PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Dirumah sakit


__ADS_3

"Bagaimana


keadaan anak saya dok?" Tanya Alexa gelisah kepada dokter yang baru saja membuka pintu. Dokter Satya langsung menunduk mendapati pemilik Rumah sakit


sudah tiba.


"Putri anda baik-baik saja nyonya. Untung saja benturan


dikepalanya tidak terlalu keras dan cepat dilarikan kerumah sakit.”


“Alhamdulillha.”


Lirih Alexa sambil menghapus buliran di matanya. Mendapat kabar putrinya


kecelakaan membuat Alexa cemas dan takut. Sudah cukup kepergian suaminya tidak


boleh ada lagi.


“Kita


tunggu saja, semoga beliau segera siuman."


Alexa mengangguk, apapun


akan dia lakukan asal putri bungsunya Anatasya Adelard Wijaya segera siuman dan


sembuh.


"Boleh


saya menemuinya dok?" Tanya Alexa yang masih tampak khawatir pada


putrinya.


"Silahkan


nyonya, kalau begitu saya permisi." Dokter satya melenggang pergi setelahmembungkukan badannya.


Alexa melangkahkan kedua kakinya yang sangat berat itu keruangan VVIP dimana Ana ditangani. tangisnya kembali pecah ketika


melihat banyak alat bantu yang menempel ditubuh putrinya. mendekati putrinya yang sedang terbaring lemah


disana,


Alexa mengelus pipi Ana dengan sangat lembut.


“Sayang, kenapa kamu bisa seperti ini? Kenapa musibah selalu


datang seenaknya, hiks, hiks.”


Tangisnya semakin menjadi ketika mengingat musibah yang selalu datang


dikeluarganya secara bertubi-tubi. Ia belum bisa menerima kenyataan pahit

__ADS_1


ditinggal oleh suami tercintanya. Namun kin sudah datang musibah baru yang menimpa


sahabatnya sekaligus orang kepercayaannya yang diakibatkan putra sendiri.


Dan sekarang putrinya, ia tidak akan sanggup hidup


jika harus ditinggalkan Ana ia tidak akan sanggup ditinggal oleh orang-orang


yang sangat disayanginyalagi.


"Ana,


jangan tinggalkan mama, mama mohon. Hiks,


hiks, hiks." Suara Alexa yang terdengar sangat lirih.


Setelah beberapa menit menangis, Alexa baru ingat Gibran. Dengan segera Alexa meriah ponsel di dalam tasnya dan menghubungin


Gibran.


Hanya satu deringan saja, posel itu tersambung.


"Gibran! Ana kecelakaan, cepat


ke Rs. Xxx bawa Adiba kemari."


****


Belum selesai Adiba mencerna hal yang barusaja


dengan air muka yang sedikit berubah cemas.


Mau apa lagi dia?Batin Adiba yang sudah cemas melihat


kedatangan Gibran lagi.


Adiba sudah melangkah mundur melihat Gibran


yang datang dan kembali mendekatinya. tanpa berbicara sepatah kata apapun Gibran


meraih tangan Adiba dan menariknya keluar kamar.


 Huft, kumat lagi


penyakitnya.


Melihat wajah datar dan tatapan tajam Gibran


membuat Adiba tetap


mengikuti langkah Gibran tanpa protes dan mengikuti


setiap jengkal angkah yang entah akan

__ADS_1


membawanya kemana.


 Ya Allah, mengapa ada


manusia menyebalkan sepertinya. Ini tidak adil! Dengan wajah datarnya


pun dia tetap terlihat tampan begitu.


Terdiam sejenak.


Haih apa yang kufikirkan.


istigfar adibaaa! istigfar!.


 Gibran tetap melangkahkan kakinya diekori oleh


Adiba di belakangnya. Gibran membuka pintu mobil dan mendorong Adiba masuk


kedalam.  Adiba tetap menurut dan duduk disana. Gibran memutari mobilnya kemudian ia duduk di


belakang kemudi. ia langsung menancapkan gas dengan laju di atas rata-rataingin segera sampai dan melihat keadaan adik semata wayangnya.


 Tuan datar kumohon


hentikan mobilnya, jika ingin bunuh diri sendiri saja. Jangan mengajakku.


 Tindakan Gibran membuat Adiba sangat ketakutan,


refleks ia memeluk lengan Gibran dengan mata terpejam. Muncul seringai tipis di bibir Gibran untuk


menjahilinya, bukan melambatkan ia malah menambah kecepatan laju mobil.


 Adiba semakin mempererat pelukan di lengan


Gibran dengan masih memejamkan matanyamembuat Gibran semakin


puas mengerjai gadis itu.


 Dasar penakut!Gumam Gibran.


 Citttt! Secara tiba-tiba Gibran mengerem mobil.


 “Singkirkan tanganmu!” SarkasGibran kerus kepada Adiba.


 Adiba baru menyadari kesalahannya ia langsung


memposisikan dirinya dan menunduk dengan wajah yang sudah sangat merah karena


malu atas tindakan bodohnya.


 "Maaf


tuan." Ucap Adiba yang

__ADS_1


masih menunduk.


 Ih, bodoh, bodoh, bodoh! Makinya dalam hati.


__ADS_2