PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Di rumah sakit


__ADS_3

Ana gelagapan mendengar pertanyaan yang


dilontarkan Alexa, selama ini ia tidak pernah jujur kepada sang mama mengingat


mamanya yang  sangat tidak menyukai


Darren. Akhirnya Ana menjalin hubungan bersama Darren tanpa sepengetahuan Alexa


dan hanya diketahui oleh Gibran.


"Mereka hanya berteman." Jawab Gibran inisiatif setelah melihat Ana gelapan


dengan pertanyaan mama Alexa.


"Oh,


lain kali hati-hati ya An. Jika


hendak menerima telpon, menepilah terlebih dahulu." Nasehat mama


Alexa


"Iya


ma," Jawab Ana menunduk. Dia sangat merasa bersalah karena tidak


menceritakan semuanya, tapi jika mama Alexa mengetahuinya Ana tahu akan


seberapa besar marahnya.


Tak berapa lama kemudian, datang dokter Aditya


dan Dokter Rino. Dokter Aditya merupakan dokter yang sangat kompeten di


bidangnya ia juga merupakan Direktur di RS ini. Dia selalu menjadi garda


terdepan dalam menangani permasalahan medis keluarga Adelard Wijaya.


Ia tidak pernah membiarkan dokter lain dan


perawat biasa dalam menanganinya, semua itu ia lakukan karna ingin memberikan


yang terbaik kepada keluarga pemilik Rumah sakit terbesar ini. Sedangkan Dokter


Rino merupakan putra bungsu Dokter Aditya, ia mewarisi gen Aditya yang sangat


menyukai hal medis. Dari kecil Rino memang bercita-cita menjadi dokter seperti


ayahnya.


"Selamat


pagi" Sapa mereka sopan.


“Pagi dok.” Jawab Alexa ramah.


"Syukurlah, nona Ana sudah sadar. Kami akan


memeriksa kondisinya sekarang." Ucap dokter Aditya


"Silahkan


dok." Jawab mama Alexa


Dengan telaten dokter Aditya memeriksa Ana


dibantu dengan dokter Rino.


"Kondisinya


sudah membaik, tapi nona Ana harus menginap 1-2 hari untuk menunggu pemulihan


cedera yang ada di kepalanya.”


“Baik dok.”


“Minumlah obat yang


sudah saya sediakan 3x sehari setelah makan, dan perbanyaklah istirahat." Dokter Aditya kembali menjelaskan.


"Baiklah,


terimakasih Dok"


"Sama-sama. Kalau begitu, kami permisi undur diri"


Jawab Dokter Aditya dengan sangat ramah.


Dokter Aditya


menarik tangan putranya Rino yang sedari tadi menatap Adiba, Gibran yang


menyadari hal itu langsung menatap tajam Dokter Rino dan langsung membuat


nyalinya menciut dan pergi dari ruangan tersebut.


"Yasudah


kita sarapan dulu, tadi mama sudah membelinya untuk kalian." Ajak

__ADS_1


mama Alexa yang melihat Gibran, Adiba dan Ana.


"Tidak


ma, terimakasih. Aku harus


kembali ke kantor secepatnya." Jawab Gibran kepada mama Alexa yang


sudah membuka beberapa cover bag yang berisi beberapa makanan.


“Apa tidak sarapan dulu.”


“Tidak.”


"Yaudh,


hati-hati. Jangan lupa sarapan." Nasehat mama Alexa


Ana dan Adiba hanya menjadi penonton ketika


Gibran pergi dengan sekertaris Vino dibelakangnya. Ana sarapan di tempat tidur di


suapi oleh mama Alexa. Ia selalu memanjakan putri satu-satunya itu, meski ia


sudah beranjak dewasa tetapi mama Alexa selalu menganggapnya sebagai putri


kecilnya yang harus ia sayangi.


Adiba sarapan di sofa yang tak jauh dari


keberadaan mereka, Adiba merasa tidak nyaman ketika pandangannya tak lepas dari


mata Ana. sesekali ia memberikan senyuman kepada Ana meski hanya dibalas dengan


tatapan ketus.


Apa ada yang salah


dengan penampilanku?  Batin


Adiba aneh ketika Ana terus menatap penampilannya. Adiba melirik seluruh


badannya yang masih dibalut dengan baju tidur dan hijab instantnya. Tetapi


rasanya tidak ada yang salah dengan penampilannya, ya meski sedikit aneh juga


memakai baju tidur dirumah sakit.


