PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Kingkong tua gila..!


__ADS_3

"Terima kasih, senang bekerja sama dengan anda tuan Gibran."


Ucap pria paruh baya yang sudah berambut putih menjabat tangan Gibran karna puas dengan hasil meetingnya hari ini.


"Sama-sama tuan. Semoga kerjasama ini bisa berjalan dengan lancar."


Menerima jabat tangan menampilkan senyuman terbaiknya.


pasalnya Gibran pun tak kalah untungnya karna hasil meeting hari ini. Kerjasama kontrak dari Italia memberikan keuntungan berkali-kali lipat daripada yang lainnya.


Ketika kliennya sudah berpamitan, Gibran melangkah menuju ruangannya. Melepas jas dan menggantungkannya dikursi kebesarannya.


Drett, drett,drettt


Senyum Gibran semakin melebar mendapati handphonenya terdapat notifikasi. Dengan cepat Gibran meraih dan membaca pesannya.


Mukanya langsung muram ketika ada notifikasi gmail tentang laporan keuangan di perusahaan cabangnya.


"Cih! memangnya apa yang kuharapkan? gadis bodoh itu tidak akan memperdulikanku."


Gibran mengusap wajahnya kasar.


"Bodoh! apa yang kukatakan! aku seperti pengemis belas kasihnya saja!!!" Teriaknya.


Tak lama kemudian sekertaris Vino datang membawa kopi.


"Duduklah, temani aku bekerja disini" Pinta Gibran karna sedang membutuhkan teman saat ini.


Kemudian sekertaris Vino meletakan kopinya, keluar ruangan dan kembali membawa laptopnya. Dia berniat menemani tuannya sambil bekerja sekarang.


***


Di Apartemen.


Adiba sedang memasak dibantu oleh Bi Lastri, meski bi Lastri sudah melarangnya tapi Adiba tetap ingin memasak tom yam kesukaannya dan membiarkan Bi Lastri membantunya karna bosan jika terus-terusan di dalam kamar.


"Apa cabainya tidak ada lagi bi?"


Bertanya sambil mencari-cari, kemudian Bi Lastripun ikut membantu mencarinya.


"Sepertinya habis neng" Jawab bi Lastri membuat Adiba mengerucutkan bibirnya


"Yahh"


"Maaf ya, bibi lupa belum belanja tadi" Ujar Bi Lastri tidak enak.


"Apa ini tidak cukup neng? bibi rasa ini juga akan pedas." Bi Lastri menatap keheranan dengan cabai yang sudah disiapkan Adiba, sudah banyak tapi mau ditambah lagi.


"Kurang bi.... Adiba pengen yang pedas-pedas hari ini." Jawabnya lesu.

__ADS_1


"Maafkan bibi neng, tapi Tuan sudah berpesan untuk menjaga neng dan tidak meninggalkannya sebelum tuan Gibran pulang" Jelas Bi Lastri


Adiba menatap wajah Bi Lastri tak percaya.


-Ada angin apa dia menyuruh bi Lastri menjagaku?


-Huft tenanglah kingkong tua! aku tidak akan kabur darimu selama 3bulan ini ko. Batin Adiba sebal.


"Yasudah klo begitu, ayo kita belanja." Jawab Adiba dengan semangat empat limanya.


"Selain aku bisa makan tomyamku, bibi pun bisa berbelanja dan menjagaku." Ujar Adiba berbinar karna dia akan bisa dari Apartemen menyebalkan ini


Bi Lastri menatap Adiba, dirinya bingung akan hal ini.


"Ayolah bi...." Memasang mata puple eyes nya sambil menggenggam tangan bi Lastri.


Bi Lastri menaikkan satu alisnya, Adiba yang dewasa sekarang seperti (Lisa) anak kecilnya yang manja.


Bi Lastri binging dengan keadaan seperti ini.


-keluar apa tidak ya? tapi Tuan Gibran sudah berpesan agar aku tidak meninggalkan nyonya disini. Batin Bi Lastri.


"Yasudah, tapi izin dulu sama tuan ya neng"


"Baiklah"


-Assalamuaikum.


