
Adiba dan Gibran kini sudah tiba dirumah sakit.
"Hay bro, ada apa kau kemari?" Dokter Rino terkejut dengan kedatangan sahabatnya yang menakutkan ini. Tak biasa Gibran datang ke rumah sakit, jika bukan mengecek laporan keuangan dan renovasi rumah sakit dia tidak pernah datang kesini. Mandat dan tugas ia serahkan sepenuhnya kepada dokter Aditya, ayah Rino.
Gibran berdecih ketika mendapatin Dokter Rino menatap istrinya, dengan cepat ia merangkul pundak Adiba agar lebih menempel padanya. Gibran lebih posesif semenjak kehamilan Adiba, ditambah dengan postur tubuh Adiba yang berubah lebih berisi membuatnya lebih seksi dimata Gibran.
"Buahahaha!!." Gibran dan Adiba saling pandang menatap dokter Rino.
"Hey tuan muda, tenanglah! aku juga masih ingin hidup sekarang."
Adiba menoleh
siapa dokter ini? kenapa dia berbicara seolah kenal denganku?
Dokter Rino langsung menelan ludah ketika tatapan tajam Gibran seakan mencabik-cabik tubuhnya.
Glek. kau ini tidak pernah berubah!
"Periksa istriku!"
"Hah?" Ada apa? Rino kembali melirik Adiba yang sepertinya sehat sehat saja.
"Jaga matamu, atau aku.. "
"Atau aku akan mengirimmu kepulau terpencil!." Rino melanjutkan, dia sudah sangat hafal dengan ancaman Gibran yang menjengkal itu.
Kau fikir aku hewan peliharaanmu!.
Gibran tersenyum tipis. Rino memang tak sepatuh Aditya Namun dia sangat pintar dalam mengelola rumah sakitnya.
"Bagus, dia sedang hamil dan aku ingin kau memerintahkan dokter kandungan wanita untuk memeriksanya!."
Bukan permintaan lebih tepatnya perintah!
"Tapi, tidak ada dokter kandungan wanita disini!" Ucapan dokter Rino sukses mengalihkan mata yang sedari tadi menatao wajah Adiba sambil membelainya, dia menatap tajam kearah Rino. Seolah berkata.
BODOH!! RUMAH SAKIT SEBESAR INI TIDA ADA DOKTER KANDUNGAN WANITA!! TIDAK BECUS!
Tangan yang sedari tadi membelai pipi Adiba kini sudah berubah menjadi kepalan, Gibran berusaha meminimalisir amarahnya, dia tidak ingin kembali membuat Adiba ketakutan dan menangis. Terlihat
Tapi, hanya dengan tatapan saja. Dokter Rino sudah merasakan umpatan demi umpatan yang seolah keluar dari mulut Gibran.
__ADS_1
"Rinooo.. ... " Hanya itu yang keluar dari mulut Gibran, meski masih terdengar sangat menakutkan tapi masih beruntung nyawanya selamat karna nona Adiba sekarang.
"Maaf tuan muda, untuk kedepannya saya akan mencari dokter kandungan wanita khusus untuk nona Adiba." Rino berusaha menjelaskan. Kata-kata yang kekuar dari mukutnya ia pilih dan tata dengan sangat rapi.
Gibran menghembuskan nafas, Adiba yang menyadari kemarahan Gibran pun mengelus lengan suaminya. Tidak apa-apa. Adiba tersenyum.
Gibran langsung luluh mendapati senyuman dari Adiba. dengan segera ia mengizinkan Adiba masuk untuk diperiksa.
Kini, Adiba sudah berbaring. Tangan seorang dokter kandungan yang sedang bertugas terus bergetar ketika sepasang mata tajam terus saja menatapnya tanpa terkecuali. Padahal dia sudah puluhan bahkan ratusan kali memeriksa ibu hamil. Tapi kali ini berbeda, tubuhnya bahkan sudah bercucuran keringat.
Dokter Rino yang menyadari kegugupan bawahannya hanya menahan tawa.
Kau seperti sedang memutilasi orang, hahaha
Adiba antuis ketika sebuah layar sudah menampakan bayi mereka.
"Bayi anda sangat sehat nona, dia tumbuh dengan sangat baik." Dokter Kevin menjelaskan.
Gibran juga turut antisipasi ketika mendengar kata 'bayi'
"Berapa usianya?." Gibran bertanya dengan mata yang masih menatap layar tangannya terus saja menggenggam tangan Adiba.
