
memeriksa kondisinya sekarang." Ucap dokter Aditya
"Silahkan
dok." Jawab mama Alexa
Dengan telaten dokter Aditya memeriksa Ana
dibantu dengan dokter Rino.
"Kondisinya
sudah membaik, tapi nona Ana harus menginap 1-2 hari untuk menunggu pemulihan
cedera yang ada di kepalanya.”
“Baik dok.”
“Minumlah obat yang
sudah saya sediakan 3x sehari setelah makan, dan perbanyaklah istirahat." Dokter Aditya kembali menjelaskan.
"Baiklah,
terimakasih Dok"
"Sama-sama. Kalau begitu, kami permisi undur diri"
Jawab Dokter Aditya dengan sangat ramah.
Dokter Aditya
menarik tangan putranya Rino yang sedari tadi menatap Adiba, Gibran yang
menyadari hal itu langsung menatap tajam Dokter Rino dan langsung membuat
nyalinya menciut dan pergi dari ruangan tersebut.
"Yasudah
kita sarapan dulu, tadi mama sudah membelinya untuk kalian." Ajak
__ADS_1
mama Alexa yang melihat Gibran, Adiba dan Ana.
"Tidak
ma, terimakasih. Aku harus
kembali ke kantor secepatnya." Jawab Gibran kepada mama Alexa yang
sudah membuka beberapa cover bag yang berisi beberapa makanan.
“Apa tidak sarapan dulu.”
“Tidak.”
"Yaudh,
hati-hati. Jangan lupa sarapan." Nasehat mama Alexa
Ana dan Adiba hanya menjadi penonton ketika
Gibran pergi dengan sekertaris Vino dibelakangnya. Ana sarapan di tempat tidur di
suapi oleh mama Alexa. Ia selalu memanjakan putri satu-satunya itu, meski ia
sudah beranjak dewasa tetapi mama Alexa selalu menganggapnya sebagai putri
kecilnya yang harus ia sayangi.
Adiba sarapan di sofa yang tak jauh dari
keberadaan mereka, Adiba merasa tidak nyaman ketika pandangannya tak lepas dari
mata Ana. sesekali ia memberikan senyuman kepada Ana meski hanya dibalas dengan
tatapan ketus.
Apa ada yang salah
dengan penampilanku? Batin
Adiba aneh ketika Ana terus menatap penampilannya. Adiba melirik seluruh
badannya yang masih dibalut dengan baju tidur dan hijab instantnya. Tetapi
rasanya tidak ada yang salah dengan penampilannya, ya meski sedikit aneh juga
memakai baju tidur dirumah sakit.
Ini kan salah pencuri
itu, dia bahkan tidak membiarkanku mengganti baju terlebih dahulu.Dengus Adiba
langsung memanggil calon menantunya.
"Adiba
sayang, sini." Panggil mama Alexa kepada Adiba dengan ramah.
Takut-taku Adiba berjalan menghampiri mama Alexa dan Ana yang tak peduli dengan
keberadaanya.
"Kenalin
sayang, ini Adiba calon istrinya Gibran." Mama Alexa memperkenalkan
dengan merangkul bahu Adiba.
Adiba tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Kak
Gibran sudah mengenalkannya tadi." Jawab Ana dan mengabaikan uluran
tangan Adiba.
Perlahan Adiba menurunkan tangannya kembali.
"Tapi
ma, bukannya kak Gibran ingin menikah dengan kak Shella?" Protes Ana.
Jadi mereka sudah ingin
menikah? Batin Ana
semakin merasa bersalah.
Mama Alexa mendengus kesal mendengar nama
Shella keluar dari mulut putrinya, ia memang mengetahui jika mereka bersahabat.
Awalnya mama Alexa tidak menyetujui hubungan Gibran dan Shella tapi karena
seribu satu cara dan drama yang Shella lakukan membuat mama Alexa menyetujui hubungan
dan rencana pernikahan mereka.
Tetapi mama Alexa kembali tidak menyukai bahkan
__ADS_1
membenci Shella ketika mendengar dari sekertaris Vino jika calon menantunya
tengah berada di sebuah Villa bersama sahabat putranya sendiri.
Hal itupun membuat Gibran melakukan kesalahan
dengan tidak sengaja membunuh Ahmad sahabatnya. Ia membenci Shella karena telah
membuat persahabatan putranya hancur bahkan berakhir dengan saling membunuh
hanya karena gadis sepertinya.
"Gibran
tidak lagi mencintainya." Jelas mama Alexa, ia tidak ingin Ana
mengetahui jika kakaknya sudah menjadi pembunuh.
“Tidak mungkin ma,
kak Gibran sangat mencintai Kak Shella. Ana tau itu" Protes Ana lagi.
"Sudah! Jangan banyak protes. Ini sudah menjadi keputusan Gibran. Hentikan
membahas perempuan itu!" berbicara dengan penuh penekanan.
"Tapi
ma … " Belum selesai Ana menyelesaikan ucapannya, pintu ruangan
kembali terdorong menampilkan seorang pria betubuh proposional. Membungkuk
sedikit kemudian tersenyum.
"Maaf
nyonya, tuan muda meminta saya menjemput nona Adiba" Ucapnya ramah.
"Menjemput
Adiba?" Tanya mama Alexa yang penuh keheranan. Apa yang akan dilakukan
putranya pada Adiba. Tapi dia tidak bisa melarangnya karena Adiba adalah calon
istrinya
"Iya
nyonya." Jawab sekertaris Vino.
"Baiklah,
jaga Adiba baik-baik." Jawab mama Alexa yang menatap tajam
sekertaris Vino. Adiba menatap mama Alexa seolah untuk meminta permohonan agar
tidak mengizinkannya, namun sayang mama Alexa telah lebih dulu mengizinkannya.
Dia mau membawaku kemana?mama
kumohon tolong Adiba,. Adiba gk mau ikut pencuri tua itu. Batin Adiba
menjerit, wajahnya masih memohon.
"Baik
nyonya. Silahkan nona."
Sekertaris Vino mempersilahkan.
“Pergilah sayang.”
Mati sudah!
Adiba mencium punggung tangan mama Alexa
dibalas dengan usapan di pucuk kepalanya. Dengan langkah kaki yang berat Adiba
mengikuti sekertaris Vino.
****
Di dalam mobil.
"Aku
akan dibawa kemana tuan?" Tanya Adiba kepada sekertaris Vino yang
sedang fokus menyetir.
"Saya
hanya menjalankan tugas untuk menjemput anda nona." Jawab
sekertaris Vino dengan tatapan tetap kedepan.
Adiba kembali terdiam seribu bisu mendengar
jawaban sekertaris Vino. Pria ini ternyata sama dinginnya dengan tuannya.
__ADS_1