
Pulang? hey kau mau
kemana pak? Tolonglah, tolong aku keluar dari kandang singa ini. Batin Adiba menjerit, tubuhnya gemetar
kala Sekertaris Vino menutup pintu. Bulu kuduknya bahkan berdiri melihat betapa
luasnya apartemen milik Gibran ini.
Gibran meletakan tentengan belajaan di meja
besar yang terletak di ruang tengah, tersedia tv besar didepannya dan Rak buku
yang terjajar rapi disana.
"Beresken
semua ini! Lakukan apapun
sesukamu aku akan istirahat sebelum pulang kerumah utama." Ucap
Gibran menunjuk beberapa tumpukan belanjaan dan langsung melangkah membuka
pintu kamar yang berminimalis putih besar dengan pahatan yang sangat indah
memberikan kesan elegant. Adiba menatap kepergian Gibran, pria itu ternyata
benar-benar menepati ucapannya.
Tanpa menunggu jawaban, Gibran memasuki
kamarnya dan langsung membersihkan badannya. Hanya terdapat satu kamar disini,
Gibran sengaja mendesain Ruang Apartement ini khusus keluarga kecilnya nanti
yang selama ini dia impikan hidup bersama Shella dan jagoan kecilnya. Tapi
semuanya sirna kini tinggal kenangan yang melekat diapartemennya, yang sangat
terlihat masih terpajang rapi foto-foto kebersamaannya bersama Shella.
Adiba melangkah mendekati foto yang paling
besar dari beberapa foto yang terpajang diruangan tersebut, terlihat Shella
sedang berpose dan tersenyum manis dibalut dengan gaun panjang berwarna maroon.
Tapi masih memperlihatkan lutut putihnya, rambut hitam terurai sedang dipeluk
dari belakang oleh seorang pria tampan memakai toxedo dan celana berwana hitam
dengan sepatu yang senada dengan hells yang dikenakan Shella.
Ya, pria tampan itu tak lain adalah Gibran. Itu
adalah foto kebersamaan Shella dan Gibran ketika mereka bertunangan, terlihat
dari cincin yang melekat di jari manis keduanya yang terletak di perut Shella.
"Mereka
sangat serasi, cantik dan tampan" Adiba tersenyum mengagumi
keduanya.
Tampan?
eh apa yang kau ucapkan Adiba?Huhft,
kau sudah gila. Menepuk jidatnya pelan kemudian kembali melangkah melihat
beberapa foto disampingnya. Masih banyak foto kebersamaan mereka, mulai dari
ketika mereka di pantai, berpose dibelakang menara eiffel dan masih banyak
lagi. Bahkan ada foto ketika mereka sedang berciuman.
Mengapa mereka tidak
malu menaruhnya disini.
Batin Adiba masih focus dengan foto itu,
Merasa risi dengan foto yang terakhir kali
dilihatnya, Adiba memalingkan pandangannya ke arah lain. Adiba kembali
teringat, ia harus membereskan barang-barang tadi. Dengan telaten Adiba
membereskan barang-barang tersebut, menata buku-buku yang tadi dibeli di Rak
buku yang tersedia. Terlihat banyak koleksi buku disana. Beres menata buku,
Adiba melangkah memasuki dapur dan membereskan kebutuhan dapur yang tadi sempat
dibeli sekertaris Vino sebelum pulang.
Melihat jam yang sudah menunjukan pukul 17:00
__ADS_1
WIB, Adiba berinisiatif memasak makanan untuk Gibran sebagai bentuk terima kasihnya
karena telah menetapati ucapannya juga telah membelikannya buku.
Setengah jam bergelut di dapur, Adiba baru selesai
dan menata makasan tersebut di meja makan yang tidak jauh dari dapur.
"Sedang
apa kau." Tanya Gibran yang datang tiba-tiba mengejutkan Adiba
"Astagfirullah,
huft.”
“Memasak makanan
untukmu tuan."
Gibran duduk di meja dan menyicipi makanan
buatan Adiba,
"Lumayan,
buatkan aku kopi." Titah Gibran
Tanpa menunggu lama Adiba membuatkan Gibran
secangkir kopi hitam pahit dan langsung menyajikannya.
"Silahkan
tuan." Adiba mempersilahkan
Gibran menatap Adiba kemudian menyuruput
kopinya perlahan.
Darimana diatahu
kopi kesukaanku. Batin Gibran
"Kenapa
kau membuat kopi pahit?" Tanya Gibran menatap Adiba.