Ini kan salah pencuri


itu, dia bahkan tidak membiarkanku mengganti baju terlebih dahulu.Dengus Adiba


langsung memanggil calon menantunya.


"Adiba


sayang, sini." Panggil mama Alexa kepada Adiba dengan ramah.


Takut-taku Adiba berjalan menghampiri mama Alexa dan Ana yang tak peduli dengan


keberadaanya.


"Kenalin


sayang, ini Adiba calon istrinya Gibran." Mama Alexa memperkenalkan


dengan merangkul bahu Adiba.


Adiba tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"Kak


Gibran sudah mengenalkannya tadi." Jawab Ana dan mengabaikan uluran


tangan Adiba.


Perlahan Adiba menurunkan tangannya kembali.


"Tapi


ma, bukannya kak Gibran ingin menikah dengan kak Shella?" Protes Ana.


Jadi mereka sudah ingin


menikah? Batin Ana


semakin merasa bersalah.


Mama Alexa mendengus kesal mendengar nama


Shella keluar dari mulut putrinya, ia memang mengetahui jika mereka bersahabat.


Awalnya mama Alexa tidak menyetujui hubungan Gibran dan Shella tapi karena


seribu satu cara dan drama yang Shella lakukan membuat mama Alexa menyetujui hubungan


dan rencana pernikahan mereka.


Tetapi mama Alexa kembali tidak menyukai bahkan

__ADS_1


membenci Shella ketika mendengar dari sekertaris Vino jika calon menantunya


tengah berada di sebuah Villa bersama sahabat putranya sendiri.


Hal itupun membuat Gibran melakukan kesalahan


dengan tidak sengaja membunuh Ahmad sahabatnya. Ia membenci Shella karena telah


membuat persahabatan putranya hancur bahkan berakhir dengan saling membunuh


hanya karena gadis sepertinya.


"Gibran


tidak lagi mencintainya." Jelas mama Alexa, ia tidak ingin Ana


mengetahui jika kakaknya sudah menjadi pembunuh.


“Tidak mungkin ma,


kak Gibran sangat mencintai Kak Shella. Ana tau itu" Protes Ana lagi.


"Sudah! Jangan banyak protes. Ini sudah menjadi keputusan Gibran. Hentikan


membahas perempuan itu!" berbicara dengan penuh penekanan.


"Tapi


ma … " Belum selesai Ana menyelesaikan ucapannya, pintu ruangan


kembali terdorong menampilkan seorang pria betubuh proposional. Membungkuk


sedikit kemudian tersenyum.


"Maaf


nyonya, tuan muda meminta saya menjemput nona Adiba" Ucapnya ramah.


"Menjemput


Adiba?" Tanya mama Alexa yang penuh keheranan. Apa yang akan dilakukan


putranya pada Adiba. Tapi dia tidak bisa melarangnya karena Adiba adalah calon


istrinya


"Iya


nyonya." Jawab sekertaris Vino.


"Baiklah,


jaga Adiba baik-baik." Jawab mama Alexa yang menatap tajam


sekertaris Vino. Adiba menatap mama Alexa seolah untuk meminta permohonan agar


tidak mengizinkannya, namun sayang mama Alexa telah lebih dulu mengizinkannya.


Dia mau membawaku kemana?mama


kumohon tolong Adiba,. Adiba gk mau ikut pencuri tua itu. Batin Adiba


menjerit, wajahnya masih memohon.


"Baik


nyonya. Silahkan nona."


Sekertaris Vino mempersilahkan.


“Pergilah sayang.”


Mati sudah!


Adiba mencium punggung tangan mama Alexa


dibalas dengan usapan di pucuk kepalanya. Dengan langkah kaki yang berat Adiba


mengikuti sekertaris Vino.


****


 Di dalam mobil.


 "Aku


akan dibawa kemana tuan?" Tanya Adiba kepada sekertaris Vino yang


sedang fokus menyetir.


"Saya


hanya menjalankan tugas untuk menjemput anda nona." Jawab


sekertaris Vino dengan tatapan tetap kedepan.


Adiba kembali terdiam seribu bisu mendengar


jawaban sekertaris Vino. Pria ini ternyata sama dinginnya dengan tuannya.

__ADS_1


__ADS_2