"Usianya sekarang 6 minggu."
Mengucap kata Vino, dia langsung mengingat sekertarisnya kemudian meraih handphone dan menelponnya.
"Kau langsung saja ke kantor, aku akan menyusul nanti"
"Baik tuan" Gibran langsung menutup telponnya kemudian mengikuti dokter Kevin untuk mendapati keterangan lebih lanjut.
...---...
Sedangkan di dalam mobil, Anna terus berusaha mendekati Sekertaris Vino. Kebaikan kakak ipar memang menguntungkan baginya, dia memang menginginkan situasi langka seperti ini.
Semenjak kabar sekertaris Vino akan menikah tempo hari membuatnya sangat gelisah.
"Vin?" Lirih Anna, dia menggugit bibir bawahnya setelah mengucapkan nama pria yang menjadi obsesinya belakangan ini.
Pria itu tetap diam, matanya hanya fokus menyetir. Tangannya lihai memutar mutar setir mobil, dia menyetir dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia melakukan hal itu agar cepat sampai.
Sungguh berdua dengan gadis yang dulu dicintainya ini sangat tidak nyaman, jika dulu ia sangat menginginkan situasi seperti ini. namun lain hal nya sekarang, hati dan tubuhnya sudah ia cap dan akan ia persembahkan untuk calon istrinya yang cerewet namun menggemaskan itu.
__ADS_1
Sayang! tunggu aku.
Gumam Vino yang tidak sabar untuk datang kerumah Aisyah dan menentukan tanggal pernikahan mereka.
"Aw! " Gadis itu meringis, ketika Vino tak sengaja menginjak rem dengan tiba-tiba.
Tapi, bukankah dia pakai sabuk pengaman?
Sekertaris Vino tidak menghiraukan, dia hanya menatap Anna sekejap kemudian kembali fokus menyetir.
Anna yang sangat geram dengan tingkah Vino yang sok jual mahal padanya pun naik pitam. Bagimana tidak? pria ini dulu bahkan mengemis-ngemis cinta padanya.
Dengan nekat Anna membuka sabuk pengaman kemudian duduk diatas paha Vino yang membuat Vino menginjak rem kembali untuk menghindari kecelakaan.
Posisi Anna yang duduk di atas pahanya menghalangi pandangannya.
Vino tetap diam, dia membiarkan Anna melakukan hal yang dia mau.
"Vin aku sangat mencintaimu. kumohon maafkan aku, bukankah kau juga mencintaiku" Lirih Anna sambil membelai pipi Vino yang lembut.
Kediaman Vino membuat nyali Anna lebih nekat. Dia mencium bibir Vino dengan sangat rakut, ia bahkan mengarahkan kedua tangan Vino agar meremas ***********.
Menekan tengkuk leher Vino lebih dalam.
Namun, di detik kemudian, Sekertaris Vino memutuskan pautan mereka dan menyingkirkan tubuh Anna dengan kasar.
mengelap bibirnya dengan tissue dan membersihkan tangannya dengan hansanitizer.
"Aku sudah mengambil keputusan benar dengan tidak lagi mencintai wanita sepertimu!" Vino berbicara dengan sangat dingun.
kata 'Sepertimu' sangat menyakitkan bagi Anna setelah kejadian memalukan tadi. Dia rela seperti jalang yang mempersambahkan dirinya dijamahi oleh pria yang dicintainya dengan harapan Vino dapat tergoda dan menerimanya kembali.
Namun naas, nasi sudah menjadi bubur. Hati dingin yang dulu luluh karnanya kini sudah sirna.
Anna mengepalkan tangannya, dia sangat membenci Aisyah!
Di detik yang sama ketika sepasang insan yang di dalam mobil sedang perpautan ada sepasang mata coklat menatapnya, ia menangis menyaksikan kegiatan menjijikan hal tersebut.
Kaca mobil yang terawang semakin membuat hati gadis itu semakin sakit, apalagi ketika tangan si pria meremas ***********. meski si wanita yang mengarahkan, namun pria itu tetap mengikut dan menikmatinya.
Dan di detik Vino menyingkirkan tubuh Anna, gadis itu sudah langsung pergi berlari. Menelan kekecewaan yang mendalam.
__ADS_1
aku benci kamu! aku benciii!!!!!!