PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Diamlah jantung bodoh!


__ADS_3

Setelah acara makan malam selesai, Gibran mengajak Adiba ke taman hijau yang terdapat dihalaman villa diikuti oleh Vino dan Aisyah. Gibran mengajak Adiba duduk disebuah kursi yang hanya bisa diduduki dua orang.


"Apa kau bahagia?" Tanya Gibran yang sudah duduk disamping Adiba sambil membelai lembut pipi istrinya.


Adiba menatap wajah Gibran dengan lekat. Tak disangka, dirinya bisa mendapatkan cinta suaminya yang sudah lama diperjuangkannya.


"Makasih banyak" Jawab Adiba tersenyum, tak dipungkiri dirinya sangat bahagia saat ini.


Gibran merengkuh bahu kecil istrinya dan mendekatkan wajah Adiba ke dada bidangnya. Adiba hanya mengikuti apa yang dilakukan suaminya, udara dingin dari alam membuatnya semakin betah dan mencari kehangatan ditubuh suaminya.


Vino dan Aisyah yang berdiri tepat dibelakang mereka hanya menatapnya tanpa bersuara.


-Nasib..! nasib..! Diajak liburan cuman buat liat yang lagi bucin aja. Batin Aisyah.


Merasa dirinya tak dibutuhkan lagi, Vino menarik tangan Aisyah ke taman sebelah menjauhi tuan dan nonanya.


"Ish lepasin....!" Aisyah berusaha melepas cengkraman tangan Vino yang kuat, tapi Vino tidak memperdulikan ocehan gadis gila ini.


Setelah sampai di tempat yang tak dijangkau tuannya, Vino menghempaskan tubuh Aisyah dengan kasar.


"Ishh, kau itu kasar sekali. Dasar ketek paus..!" Umpat Aisyah sambil mengusap-ngusap pergelangan tangannya.


"Berani kau menyebutku sepert itu lagi akan ku..." Ucap Vino sambil menunjuk wajah Aisyah


Belum sempat Sekertaris Vino mengucapkan kata-katanya, Aisyah sudah menyambarnya.


"Akan apa? Dasar ketek paus, ketek paus, ketes paus....!!!" Teriak Aisyah sambil tak kalah tajamnya menatap wajah Sekertaris Vino.


"Shit...!" Ucap Vino dan langsung menyambar bibir Aisyah secepat kilat.


Tingkah Vino berhasil membuat Aisyah langsung terdiam seketika, Aisyah membulatkan matanya ketika bibir mereka bersentuhan sangat lama dengan posisi Vino memegang kepalanya.


Wajah mereka sangat dekat hingga hidung keduanya berani, mereka terdiam persekian detik membuat jantung keduanya berlonjakan tak karuan.


-Sial..! diamlah jantung bodoh!. Umpat sekertaris Vino yang kesal


Niat mengerjai gadis gila ini agar tidak mengoceh lagi, malah dirinya yang seakan dikerjai oleh tingkahnya sendiri.

__ADS_1


-Aaaaa ketek paus kurang ajar..!! Batin Aisyah berteriak.


Setelah sadar akan posisinya, mereka langsung enyah dari posisi tersebut dan saling mengusap bibir masing-masing.


"Itu hukuman untukmu jika kamu berani memanggilku dengan sebutan aneh itu lagi" Ancam Vino dengan wajah datarnya yang langsung pergi meninggalkan Aisyah yang masih mematung di tempat.


Berbeda jauh dalam hatinya, Vino merasakan malu yang teramat luar biasa.


-Bodoh... apa yang kulakakukan tadi?. Batin Sekertaris Vino saat berjalan menjauh


"Aaaa dasar ketek paus gila....!!" Teriak Aisyah membuat Gibran dan Adiba yang sedang berpelukan melepaskan pelukannya karna mendengar jeritan perempuan.


"Aisyah..?" Adiba khawatir dan takut temannya berada dalam bahaya.


"Tenanglah, tidak akan terjadi apapun. Aku sudah memerintahkan Vino untuk menjaganya." Ujar Gibran yang kembali mendekap istrinya.


Mendengar penuturan suaminya membuat Adiba lega, dia sangat bahagia sekarang. Tak hanya kepada dirinya, suaminya bahkan memerhatikan temannya sekarang.


Adiba memeluk Gibran dengan sangat erat.


"Proyek?" Tanya Adiba heran menatap wajah suaminya.