Adiba menundukan kepalanya, tubuhnya gemetar takut
"Ma_maaf
tuan, yang saya tahu orang seusia anda menyukai kopi pahit hitam, saya akan
membuatkannya kembali." Jelas Adiba dengan nada suara ketakutan.
"Tidak
perlu, pergilah bersihkan badanmu dan ganti pakaianmu. setelah itu aku akan
mengajarimu." Titah Gibran
Eh kenapa ini? dia
tidak marah? dia menyukai kopi buatanku. Aisyah! kau menyelamatkan nyawaku hari
ini. Batin Adiba
Adiba mendapatkan pengetahuan macam itu dari
sahabatnya Aisyah, ketika itu ia harus bolak balik dapur membuatkan kopi yang
pas untuk Pak Harman kepala Sekolahnya. Aisyah datang membantu dan menyarankan
membuatkan kopi hitam pahit untuk orang yang sudah lumayan tua, dan benar saja
Pak Harman sangat menyukainya.
"Membesihkan
badan dan mengganti pakaianku? tapi dimana tuan?" Tanya Adiba bingung.
"Di
parkiran! Kenapa kau bodoh
sekali hah? Tentu saja dikamarku. Cepat ganti atau aku akan membantumu membukanya." Seringai
Jahil Gibran muncul
Hah? tidakk!!!!!
Adiba langsung berlari berhamburan menuju kamar
membuat Gibran kembali tersenyum melihat tingkahnya, senyuman yang sudah lama
tidak terlihat setelah kepergian Shella. Adiba masuk kamar mandi menghiraukan
__ADS_1
keindahan yang terdapat di dalam kamar dan langsung membersihkan badan, Karna
tidak terbiasa mandi di bathup ia membersihkan badannya di Shower dengan
berjongkok.
Setelah selesai, Adiba menggunakan Handuk yang
tersedia disana. Ia keluar kamar mandi, matanya terbelalak melihat keindahan
yang takah mewahnya dari kamar pribadi Gibran di kamar utama.
Masya Allah, indah
sekali.
Tapi tunggu, bagaimana mau gantii baju, aku bahkan tidak membawa baju satu helaipun. Batin adiba
lagi, matanya celingukan berharap ada baju perempuan yang bisa ia pakai.
Adiba melihat ruang kecil dipojok kamar dan
mendekatinya dan benar saja itu adalah ruang ganti yang sudah seperti toko,
banyak baju yang terjajar rapi disana. Adiba membuka lemari besar dan yang
dilihatnya hanya pakaian pria, kemuidan Adiba kembali membuka lemari
disampingnya.
Betapa senang hatinya melihat jejeran pakaian
wanita muslimah disana.
Inikan pakaian yang
di toko tadi? kenapa sudah ada disini? bukannya bapak tadi pulang bersama.
kenapa bajunya sampai duluan? Batin Adiba.
Tidak mau ambil pusing, Adiba langsung memakai
salah satu pakaian yang sangat cocok baginya dan memakai hijab yang senada
dengnnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 18:00, Adiba
melaksAnakan kewajibannya menggunakan Mukena yang ada di lemari pakaian.
"Lama
sekali gadis itu." Kesal Gibran yang lagi-lagi harus menunggu lama.
Gibran melangkah memasuki kamarnya, entah darimana
asal angin yang menghangatkan badannya. Dirinya merasa sejuk, hatinya tenang
melihat Adiba tengah melaksanakan sholat. Gibran tidak ingat kapan terakhir
kali ia melaksanakan kewajibannya.
Melihat Adiba yang sebentar lagi selesai dengan
segara Gibran kembali ke meja dapur.
"Maaf
tuan menunggu lama." Ucap Adiba yang baru tiba
"Makanlah
dulu." Jawab Gibran yang sudah lebih dulu menyantap makAnannya.
Mereka menyantap makananan masing-masing dengan
keheningan menyelimutinya, hanya suada aduan sendok dan garpu yang terdengar.
Setelah selesai, Gibran beranjak meninggalkan
meja dan pergi ke ruang keluarga. Berbeda dengan Adiba, ia membereskan sisa makanan
dan langsung mencucinya.
Selesai menyelesaikan tugas dapur, Adiba
menghampiri Gibran yang sedang duduk disofa sambil mengangkat kaki di atas meja
dengan kertas dan pulpen di tangannya.
"Isi
soal-soal itu." Melempar kertas di meja kehadapan Adiba yang sudah
duduk di bawah menghadapnya.
Adiba membolak balikan kertas yang dilempar Gibran, terdapat 100 soal matematika Tingkat Aliyah degan jenis yang berbeda.
__ADS_1