Apa kau mengizinkanku pergi berbelanja bersama bi Lastri hari ini?.


Adiba mengklik tombol send dengan perlahan. Hatinya berdegup, sampai Adiba memegangi dadanya karna ini adalah pesan pertama yang ia kirim kepada suaminya.


Di lain tempat, Gibran mengacuhkan notifikasi handphonenya dan tetap sibuk menatap layar laptopnya. Pasti Laporan keuangan lagi (fikirnya).


Lama Adiba menunggu akhirnya Adiba memberanikan diri untuk menelponnya.


tuttt, tuttt, tuttt


"Halo?" Tanya Gibran setelah menjawab sambungan telpon tanpa melihat siapa penelponnya.


Tangan dan matanya tetap fokus kepada laptopnya.


"Assalamualaikum?" Salam Adiba berhati-hati.


Mendengar suara yang daritadi dirindukannya, Gibran langsung terlonjak kaget. Dia memastikan siapa yang menelpon dengan menatap layar ponselnya.


Bibirnya langsung merekah seketika melihat nama yang tertera.


Gadis bodoh

__ADS_1


Nama nomor Adiba di ponsel Gibran


"Wa'alaikum salam, ada apa?" Tanya Gibran dengan cool dan juteknya.


Jauh berbeda dalam hatinya, dirinya sangat kegirangan saat Adiba menelponnya. Jika tidak ada sekertaris Vino di sampingnya dia akan kegirangan sampai berlompat-lompat kecil.


-Ish jutek sekali.


"Apa kau mengizinkanku pergi berbelanja bersama bi Lastri hari ini suamiku?" Adiba bertanya sangat hati-hati takut suaminya marah


Gibran semakin tersenyum lebar ketika Adiba memanggilnya dengan sebutan kesukaannya, dia sampai melupakan akan bertanya keadaan Adiba yang tadi pingsam.


"Apa kau bosan terus berdiam diri di Apartemen?"


Belum sempat Adiba menjawab, Gibran langsung menyahut lagi.


"Silahkan, tapi ada syaratnya!"


"Apa syaratnya?" Adiba kegirangan karna akan diizinkan keluar.


"Kau harus menjalankan tugasmu sebagai seorang istri nanti malam!"


Adiba menyerngitkan dahinya.


"Maksudmu? bukankan aku memang menjalankan tugasku sebagai seorang istri selama ini? aku memasak *makanan kesukaanmu**membantu bi Lastri membersihkan ruangan dan*..." Adiba tidak melanjutkan ucapannya lagi dia baru mengerti arah pembiacaraan suaminya membuat Gibran sakit bibir menahan tawanya.


-Aaaa kingkong tua mesum!!!. Batin adiba berteriak.


"Ku tunggu pelayanan double mu nanti malam" Ucap Gibran terdengar sangat menggoda membuat Adiba berteriak dan melempar hpnya.


"Gila......!!!!!!"


"Bhuahahahahaha" Tawa Gibran tak tertawan lagi ketika mendengar teriakan Adiba di ponselnya, kemudian Gibran langsung mematikan sambungannya dan mengirimkan pesan singkat kepada Bi Lastri.


Bi Lastri dan Sekertaris Vino sama-sama terlonjak di tempat mendapati tuannya berteriak.


"Eh kenapa neng?" Tanya bi Lastri khawatir takut Adiba kenapa-napa, bisa-bisa nyawanya yanh menjadi taruhannya.


"Eh, hehe tidak apa-apa bi." Adiba cengegesan menahan malu kepada pembantunya sendiri dia langsung mengambil ponsel yang dibuangnya tadi dan berlari kocar-kacir ke kamar.


"Adiba bersiap dulu....!" Teriak Adiba di dalam kamar.


-Aaaa memalukan!. Dengus Adiba kesal dan dengan kasar mengganti bajunya.


***


"Apa ada masalah tuan?" Tanya sekertaris Vino menyerngitkan dahinya, dia khawatir jika tuan mudanya mempunyai penyakit syaraf karna pekerjaan yang sangat menunpuk akhir-akhir ini.


"Tidak!!" Jawab Gibran singkat dan langsung berkutat lagi ke pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2