"Proyek membuat Gibran junior" Suara Gibran terdengar sangat sensual kembali di telinga Adiba.


Blushh, ucapan Gibran membuat wajah Adiba merah seketika. Gibran tersenyum puas ketika melihat perubahan wajah istrinya, membuatnya semakin bersemangat menjalankan aksinya.


Gibran mulai mendekatkan wajahnya dan mencium bibir ranum istrinya, Gibran menggendong Adiba Ala bridal Style tanpa melepaska pautannya.


Gibran meletakan tubuh Adiba diatas ranjang ketika sudah sampai dikamar mereka. Tubuh Gibran sudah merengkuh tubuh kecil istrinya dan membuka hijab yang dikenakannya.


"Kau tidak boleh memakai hijab saat sedang dikamar bersamamaku" Ucapnya terdengar sangat berat


Adiba menganggukan kepalanya pelan, tapi tak lama kemudian dia langsung terlonjak ketika merasakan benda keras dibawah sana.


"Apa kau ingin segera merasakannya?" Tanya Gibran menggoda sembari terseringai ketika mengetahui penyebab perubahan wajah Adiba yang terkejut.


Pertanyaan yang gila menurut Adiba, dia merasakan malu luar biasa di depan suaminya sendiri sekarang. Bagaimana bisa suaminya bertanya hal yang sangat vulgar tersebut.

__ADS_1


Gibran sengaja menahan hasratnya, dia ingin melakukan hal lain yang membuat Adiba terangsang terlebih dahulu.


"Ahhh" Suara Adiba lepas keluar begitu saja ketika jari Gibran sudah masuk di area intimnya dan bermain-main disana.


Gibran semakin tersenyum penuh kemenangan. Dia sengaja akan memberikan kenikmatan luar biasa tanpa tekanan dan kekasaran kepada istrinya hari ini.


"Apa aku boleh memulainya?" Tanya Gibran di telinga Adiba kemudian menggigit kecil telinganya membuat bulu kuduk Adiba berdiri.


"Tumben, biasanya juga tanpa permisi" Jawab Adiba membuat Gibran tersenyum.


"Karna sekarang kau sudah menjadi bagian dari hidupku, maka aku wajib menghormatimu" Ujar Gibran lembut membuat Adiba tersenyum bangga terhadap suaminya.


"Apa aku boleh memulainya?" Tanya Gibran lagi karna sudah tak kuat lagi menahan hasratnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.


Adiba menganggukan kepalanya pelan.


Mendapat persetujuan istrinya, secepat kilat Gibran langsung melakukan penyatuannya dengan sangat lembut.


Adiba menggigit bibir bawahnya ketika merasakan benda keras tadi masuk kedalam tubuhnya. Adiba meremas sprai putih diikuti dengan tangan Gibran yang menggenggamnya memberikan kekuatan.


Hal itu membuat Adiba meremas tangan Gibran dengan sangat kuat ketika Gibran mulai memompa tubuhnya berkali-kali.


Cuaca dinginnya alam tak terasa bagi kedua insan yang sedang menikmmati syurganya dunia ini. Desahan Adiba yang terdengar seperti alunan musik merdu bagi Gibran membuatnya lebih bersemangat menyelesaikan proyeknya.


Keringat basah sudah bercampur antar keduanya, entah berapa kali Gibran melakukan pelepasannya membuat tubuh Adiba terkulai lemas tak kuat lagi menyeimbangi pemainan suaminya.


Sama halnya dengan Gibran yang merasakan lelah karna sudah melewati puncaknya berkali-kali, tapi tubuhnya enggan melepaskan penyatuan mereka. Karena sekarang, tubuh Adiba sudah menjadi candu baginya.


Gibran mempercepat gerakan pinggulnya ketika melihat istrinya sudah bercucuran keringat di pelipisnya. Keduanya sama-sama mendengar ketika Gibran berhasil menyelesaikannya.


Gibran mencium lembut kening Adiba dan menyeka keringatnya.


"Terima kasih sayang" Ucapnya lembut menatap wajah istrinya.


Adiba menjawabnya dengan senyuman kemudian langsung tertidur karna lelahnya. Gibran menarik selimut dan menutupi tubuh polos istrinya hingga keleher. Dia meraih kimono handuknya.


Ditatapnya wajah cantik istrinya yang sedang tertidur pulas sambil memakai kimononya, kemudian Gibran memutuskan untuk turun kelantai dasar.

__ADS_1


__ADS_2