PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Bertemu kekasih..


__ADS_3

"Hei lepaskan!!! siapa kamu!!!,,,,"


Belum sempat Adiba membereskan ucapannya orang ini sudah membekap mulut Adiba dengan tangannya dari belakang dan membawanya ke halaman belakang sekolah yang terbilang sepi.


orang ini menyeret Adiba dan menyandarkannya ke tembok.


"Kak Daffa....?"


lirih Adiba yang terkejut melihat siapa pelakunya.


Daffa merupakan salah satu guru di Astrama tersebut, Daffa merupakan putra tunggal pak Harman. pemilik Astrama tersebut, ia mendapat kabar soal Adiba dari ayah dan teman-temannya.


"Iya ni aku, kenapa kamu pulang diantar pria Adiba? siapa pria itu? Benarkah dia calon suamimu?." Tanya Daffa beruntun dengan mata yang sudah membulat menatap Adiba menunggu jawaban.


"Jawab Adiba." Bentak Daffa lagi


"Kak,,, kenapa kamu kasar begini ?" Lirih Adiba sambil meremas roknha mengkuatkan tenaga.


"Kasar?,,,, Adiba!!!!


aku mencintaimu, kau juga kekasihku.


sadarkah apa yang kau lakukan? apa kau lupa? kita sudah merencanakan menikah setelah ini." Bentak Daffa dan langsung membalikan badan.


"Ma_ma******af" Jawab Adiba yang langsung tertunduk.


"Maaf? jadi benar semua ini?" Berbalik badan lagi dan mencengkram pundak Adiba dengan kedua tanganya.


BUKKKK

__ADS_1


Daffa tersungkur ke tanah, seorang pria datang tiba-tiba dan langsung menghantam tubuhnya.


Daffa melihat sepatu hitam mengkilat milik si pelaku dan langsung mendongkakan wajahnya.


Pria ini membuka kacamatanya dan melipat tangan di dadanya, ya dialah Gibran Adelard Wijaya.


"Berani kau menyentuhnya, kupatahkan tanganmu!!! Ucapnya dengan sangat tegas menatap tajam Daffa yang sudah berdiri.


"Siapa kau!! aku kekasihnya!!" Tanya Daffa dengan suara lantang.


Gibran tidak menggubris perkataan Daffa. Gibran langsung berbalik dan langsung menarik tangan Adiba yang masih melongo dengan apa yang terjadi.


"Adiba! aku tau kau tidak mencintainya.


Kau hanya mencintaiku!!" Teriak Daffa yang menghentikan langkah kaki Gibran.


"Sial! kenapa dia tidak mendengarkanku!"


Umpat Daffa


Gibran dan adiba meninggalkan Daffa dan berhenti disebuah lorong sepi dan panjang yang Adiba tempati tadi


Gibran menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Adiba yang sudah menunduk, seluruh tubuhnya bergetar ketakutan tangannya mengepal satu sama lain.


"Jauhi dia!" Ucap Gibran singkat menatap tajam Adiba.


Adiba hanya menganggukan kepalanya pelan, ia memang sangat mencintai Daffa (kekasihnya) tapi ia berniat menjauhi Daffa karena ia akan segera menikah dengan seseorang yang diamanahkan oleh ayahnya.


Gibran memang tidak menyukai gadis dihadapannya ini, ia sangat membenci seorang pengkhianat. Gibran mengetahui Adiba mempunyai kekasih, tetapi ia merasa di khianati ketika melibat kebersamaan Adiba dan Daffa. secara tidak langsung kembali mengingatkan pengkhiatan Shella kepadanya.

__ADS_1


Flasback on


Gibran berlalu menuju mobil yanh terparkir di depan. ketika hendak memnuka pintu mobil ada teriakan dari arah belakang yang tak jauh dari posisinya.


"Pak Daffa!!!!" Sahut siswa putra yang menggunakan pakaian abu putih. Ia berlari menuju sesorang yang dipanggilnya.


Gibran ingat betul dengan nama itu, ya dia kekasih Adiba (calon istri)nya.


Gibran mengikuti siswa itu dari belakang dengan santainya.


Gibran melihat dua orang sedanh berbincang, tidak terdengar apa yang sedang dibicarakan karena suara hiruh pikuk siswa yang memuji-muji ketampanan dan kesempurnaan tubuh seorang Gibran.


Seorang pria berpakaian kemeja putih dan celana bahan itu pergi meninggalkan siswa putra yang memanggilnya tadi.


Gibran mengikuti pria itu dari belakang dengan langkah besarnya. Gibran menduga itulah yang bernama Daffa, Gibran mengikutinya ingin memberi peringatan agar tidak mendekati Adiba lagi dan benar saja Gibran melihat pria itu membekam Adiba dari belakang dan membawanya kebelakang sekolah.


Flasback off


"selesaikan ujianmu! aku akan menjemputmu 3 hari lagi." Ucapnya datar


"Iya tuan." Jawab Adiba menunduk.


Mereka kembali ke Astrama, Gibran mengantar Adiba sampai di pintu kamarnya. Banyak santri putri memukau melihat ketampanan dan kegagahan Gibran.


Adiba menunduk malu. Pasalnya tidak ada satupun pria yang diijinkan masuk walau hanya di depan gerbang Astrama putri, apa yang tidak bisa dilakukannya. Dengan penuh kepercayaan dan tanpa malu Gibran masuk kedalam lingkungan yang semua penghuninya adalah perempuan.


Gibran memutar bola matanya menatap kamar yang di tempati Adiba dan langsung berbalik meninggalkan tempat itu ketika Adiba sudah berlari masuk saking malunya.


"Pantas saja norak!" Ejek Gibran dalam Hati

__ADS_1


__ADS_2