
"Shella?" Lirih Adiba terkejut.
"Kenapa gadis bodoh? kau terkejut?. Ah jangan....! jangan mati sebelum aku membunuhmu." Gaya bicara Shella seperti berakting sambil tertawa sinis.
Adiba dan Aisyah yang mendengar kata membunuh langsung terlonjak kaget.
-Huaaa jangan bunuh aku, aku masih mau idup. Aku belum nikah belum punya anak belum punya cucu belum punya bao... Aaa aku gk mau mati disini. Teriak Aisyah dalam hati.
Shella mendekatkan wajahnya kewajah Adiba.
Shella semakin bersemangat ketika melihat air mata dipelupuk mata sayu Adiba.
"Hahaha kau bahkan sudah menangis sebelum aku melakukan apapun kepadamu gadis bodoh!." Tawa Shella.
Karna kesal Adiba hanya diam saja, Shella menarik tali yang membekam mulut Adiba.
"Huh" Adiba seperti baru mendapatkan nyawanya kembali.
"Auwww sakit... " Pekik Adiba ketika Shella menarik hijab dan menjambak rambut hitamnya.
Karna tangan yang diikat, membuat Adiba tidak bisa melawannya. Adiba hanya kembali menitikan air matanya sambil menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dikepalanya.
-Perempuan biadab! Zabaniah..!!! akan kutarik **** mu nanti, jika ku lepas dari tali sialan ini. Batin Aisyah yang semakin geram terhadap wanita di depan Adiba.
"Kenapa? sakit? rasa sakit ini tak sebanding dengan penderitaanku gadis bodoh! karnamu aku tidak mendapat fasilitas vip ku lagi dan harus berluntang lantung mencari kerja." Ujar Shella sambil menghempaskan wajah Adiba.
"Apa hubungannya denganku?" Tanya Adiba polos
"Aku mencintai suamiku, jika kau ingin hartanya ambilah. Tapi kumohon biarkan kami hidup tenang dan bahagia" Jelas Adiba yang sudah geram dengan mantan kekasih suaminya.
PLAK....!
Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi putih dan mulus Adiba.
"Beraninya kau bilang cinta pada kekasihku...!"
"Jika Gibran tidak bisa kumiliki, maka kaupun tidak boleh memilikinya." Teriak Shella dan langsung menyambar leher Adiba dengan kedua tangannya.
BUGH...!
__ADS_1
Belum sempat tangan Shella menyentuh kulit Adiba, Gibran menarik tangan Shella dan menyingkirkannya.
PLAK,
PLAK...!
Gibran menampar keras kedua pipi Shella dengan kepalan tangannya, membuat Adiba dan Aisyah terkejut.
Gibran yang melihat istri tercintanya diperlakukan kasar membuat darahnya mendidih dan membuat Gibran berani menampar keras Shella sebagai balasan.
Padahal sebelumnya, Gibran tidak pernah menyakiti perempuan apalagi orang yang dicintainya termasuk Shella sekalipun. Tapi sekarang, dirinya tak bisa dikendalikan ketika melihat penderitaan yang dialami Adiba.
"Gibran?" Pekik Shella terkejut.
"Sekali lagi kau sentuh Adibaku, akan ku habisi kau seperti kekasihmu Darren...!" Peringatan tegas keluar dari mulut Gibran.
"Bawa dia!!" Teriak Gibran kepada para bodyguardnya.
Para pesuruh Shella sudah diringkus habis oleh pasukan Gibran. Gibran yang frustasi karna hilangnya Adiba membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Kemudian sekertaris Vino menyarankan menambah pasukan agar mempermudah pencarian.
Gibran langsung menuruti saran Vino, tak tanggung-tanggung. Seluruh pasukan militer darat pribadi dikerahkannya, dan lantas mereka memenuhi bukit hijau asri tersebut.
Alex langsung meringkus Shella dengan kasar dan membawanya masuk kedalam truck militer.
...---...
