PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Kepulangan Adiba


__ADS_3

"Ya sayang, kami akan mempersiapkan semuanya. kau hanya perlu mempersiapkan dirimu. Jelas mama Alexa lagi


Ana yang sudah diberitahu kabar ini sebelumnya hanya memutar bola malas, tidak setuju dengan apa yang direncanakan mamanya tetapi tidak ada yang bisa menolaknya dengan cara dan alasan apapun.


"Hmm iya ma." Hanya itu kata yang terucap dari bibir Adiba.


Mereka menghabiskan waktu di ruang keluarga dengan menonton tv dan bercengkrama. Gibran telah lebih dulu meninggalkan ruangan itu ingin melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Ana ngantuk, permisi ya ma." Izin Ana yang bosan hanya jadi pendengar pembicaraan Mama Alexa dan Adiba


"Ya sayang, istirahat yang cukup ya.


jangan lupa diminum obatnya." Jawab mama Alexa sambil mengelus pucuk kepala Ana.


Ana hanya membalas dengan senyuman, kemudian pergi beranjak ke kamarnya.


"Sayang kamu istirahat ya, biar Gibran yang mengantarmu besok." Ucap Mama Alexa


"Ah tidak perlu ma." Tolak Adiba


-Ya kali ketemu orang itu lagi, bagaimana jika dia menagih hukumanku.


aaa ma kumohon jangan biarkan aku bersama srigala itu. Batin Adiba


"Tidak sayang, dia kan calon suamimu.


pokoknya besok kamu diantar Gibran ya, ayo kita istirahat." Jelas mama Alexa yang langsung meraih tangan Adiba.


"Hmm ya ma." Hanya itu yang bisa di ucapkannya.


Adiba pergi ke kamar tamu diantar oleh Mama Alexa.


Di dalam kamar, Adiba terus memikirkan bagaimana caranya besok tidak bertemu dengan Gibran. Ia takut akan diberikan sisa hukuman dan bunga penunggakannya sesuai yang diucapkan Gibran.


Pusing memikirkan hal yang tak kunjung dapat jawaban, Adiba memutuskan melaksanakan sholat isya terlebih dahulu dan berdoa untuk sang ayah, meminta diberikan mukzijat agar esok ia tidak bertemu dengan Gibran kemudian tidur.


***


"Apa saja yang dilakukannya? Tanya Gibran kepada seseorang yang berada diseberang telpon.


"Dia tidak melakukan apapun tuan, seharian dia hanya menangis di apartemennya dan sesekali keluar untuk membeli makanan." Jelasnya.

__ADS_1


Tanpa memberi jawaban lagi Gibran mematikan telponnya dan melemparnya ke sofa. semenjak pembebasan Shella, Gibran menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengawasinya.


"Shittt...


kenapa dia sesedih itu? apa benar yang dikatakannya." Umpat Gibran.


Gibran merasa sangat bersalah telah membuat gadis tercintanya bersedih dan tidak mempercayainya. Semalaman Gibran uring-uringan kepada dirinya sendiri, ia kesal harus mempercayai siapa dan harus bagaimana.


Gibran memang seorang Presiden Direktur yang berwibawa dan tegas dalam mengahadapi setiap permasalahan perusahaan, tetapi ia selalu lemah jika menghadapi soal cinta dan perasaanya.


sekertaris Vino yang setia berdiri tak jauh dari Gibran mendengus kesal mendengar umpatan dan keadaan Gibran yang sekarang.


-Kumohon tuan, jangan percaya kepada wanita sihir itu. Dia pasti menangis karena kematian kekasih gelapnya Darren. Gerutu Sekertaris Vino


Di ruang kerja, waktu sudah menunjukan pukul 02:00 pagi. Gibran menghabiskan banyak botol minuman hangat itu sampai dia terlelap, entah pingsan atau tidur. Sekertaris Vino membawa dan menidurkannya di ranjang, setelah semuanya selesai baru sekertaris Vino pergi meninggalkannya.


Sama halnya dengan Ana yang semalaman menangis mengingat semua kenangannya bersama Darren, Ana sangat merindukan kekasinya. Lama tidak bertemu karena tugasnya di negeri Ginseng membuatnya harus jauh dengan Darren selama berbulan-bulan.


