PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Pulang kerumah utama


__ADS_3

"Ayo kita pulang!"


Suara Gibran


mengejutkan Adiba yang masih melamun.


 Pria ini? kenapa masih disini?bukannya dia pergi tadi?apa tadi katanya?


dia mengajakku pulang? kemana?hey tuan wajah datar, aku punya rumah


sendiri.


Gerutu Adiba menatap


wajah Gibran yang menjulang tinggi di sampingnya.


 kesal ajakannya


tak kunjung di jawab, lagi-lagi Gibran meraih tangan Adiba dan menariknya


menuju mobil.


 Hey tuan, kenapa anda sangat irit sekali berbicara?


Eh, apa ini? suka


sekali menarik tanganku! aku bisa jalan sendiri. Batin Adiba lagi


 "Maaf, lepaskan tuan. saya bisa bangun dan berjalan sendiri."


menepis tangan Gibran


 "Terimakasih atas tawarannya. tapi saya bisa pulang sendiri, rumah sayapun


tidak jauh dari sini"


 "Kita pulang kerumah utama, mama menunggumu"


Berlalu meninggalkan Adiba yang masih mematung ditempatnya.


Ish ada ya


orang sepertimu.


 Tanpa bertanya


lagi Adiba mengikuti langkah Gibran menuju mobil. ia tidak ingin membuat kecewa


tante Alexa yang sudah berbaik hati memberikan pekerjaan ayahnya dulu.


 ***


 "Assalamualaikum." Adiba


mengucapkan salam sebelum melewati pintu.


 "Wa'alaikum salam, sayang...!." Kedatangan Adiba


disambut pelukan oleh Alexa hingga mengacuhkan putranya sendiri.


 Malas melihat


drama sang mama, Gibran melangkah berlalu dari tempat itu.


 "Kamu ganti baju dulu ya, setelah itu kita


makan berasama" Ucap Alexa sembari memegang pipi Adiba yang sangat


lembut menurut Alexa.


 "Tapi tan, Adiba tidak membawa baju"


Ujar Adiba polos, dia tidak membawa baju sehelaipun gara-gara pria tua itu. Oh


astagfirullah! Sabar Adiba. Memegangi ujung baju seragam yang sedari tadi

__ADS_1


dipakainya.


 Alexa menatap


lekat Adiba seraya berkata "Jangan


panggil tante dong, mama kan calon mertua kamu. panggil mama ya."


Ujar Alexa lembut.


 "Iyah tan, e-ehh ma" Jawab Adiba


gugup


 "Hmm,,, Gadis manis," Ujar Alexa tersenyum.


 "Bajunya sudah mama siapin di kamar tadi, kamu


ganti baju dulu ya, Vin antar nona Adiba ke kamar Gibran" Titah


Alexa kepada sekertaris Vino yang sedang berdiri tak jauh darinya.


 "Siap nyonya, mari nona." Sekertaris Vino mempersilahkan.


 Adiba mengikuti


langkah sekertaris Vino disampingnya.


 ni rumah apa apartement? kenapa


mesti ada lift segala? Mata Adiba menangkap ruangan yang luas.


"Silahkan nona" Sekertaris vino


mempersilahkan ketika lift dibuka.


 "Terima


kasih" Ucap Adiba sopan, Aekertaris Vino hanya menjawabnya dengan


 Adiba


melangkahkan kakinya dengan ragu ia menoleh kebelakang melihat sekertaris Vino


yang tersenyum padanya menunjukkan iya itu adalah kamar yang dimaksud.


 Tok,,, tok,,,,


tok


"Assalamualaikum" salam Adiba


dengan ragu


ceklek,


Pintu terbuka,


"Mau apa lagi?" Bertanya dengan


wajah khasnya yang super datar.


 Adiba


menundukan wajahnya yang merah, betapa malunya dia ternyata telah mengetuk


pintu kamar seorang pria yang sama sekali bukan mahramnya


 Astagfirullah Adiba, kenapa bisa berada di posisi seperti ini si. Batin Adiba


 Tak kunjung


dijawab, Gibran menatap sekertaria Vino meminta jawaban dari pertanyaannya.


 "Nyonya besar menyuruh nona berganti baju yang

__ADS_1


sudah disediakan di kamar anda tuan muda" Jawab sekertaris Vino


yang sudah mengerti tatapan Gibran.


 Shitt pantas saja ada baju wanita di atas ranjangku.Suara kecil Gibran yang tidak tersengar oleh


Adiba.


 "Masuklah, jangan sentuh apapun!"


Berbicara penuh


penekanan dan langsung berlalu menghampiri sekertaris Vino


 "Iya tuan." Jawab Adiba


takut-takut, suara pria tua itu selalu menggelegar seperti petir.


Adiba langsung


melangkah masuk dengan kaki yang sudah gemeteran sedari tadi. Secepat kilat ia


menyambar 2 cover bag yang berisi baju, hijab dan peralatan kecantikan yang


sudah tersedia di atas ranjang kemudian masuk ke kamar mandi dan menguncinya.


 Di dalam kamar


mandi, gadis tersebut membuka hijab putihnya dan mulai membersihkan seluruh


badannya. Setelah selesai, ia membuka cover bag pertama yang berisi 2 baju.


baju muslimah berwarna Hitam dipadukan dengan warna putih ditambah pernik bunga


di juntaian bawah yang membuat sempurna baju tersebut, dan baju kedua berwana


full pitch dipadukan dengan tali pita dipinggangnya.


 Masya Allah, bajunya indah-indah sekali. Gumam Adiba


 Adiba memilih


baju muslim berwarna hitam itu dengan hijab yang senada dengannya, kemudian ia


membuka cover bag kedua yang berisi peralatan kecantikan.


 Kenapa banyak sekali. Hmm, Aku tidak membutuhkan ini tante.Selain tidak


pernah memakainya, aku juga tidak mahir menggunakannya.Gumam Adiba diiringi tawa kecil mengingat


dirinya yang tidak bisa berdandan dan mengingat kejadian aneh itu.


 Kejadian dimana


Adiba hendak mengikuti lomba Pidato Tingkat Kabupaten, karena ingin melihat


sahabatnya tampil cantik. Adiba pernah di paksa rias oleh semua teman-teman


sekamarnya. Mereka melakukan hal itu karna mereka tau Adiba adalah type


perempuan yang tidak suka berdandan dan selalu tampil seadanya.


 Tapi hasil rias


MUA dadakan alias teman-temannya itu membuahkan hasil. Selain Pidatonya yang


bagus dan menarik Adiba tampil dengan sangat cantik dan anggun yang membuat


para juri terpukau.


 Adiba


mengaduk-aduk isi cover bag itu, dan Nah! Adiba menemukan apa yang carinya. ia


hanya menggunakan bedak dan memakai secukupnya.

__ADS_1


__ADS_2