
Suasana hening menyelimuti, angin alam segar masuk dari celah jendela tetapi tidak menyejukkan malah membuat keringat basah penuh ketegangan bagi siswa/i yang sedang mengerjakan Ujian Terakhir ini. Pasalnya mereka di awasi oleh guru paling killer di sekolahannya.
Berbeda dengan Adiba, ia mengikuti ujian dihari terakhirnya ini dengan tenang dan sangat serius, ia memang sudah bertekad harus lulus dengan nilai terbaik tahun ini agar bisa membanggakan ayahnya. Tetapi sang ayah sudah lebih dahulu meninggalkannya bahkan sebelum ia wisuda dan membanggakannya. Adiba tetap optimis dan semangat untuk itu.
"Alhamdulillah selesai." Ucap Adiba tersenyum sambil membolak balikan Lembar Jawban soal untuk memastikan.
"Ishhh kebiasaan deh, cepet banget si Ba
aku aja baru nomor berapa." kesal Aisyah mendengar ucapan Adiba.
"Hehe." Adiba hanya nyengir kuda
"Aku duluan ya." Timbal Adiba lagi dan langsung berjalan kedepan mengumpulkan lembar jawaban.
"Eh, eh tungguin ihhh
masa ditinggalin, gak asyik ah." Jawab Aisyah sambil memajukan bibirnya
"Punya otak padet banget si!!!
encer dikit napa!!" Ucap Asiyah memaki dirinya sendiri.
"Tambahin air biar encer syah.hahaha." Timbal Sarah
"Sialan!!!" Jawab Aisyah
Tak lama Adiba kembali dan membereskan alat tulisnya terdengar bel berbunyi tanda waktu ujian berakhir.
"Waktu habis! silahkan dikumpulkan kedepan." Ujar Pak Ujang dengan nada tinggi menatap tajam satu persatu siswa/i yang masih ribut mengisi soal.
Adiba keluar bersama Aisyah dan Sarah. diikuti dengan beberapa siswa/i di belakangnya, baru saja hendak melewati pintu.
"Adiba!!" Panggil Pak Ujang
"Hayo lho dipanggil guru killer itu
lo si pinternya kebangetan. Haha" Sahut Sarah cekikikan diikuti oleh Aisyah.
Adiba menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap pak Ujang.
"Iya, pak?" Jawab Aisyah menunduk
"Ditunggu pak Harman diruangannya." Titah Pak Ujang
"Baik pa, terimakasih." Jawab Adiba
__ADS_1
Tok,,,,,tok,,,,,tok,,,,,
"Masuk !" Jawab Pak Harman dari dalam ruangan
Adiba memasuki ruangan kepala sekolah tersebur, matanya langsung tertuju dengan seorang pria berjas hitam yang sedang duduk didepan Pak Harman dengan mengangkat satu kaki disimpan dikaki lainnya.
"Apa ujiannya sudah selesai Adiba?" Tanya pak Harman menatap wajah cantik Adiba lekat-lekat.
"Sudah pak." Jawab Adiba menunduk tanda ia sangat menghormati pak Harman.
"Baiklah, pak Gibran sudah menunggumu.
Pulanglah" Ujar Pak Harman.
Adiba hanya menganggukan kepalanya, ia tidak akan bisa melawan untuk menghindarinya hanya akan membuang waktu dan tenaganya saja.
"Ini surat undangan pernikahan kami dan cek 100 juta sebagai tanda terimakasih."
Ucap Gibran dengan wajah datarnya sambil menyodorkan 1 undangan dan 1 lembar cek berharga.
Adiba dan Pak Harman sama-sama melongo mendengar ucapan Gibran.
-Jika begini caranya, aku bersedia menampung 100 Adiba disini. Batin Pak Harman ketika jiwa matrenya meronta-ronta.
-Surat undangan? aku bahkan baru selesai ujian dan belum menerima kelulusanku?. Batin Adiba bertanya-tanya sendiri
"Kita akan kemari lagi ketika wisuda nanti." Timbal Gibran lagi.
"Ba-baik pak saya tunggu kehadirannya nanti bersama Adiba." Jawab pak harman yang masih kegirangan seperti sehabis mendapatkan pertandingan.
Gibran langsung berdiri, meraih tangan Adiba dan membawanya keluar.
Setelah di depan pintu,
"Maaf tuan, saya akan mengambil barang-barang saya terlebih dulu." Jawab Adiba sambil menepis tangan Gibran.
Gibran tidak menggubris ucapan Adiba ia hanya melihat tangannya yang di tepis oleh gadis di depannya ini.
-Beraninya!! tunggu pembalasanku gadis norak!!" Batin Gibran.
"10 menit,!!" Jawab Gibran
Adiba langsung berlari membereskan semua barang-barangnya yang bum sempat ia masukan dengan tergesa-gesa.
"Kenapa Ba?" Tanya Aisyah yang kebetulan sedang dikamar.
__ADS_1
"Tuan Gibran ngejemput." Jawab Adiba ngos-ngosan
"Cie yang udah mau nikah, baru saja selesai ujian udah dijemput aja.
jadi pengen deh." Ujar Aisyah mendekati Adiba.
Adiba tidak menggubris ucapan Aisyah ia hanya fokus memasukan barang-barangnya kedalam tas.
Setelah selesai, dengan tiba-tiba Adiba memeluk Aisyah...
"Terimakasih untuk semuanya syah.
Nitip salam untuk Sarah, Gina dan yang lainnya ya.
Wisuda nanti aku akan kembali" Lirih Adiba yang sudah meneteskan air matanya.
Tak dipungkuri Aisyah dan Sarah adalah sahabat sekaligus teman hidupnya selama 3 Tahun ini. Ketika kesedihan meliputinya, Aisyah dan Sarah lah yang sering menghibur dan membantunya
Aisyah tersenyum menatap wajah Adiba dan mengelus lemput pipi Adiba.
"Sama-sama Adiba.
jadi istri yang baik ya, kita tunggu kedatanganmu." Jawab Aisyah.
***
Adiba berlari menuju parkiran dengan membawa tas dan beberapa tentengan ditangannya. Banyak siswa/i yang menatapnya heran, Adiba tidak memperdulikannya ia hanya fokus bagaimana caranya agar cepat sampai.
Adiba melihat mobil milik Gibran terparkir disana dan menghampirinya, matanya melirik kesana kemari mencari keberadaan sang pemilik. Tak lama kemudian kaca mobil terbuka
"Masuk!!" Titah Gibran yang sudah duduk di belakang kemudi.
Dengan nafas yang masih ngos-ngosan Adiba membuka pintu dan masuk membawa semua barangnya.
"Telat 1 menit" Ujar Gibran sambil menatap arloji yang melingkar di tangan kanannya.
"Ma-ma tuan" Lirih Adiba menundukan kepala, ia sangat takut menatap wajah dingin Gibran.
"Tidak semudah itu, kau harus membayarnya!!" Tegas Gibran sambil melihat tangan Adiba yang menenteng barang.
-Hah? bayar?
isshhh, padahal cuman 1menit. uang darimana aku akan membayarnya. Batin Adiba kesal
"Sebanyak itu? awas saja barang-barang itu menodai mobilku meski setetes!!" Timbal Gibran lagi sambil melajukan mobil meninggalkan arean sekolah.
__ADS_1
"Ma_maf tuan." Lirih Adiba mendekap semua barangnya erat-erat, tidak ingin sampai menjatuhkannya di kursi mobil mewah Gibran dan meninggalkan noda.