PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Perkenalkan, dia calon Istriku


__ADS_3

"Siapa


kamu? Lepaskan!!!". Bentak Ana


Adiba melangkah mundur ketika melihat wajah Ana


yang cantik itu marah, ia membiarkan Ana memposisikan badannya yang hendak


duduk sendiri. Tapi tiba-tiba …


"Auw!"


Tangan Ana tidak kuat walau hanya menopang beban tubuhnya saja. Refleks Adiba


menyentuh bahu Ana berniat membantunya, tetapi Ana menepis tangan Adiba kasar


dan mendorongnya.


"Siapa


kau? beraninya menyentuhku?" Bentak Ana kembali.


"Dia


calon istriku!!" Jawab Gibran yang tiba-tiba datang bersama


sekertaris Vino. Gibran  menopang badan


Adiba yang hendak tersungkur kelantai.


Gibran terbangun pukul 06:00 pagi, kepalanya


begitu pusing dan kantuk. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya memulihkan semua


nyawanya. Gibran ingin kembali melanjutkan tidurnya, seketika ia mengingat


Adiba yang berada di Rumah Sakit. Dalam sekejap rasa pusing dan kantuknya


hilang ia langsung berdiri meninggalkan kasurnya dan membersihkan badan.


"Hah?


Calon istri?" Tanya Ana yang tidak percaya akan kakaknya.


Ana menatap Adiba lekat-lekat dari bawah hingga


atas. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ia menggelengkan kepalanya.


Takut jika penglihatannya kabur hingga salah lihat.


“Ini


bukan kak Shella kan?” Masih menatap tidak percaya.


Kak shella? siapa dia? Apa


dia kekasih tuan wajah datar ini? Batin Adiba.


Yang Ana tahu Gibran kakaknya hanya mempunyai


kekasih bernama Shella sahabatnya, kakaknya Gibran hanya mencintai Shella.


Tidak mungkin wanita yang ada dihadapannya ini adalah calon Istrinya, dari


penampilannya saja sangat berbeda jauh dari kriteria kakaknya. Shella yang


selalu tampil cantik dan sexy sedangakan dia, dia hanya memakai baju tidur yang


panjang hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah telapak tangan dan


telapak kaki.

__ADS_1


"Tentu


saja bukan! Perkenalkan! Dia


Adiba, calon istriku." Suara santai Gibran sukses membuat Anna memulatkan


mata, tak lama matanya menatap lekat menyelidik.


Tidak ingin terlihat aneh, Gibran merangkul


bahu Adiba mendekatkannya agar lebih masuk dalam dekapannya. Hal itu membuat


Adiba salah tingkah dibuatnya lalu menatap Gibran.


"Tersenyumlah!".


Bisik Gibran yang mendekatkan wajahnya ke wajah Adiba.


Hal itu membuat


pipi Adiba memerah seperti kepiting rebus, Adiba langsung menjauhkan wajahnya


dari posisi tersebut dan tersenyum kepada Ana.


Gibran tak membiarkan Adiba menjauh, Gibran


kembali menarik Ana dan semakin mendekapnya dalam pelukannya. Adiba menutup


wajahnya yang sudah tak tahan menanggung malu itu dengan tanggannya.


Gibran tersenyum melihat tingkah Adiba yang


lucu, dengan lebih sengaja Gibran merangkul Adiba dari belakang dan memengang


tangan Adiba yang menutupi wajah cantiknya, Gibran menarik tangan itu dengan


kedua tangan dan menaruhnya di pinggang ramping Adiba dan …


Gibran mengecup lembut pipi kiri Adiba dengan


cepat.


Aaaaa drama apalagi


yang dilakukannya. Kau sangat tidak mempunya malu tuan.Kesal Adiba dengan tingkah Gibran.


Ana dan sekertaris Vino melongo tidak percaya


dengan apa yang dilakukan oleh Gibran. Tidak biasanya seorang Gibran melakukan


hal itu di depan umum. Bahkan Gibran tidak pernah melakukan hal itu dengan


Shella sekalipun.


"Gak


usah sok romantis seperti itu!"


Kesal Ana membuang arah.


Melihat keromantisan kakaknya membuat Ana


kembali teringat kepada kekasihnya Darren yang selalu bersikap romantis


terhadapnya.


Tak lama kemudian …


"Ana!


kamu sudah sadar sayang?" Mama Alexa datang dengan menenteng

__ADS_1


beberapa makan di tangannya, Ia langsung berlari melihat putri kesayangannya


telah siuman.


Mendengar suara mama Alexa Gibran dan Adiba


langsung melepaskan pelukannya. Adiba semakin memerah karna malu sedangkan


Gibran hanya memasang wajah datar tampannya seolah-olah tidak terjadi apapun.


"Iya


Ma" Senyum Ana kepada mama Alexa. Alexa memeluk Ana dengan


lembutnya menikmati kehangatan dari tubuh putrinya itu.


"Kamu


baik-baik saja? apa ada yang sakit?" Melepaskan pelukan dan


memeriksa tubuh Anaknya.


"Iya,


aku tidak apa-apa ko"


Jawab Ana.


Mama Alexa yang baru menyadari putranya langsung berbalik, menyerangnya dengan tatapan taja,


"Darimana


saja kamu?" Tanya mama Alexa ketus kepada Gibran


"Apa


yang membuatmu kecelakaan?" Bukannya menjawab pertanyaan Alexa,


Gibran malah balik bertanya kepada Ana dengan wajah khasnya.


Ana menundukan wajah, mengingat kejadian itu


membuatnya bersedih.


"Ketika


Ana menyetir, Ana mendapat kabar kalau Darren meninggal. Saking fokusnya membuat


Ana tidak sadar ada seorang gadis melintas dihadap mobil, Ana membanting setir


dan menabrak pohon besar." Menjawab dengan nada suara yang sudah


terbata-bata.


Benar dugaanku. Batin Gibran.


"Apa


hubunganmu dengan Darren An?” Tanya Alexa menyelidik, bagaimana bisa


hanya mendengar kabar laki-laki tidak sopan itu Anna sampai tidak focus menyetir.


Ana gelagapan mendengar pertanyaan yang


dilontarkan Alexa, selama ini ia tidak pernah jujur kepada sang mama mengingat


mamanya yang  sangat tidak menyukai


Darren. Akhirnya Ana menjalin hubungan bersama Darren tanpa sepengetahuan Alexa


dan hanya diketahui oleh Gibran.

__ADS_1


__ADS_2