Dan setelah smua pekerjaannya selesai, berharap bertemu dengan pujaan hatinya dan langsung melaksanakan pernikahan. Ana malah mendapati kabar Darren tewas dibunuh seseorang.


Betapa hancur hatinya ketika mendapat kabar itu, Ana menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki penyebab kematian Darren tapi Ana tak kunjung mendapatkan jawabannya karena seluruh bukti dan seluruh pegawal Darren yang tertangkap kali itu telah di lenyapkan.


****


Keesokan harinya, tepat pukul 07:00 Adiba telah siap untuk kepulangannya ke Astrama, tak lama kedian Mama Alexa datang.


"Wahh cantik sekali, kamu sudah siap sayang?" Tanya Mama Alexa yang langsung meraih wajah Adiba dengan wajah berbinar mengagumi kecantikan Adiba.


"udah ma" Jawab Adib tersenyum.


"Yasudah, kita sarapan dulu ya." Ajak mama Alexa


Mereka berjalan menuruni anak tangga menuju dapur, sudah ada sekertaris Vino diruang tv sedang meminum kopi dengan jari yang sibuk di atas laptop.


sekertaris Vino berdiri memberi hormat ketika menyadari kedatangan Nyonya Alexa dan Adiba.


"Selamat pagi nyonya." Sapa Sekertaris Vino yang langsung menundukan kepala.


-Itu kan bapak yang kemaren, pagi-pagi sudah disini saja. sebenarnya apa pekerjaan?. Bergumam aneh


"Pagi." Jawab Alexa.

__ADS_1


Adiba dan Alexa melanjutkan langkah kakinya menuju dapur, banyak pelayan yang sedang mempersiapkan sarapan kemudian membungkukan badan dan menunduk ketika menyadari kedatangan Nyonya Alexa dan Adiba.


Adiba merasa risi dengan keadaan seperti ini.


-Kenapa semuanya mesti membungkukan badan seperti itu?


-kenapa juga harus menunduk, apa ada yang salah dengan wajahku. Batin Adiba yang langsung meraba wajahnya takut ada yang salah dengan penampilannya.


Alexa duduk dengan menggiring Adiba duduk di sampingnya.


"Nona Ana tidak ikut sarapan ma?." Tanya Adiba yang celingak celinguk mencari penghuni rumah.


Meja makan sudah penuh dengan makanan sarapan tetapi bangku-bangku masih kosong tak berpenghuni, hanya ada Alexa, Adiba dan beberapa pelayan yang sedang menata makanan.


"Tidak sayang, dia sudah pergi dari tadi pagi.


katanya ada perlu bersama temannya." Jelas alexa


"Sekertaris Vino, panggil Gibran kemari." Titah Alexa dengan suara sedikit meninggi karena kesal dengan Gibran yang tak kunjung datang.


-Oh namanya vino, ternyata dia sekertaris disini. Batin Adiba


"Baik nyonya." Jawab sekertaris Vino yang langsung beranjak ke kamar Gibran.


Alexa dan Adiba memulai sarapan tanpa Gibran dan Ana. setelah selesai sarapan Gibran tak kunjung kembali, membuat Alexa sangat kesal. Mereka menunggu Gibran diruang keluarga.


"Tidak apa ma, Adiba bisa berangkat sendiri." Ucap Adiba tersenyum dan menggenggam tangan Alexa menenangkan ketika melihat wajah Alexa yang merah menahan amarah.


"Tidak perlu, aku akan mengantarmu." Ucap Gibran yang tiba-tiba datang dengan sekertaris Vino.


Banyak cara dengan penuh perjuangan yang dilakukan sekertaris Vino untuk menyadarkan Gibran dari tidurnya. Gibran langsung meraih tangan Adiba dan menariknya keluar.


"Sebentar" Menepis tangan Gibran


"Adiba berangkat ya ma, terimakasih untuk semuanya." Ucap Adiba sambil mencium punggung tangan Mama Alexa seperti biasanya.


Mama Alexa tersenyum mendengarnya, ia mengecup kening Adiba dengan sangat lembut dan memeluknya.


"Jaga diri baik-baik ya sayang.


cepat pulang, mama menunggumu." Ucap mama Alexa dan langsung melepaskan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2