PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Jadilah istri yang baik


__ADS_3

Gibran tak kunjung melajukan kembali mobilnya,


ia malah menoleh menatap Adiba yang masih menunduk. Melihat pipi Adiba yang sudah memerah seperti


kepiting rebus membuatnya tertawa sinis.


Payah! Hanya seperti itu saja sampai gemetar. Tanpa sadar senyum penuh kemenangan mengembang diwajahnya yang


tampan karena berhasil


menjahiliAdiba.


 Menyadari dirinya sedang di perhatikanAdibamenutup


wajahnya dengan kedua tangannya.


 Lihatlah! dia pasti sedang


menertawakanku. Geram Adiba karena ulah


Gibran membuat jantungnya berdetak cepat.


 "Maaf


tuan, jika anda tidak menyetujui pernikahan ini. saya akan berbicara


kepada mama untuk membatalkan semuanya." Adiba berupaya mencairkan suasana yang tegang melihat


tatapan tajam Gibran. Namun bukan


membuat Gibran senang, tapi hal itu malah membuat Gibran semakin marah.


Rahang kokohnya mengeras, tangannya mengepal keras pada stir mobil.


 Gibran memang tidak menginginkan pernikahan sialan ini tetapi ia


juga tidak ingin membuat mamanya bersedih lagi dan membuatnya semakin bersalah.


Kematian sang Ayah dan tewasnya Ahmad karena ulahnya belum lagi sekarang Ana


kecelakaan yang membuatnya bersedih. Haruskan ia menambah kesedihan Alexa lagi dengan


membatalkan pernikahan ini.


Tidak!Itu tidak akan


kulakukan.


 "Apa?


beraninya kau mengatakan hal itu!!" Secepat kilat Gibran meraih pundak adiba yang


kecil dan mencengkramnya kuat membuat Adiba meringis kesakitan.


 Mendengar ringisan Adiba membuat Gibran mengingat


pesan sang Mama untuk menjaga Adiba. Meski kesal, Gibran tetap melepaskan cengkramannya. Ia beralih menyentuh


pipi Adiba yang lembut, wajahnya ia dekatkan ke telinga Adiba yang terpejam sedari tadi Gibran bergerak


mendekatinya.


 "Bukankah


kau ingin menjalankan amanat ayah mu hm.” Lagi-lagi perlakuan Gibran membuat detak

__ADS_1


jantung Adiba berdegup sangat kencang ditambahhembusan nafas Gibran membuat tubuh Adiba


semakin menegang.


 Gibran mendekatkan wajah mereka, mendaratkan bibirnya ke bibir ranum Adiba. dan ...


CUP


 "Jadilah


istri yang baik" Ucap Gibran sekilas dan langsung memposisikan dirinya kembali. Duduk di belakang kemudi dan melanjukan mobil tanpa ucap.


 Adiba membulatkan mata, tidak percaya dengan baru saja terjadi.


 Aaaaaa anda sudah mencuri bibir


suciku tuan! bahkan sebelum kita


menikah!!! Ya Allah maafkan aku. Batin Adiba menjerit, kemudian seluruh wajah dengan


tangannya. Melihat wajah Gibran adalah hal yang paling dijauhi sekarang. Sama hal nya dengan Gibran, pria berkulit putih itu yang sedang memaki dirinya sendirisekarang.


 Shittt bodoh! apa kau


lakukan? Gadis cupu itu pasti berfikir kau menyukainya. Hei jantung! kenapa kau gila?


ingatlah ada Shella dihatimu!!! Maki Gibran kepada dirinya


sendiri. Hal yang dilakukan tadi membuat dia kesal dibuatnya, jantungnya


berdegup sangat kencang seperti orang sedang berlari maraton.


 Tak ada pembicaraan setelah itu, setelah kejadian tadi membuat suasana semakin canggung. Mereka hanyut di dalam fikiran mereka masing-masing tanpa ada yang


 Setelah lama berada dalam suasana keheningan


dan kecanggungan, tibalah kendaraan mereka di RS yang di tuju. Gibran langsung keluar,meninggalkan


Adiba di dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun.


 Dimana ini? kenapa


dia membawaku ke RS? Hey


pencuri, tunggulah! kau bahkan tidak mengatakan apapun. Menyebalkan!. Ingin sekali Adiba memaki pria pencuri tampan itu, namun sayang nyalinya hanya


sebesar biji salak saat ini. Hanya dengan tatapan saja, pria itu mampu


mencabikcabik ketenangan Adiba.


Gadi itu segera bergegas keluar


dan berlari mengikuti Gibran yang sudah tertinggal beberapa meter. Namun tiba-tiba ...


 Bugh!


“Auw!”


Karena


terlalu fokus pada Gibran membuat Adiba tidak menyadari ada orang yang juga


melintas di hadapannya. Tubuhnya bertabrakan


dengan seorang pria tegap membuat bokongnya mencium manis permukaan lantai.

__ADS_1


Tetapi tidak dengan pria tertubuh tegap itu, dia hanya kehilangan keseimbangan


dan terlambat menahan Adiba.


 "Maaf,


maaf. Maafkan saya nona." Ucap pria itu sambil membantu Adiba yang hendak


berdiri dan meraih tangannya.


 “Apa anda baik-baik saja.”


Tanyanya lagi, matanya menatap lekat wajah Adiba seperti mengingat sesuatu.


 "Iya, saya tidak apa-apa kok Dok, saya yang salah tidak melihat jalan. Tolong


maafkan saya" Ucap Adibasopan. Matanya menangkap


alat yang menggantung dilehernya.


 "Benar tidak apa-apa? siapa


namamu gadis manis?" Tanya Dokter itu yang masih menggenggam tangan


kecil Adiba.


 


***


 Dua orang pengawal


membungkuk ketika sang pemilik Rumah Sakit memasuki lift khusus orang-orang tertentu.


Gibran mengabaikan, adegan di mobil tadi terus saja mengulang hingga membuatnya


kesal. Gibran menahan pintu lift ketika melihat tangan Adiba di gengam oleh


orang yang sangat dikenalnya.


Mata nya menajam melihat


tangan Rino menyentuh sesuatu miliknya. ya, yang ditabrak Adiba adalah dokter Rino sahabat


sialannya.


 Melihat tatapan tajam Gibran dari kejauhan


membuat Adiba menepis tangan Dokter Rino dan langsung berlari menghampiri


Gibran. Dokter Rino


menatap kepergian Adiba dengan senyum manis, dan seketika senyuman itu hilang ketika


melihat tatapan elang Gibran yang tak jauh dari posisi Adiba.


 Oh iya aku ingat, dia


gadis yang dikamar Gibran waktu itu. Haha lihatlah tatapan


matanya, Sepertinya dia sudah benar-benar terinfeksi virus bucin itu. Hahahah.


 


 

__ADS_1


__ADS_2