Gibran berlari menghampiri Adiba sambil membuka jas mewahnya, kemudian membalut kepala Adiba untuk menutupi rambutnya.
Dengan posisi berjongkok untuk mensejajari posisi Adiba, Gibran membuka tali besar yang melilit tangan kecil istrinya. Menyentuh kedua pipinya, dan mengarahkan kewajahnya.
Gibran mengelus lembut kedua pipi Adiba yang sedikit merah akibat tamparan Shella. Membuat Gibran semakin merasa berasalah.
"Maafkan aku tidak bisa menjagamu" Lirih Gibran sambil menempelkan keningnyanya ke kening Adiba sehingga hidung mancungnya menyentuh hidung Adiba.
Adiba yang mendapat perlakuan lembut Gibran hanya diam saja, dia tidak menyangka jika Gibran benar-benar mencintainya sekarang.
Tak mendapatkan jawaban dari Adiba, membuat Gibran resah dan ketakutan. Gibran langsung memeluk erat tubuh istrinya dengan sangat kuat.
"Kumohon maafkan aku, tolong jangan pergi jangan tinggalkan aku" Lirih Gibran karna takut jika Adiba pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Adiba melepaskan pelukannya, membuat Gibran semakin gusar menatap wajah cantik yang sudah lusuh itu.
Adiba menyeka sedikit air mata Gibran yang sempat jatuh tadi.
"Jangan menangis" Ucap Adiba lembut.
"Aku lebih baik mati jika harus pergi dari suamiku" Ucap Adiba membuat bibir Gibran tersenyum merekah dan kembali memeluk Adiba.
"Aku mencintaimu" Ujar Gibran di sela pelukannya.
"Aku lebih mencintaimu" Jawab Adiba sambil membalas pelukan Gibran dan mengusap rambut suaminya.
Sekertaris Vino dan para pasukan Gibran hanya berdiam diri menyaksikan adegan slow romance tuannya. Mereka terharu dengan sisi lain Gibran yang jarang dilihat publik.
Aisyah yang sudah bebas dibantu sekertaris Vino ikut menyaksikan adegan tersebut. Aisyah kembali berkayal tentang dirinya yang akan menjadi putri disebuah kerajaan.
"Wahh romantisnya... aku pun i--" Belum semput ucapan Aisyah beres, Vino membekam mulut Aisyah dan menariknya keluar.
"Ishh kebiasaan deh, doyan banget deket-deket gue" Protes Aisyah yang sudah bedara di luar.
"Deket? Sorry bukan typeku...! mulut ema-ema tu mesti dimusnahkan!" Ucap Sekertaris Vino sinis sambil pergi meninggalkan Aisyah untuk kembali kegudang.
"Eh sembarangan..! lu tu ya ngeselin banget si jadi orang. Spesies ketek paus kayak lu tu yang mesti dimusnahin." Teriak Aisyah yang geram terhadap sikap Vino yang Arrogant.
Vino yang sangat benci dengan panggilan aneh tersebut langsung membalikan badan dan mencium bibir Aisyah dengan cepat.
Entah kenapa, Sekertaris Vino selalu ingin menghukum gadis gila itu dengan cara seperti ini agar membuatnya langsung diam seribu bahasa.
Aisyah dan Vino sempat berpandangan persekian detik akibat terlonjak, kemudian memalingkan wajahnya dengan cepat.
"Ihhh ngeselin banget si" Teriak Aisyah sambil mengusap-ngusap bibirnya.
"Tidak usah di lap, nanti minta nambah" Ejek Sekertaris Vino sinis kemudian pergi.
"Ihh ke---" Aisyah memberhentukan ucapannya karma sadar akan membahayakan.
"Ihhhh dasar Arrogant kepedean!!!" Teriak Aisyah yang dijawab senyuman oleh Vino dari jauh.
"Apa katanya? minta nambah? ihh ogah!! Bakal gue bersihin pake tanah liat. Pake tanah 7 rupa sekalian." Geram Aisyah.
__ADS_1