PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Teman baru


__ADS_3

-Harusnya aku tahu diri, tidak mungkin dia mencintaiku. Dia hanya menganggapku sebagai pelayannya. Batin Adiba sambil berlari.


**


Gibran tetap menutup matanya meski terkejut akan keberanian Adiba membuka pintu kamar mandi dan melangkah masuk menghampirinya.


Shella yang dianggap Adiba sudah duduk dibelakang bathup, perlahan Shella memijat pundak Gibran. Shella semakin tersenyum kegirangan ketika Gibran menikmati pijatannya bahkan tanpa protes.


Gibran yang menikmati pijatan Adiba, serasa ada yang berbeda kemudian Gibran membuka matanya dan betapa terlonjaknya Gibran mendapati shella yang masuk bukan Adiba.


"Apa yang kau lakukan!!" Bentak Gibran sambil meraih handuk dan melilitkannya.


Shella sempat terkejut ketika Gibran kembali membentaknya dengan tatapan membunuh.


"Aku merindukanmu hany." Ujar Shella langsung memeluk tubuh Gibran dengan erat.


"Menyingkir dari tubuhku!!" Bentak Gibran yang langsung pergi keluar mencari keberadaan Adiba.


Gibran frustasi ditambah dengan kedatangan Shella yang tak tau malu, apa yang akan difirkan gadis bodoh itu melihat Shella datang.


-Kemana gadis bodoh itu. Batin Gibran celingak celinguk di seluruh ruangan.


"Kamu cari siapa hany?" Tanya Shella mengikuti langkah Gibran


"Bukan urusanmu!" Bentak gibran.


"Dia sudah pergi." jawab Shella santai ketika sadar pasti gadis kampungan itu yang dicarinya.


"kemana?" Tanya Gibran dengan menatap tajam Shella


"entah, bagus lah dia cukup tau diri untuk tidak menganggu kita." Senyam Shella


"Hentikan omong kosongmu!" Geram Gibran mencengkram keras dagu Shella


"Hany,, sakit!!! kenapa kamu kasar sekali.." Ringin Shella

__ADS_1


"Cih, wanita tak tau malu." Ucap Gibran tersenyum mengejek


"Aku tau kau masih mencintaiku, buktinya kau masih memajang foto pertunangan kita." Jelas Shella terbata-bata


"Arghhh!!!!" Gibran semakin frustasi dengan keadaan sekarang yang mengingatkannya akan suatu hal.


-Bagaimana ini!!! dia pasti akan berfikir aku masih berhubungan dengan wanita murahan itu. Batin Gibran geram.


Dengan cepat Gibran meraih bingkai besar itu dan membanting dengan keras tepat di mata Shella. Hingga pecah tanpa sisa.


"Hany,, kamu tega!" Teriak Shella menjerit


"Pergi! aku muak melihat wajah wanita mu****n sepertimu!" Bentak Gibran yang langsung mendorong tubuh Shella hingga terhempas keluar.


Gibran menutup dengan keras pintunya. Dia duduk di sofa dan mengusap kasar wajahnya.


...***...


Adiba berlari tanpa arah, dia bahkan melupakan handphone barunya.


Karna tidak fokus, Adiba sampai menabrak seorang pria di depannya.


"Maaf, maafkan saya tuan tidak sengaja." berucap masih menundukan wajahnya untuk menghapus air matanya.


"Litlle girl?" Tanya seorang pria kemudian meraih wajah Adiba agar menatapnya sambil tersenyum.


"Tuan Zein" Tanya Adiba terkejut karna lagi-lagi bertemu dengannya.


Adiba masih mengingat kesalahan waktu itu karna Adiba bertemu dengan Zein dan menyentuh lengannya dia harus mendapatkan hukuman dengan kehilangan kesuciannya.


"Iya, masih ingatkan? Pria paling tampan di seluruh jagat raya ini." Ucap Zein dengan bangga sambil mengedipkan mata.


Zein mengetahui Adiba sedang menangis tadi maka dari itu Zein sengaja menghiburnya dengan bertingkah konyol seperti tadi.


-Little girl, kau harus membayarnya. Zein Prasetya tidak pernah menghibur gadis selama seumur hidupnya. Tapi kali ini, aku benar-benar menyukainya. Batin Zein tersenyum sambil menatap wakah cantik Adiba yang sayu.

__ADS_1


"Haha tuan ini bisa saja." Ketawa Adiba terhibur dengan tingkah konyol Zein.


"Anda tambah cantik jika tersenyum nona." Ujar Zein tersenyum


Adiba langsung tersipu malu mendengarnya, kemudian dia memilih menjauh daripada lebih salah tingkah di depan pria tampan ini.


"Maafkan saya sekali lagi, saya harua pergi."


"Anda mau kemana nona? mau saya antar?" Tanya Zein sambil meraih tangan Adiba.


"Tidak tuan terimakasih." Tolak Adiba halus.


"Ayolah, sebagai tanda pertemanan" Ucap Zein sambil menjabat tangan Adiba


Adiba tersenyum bahagia ada seorang pria tampan yang baik padanya.


-Ah masa bodo dengan tuan Gibran, lagipula dia kan tidak peduli dengan kegiatanku. Batin Adiba kemudian berniat akan berteman dengan Zein


"Baiklah, tanda pertemanan." Jawab Adiba tersenyum


-Pertemanan yang akan berjalan jadi cinta. Batin Zein tersenyum penuh kemenangan.


Karna baru kali ini Zein ditolak oleh seorang gadis, gadis polos dan lugu yang tidak berani di sentuhnya. Menarik (fikirnya)


Zein dan Adiba kemudian masuk kedalam mobil mewah milik Zein, menuju rumah Aisyah yang sebelumnya sudah diberitahu Adiba.


Zein melajukan mobil dengan sangat lambat, dia sengaja agar bisa berlama-lama berduaan dengan Adiba di dalam mobilnya.


"Apa ada masalah?" Tanya Zein membuka suara karna Adiba hanya melamun sedari tadi.


"Ah, tidak" Jawab adiba singkat sambil tersenyum


"Baiklah, tidak masalah jika tidak ingin bercerita.


Tapi aku akan selalu siap mendengar ceritamu kapan pun itu." Ujar Zein yang hanya dibalas senyuman oleh Adiba.

__ADS_1


__ADS_2