PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Terbelenggu di kandang singa


__ADS_3

Pulang? hey kau mau


kemana pak? Tolonglah, tolong aku keluar dari kandang singa ini. Batin Adiba menjerit, tubuhnya gemetar


kala Sekertaris Vino menutup pintu. Bulu kuduknya bahkan berdiri melihat betapa


luasnya apartemen milik Gibran ini.


 Gibran meletakan tentengan belajaan di meja


besar yang terletak di ruang tengah, tersedia tv besar didepannya dan Rak buku


yang terjajar rapi disana.


 "Beresken


semua ini! Lakukan apapun


sesukamu aku akan istirahat sebelum pulang kerumah utama." Ucap


Gibran menunjuk beberapa tumpukan belanjaan dan langsung melangkah membuka


pintu kamar yang berminimalis putih besar dengan pahatan yang sangat indah


memberikan kesan elegant. Adiba menatap kepergian Gibran, pria itu ternyata


benar-benar menepati ucapannya.


 Tanpa menunggu jawaban, Gibran memasuki


kamarnya dan langsung membersihkan badannya. Hanya terdapat satu kamar disini,


Gibran sengaja mendesain Ruang Apartement ini khusus keluarga kecilnya nanti


yang selama ini dia impikan hidup bersama Shella dan jagoan kecilnya. Tapi


semuanya sirna kini tinggal kenangan yang melekat diapartemennya, yang sangat


terlihat masih terpajang rapi foto-foto kebersamaannya bersama Shella.


 Adiba melangkah mendekati foto yang paling


besar dari beberapa foto yang terpajang diruangan tersebut, terlihat Shella


sedang berpose dan tersenyum manis dibalut dengan gaun panjang berwarna maroon.


Tapi masih memperlihatkan lutut putihnya, rambut hitam terurai sedang dipeluk


dari belakang oleh seorang pria tampan memakai toxedo dan celana berwana hitam


dengan sepatu yang senada dengan hells yang dikenakan Shella.


 Ya, pria tampan itu tak lain adalah Gibran. Itu


adalah foto kebersamaan Shella dan Gibran ketika mereka bertunangan, terlihat


dari cincin yang melekat di jari manis keduanya yang terletak di perut Shella.


 "Mereka


sangat serasi, cantik dan tampan" Adiba tersenyum mengagumi


keduanya.


 Tampan?


eh apa yang kau ucapkan Adiba?Huhft,


kau sudah gila. Menepuk jidatnya pelan kemudian kembali melangkah melihat


beberapa foto disampingnya. Masih banyak foto kebersamaan mereka, mulai dari


ketika mereka di pantai, berpose dibelakang menara eiffel dan masih banyak


lagi. Bahkan ada foto ketika mereka sedang berciuman.


 Mengapa mereka tidak


malu menaruhnya disini.


Batin Adiba masih focus dengan foto itu,


 Merasa risi dengan foto yang terakhir kali


dilihatnya, Adiba memalingkan pandangannya ke arah lain. Adiba kembali


teringat, ia harus membereskan barang-barang tadi. Dengan telaten Adiba


membereskan barang-barang tersebut, menata buku-buku yang tadi dibeli di Rak


buku yang tersedia. Terlihat banyak koleksi buku disana. Beres menata buku,


Adiba melangkah memasuki dapur dan membereskan kebutuhan dapur yang tadi sempat


dibeli sekertaris Vino sebelum pulang.


 Melihat jam yang sudah menunjukan pukul 17:00

__ADS_1


WIB, Adiba berinisiatif memasak makanan untuk Gibran sebagai bentuk terima kasihnya


karena telah menetapati ucapannya juga telah membelikannya buku.


 Setengah jam bergelut di dapur, Adiba baru selesai


dan menata makasan tersebut di meja makan yang tidak jauh dari dapur.


 "Sedang


apa kau." Tanya Gibran yang datang tiba-tiba mengejutkan Adiba


 "Astagfirullah,


huft.”


 “Memasak makanan


untukmu tuan."


 Gibran duduk di meja dan menyicipi makanan


buatan Adiba,


 "Lumayan,


buatkan aku kopi." Titah Gibran


 Tanpa menunggu lama Adiba membuatkan Gibran


secangkir kopi hitam pahit dan langsung menyajikannya.


 "Silahkan


tuan." Adiba mempersilahkan


 Gibran menatap Adiba kemudian menyuruput


kopinya perlahan.


 Darimana diatahu


kopi kesukaanku. Batin Gibran


 "Kenapa


kau membuat kopi pahit?" Tanya Gibran menatap Adiba.


 Adiba menundukan kepalanya, tubuhnya gemetar takut


 "Ma_maaf


tuan, yang saya tahu orang seusia anda menyukai kopi pahit hitam, saya akan


membuatkannya kembali." Jelas Adiba dengan nada suara ketakutan.


 "Tidak


perlu, pergilah bersihkan badanmu dan ganti pakaianmu. setelah itu aku akan


mengajarimu." Titah Gibran


 Eh kenapa ini? dia


tidak marah? dia menyukai kopi buatanku. Aisyah! kau menyelamatkan nyawaku hari


ini. Batin Adiba


 Adiba mendapatkan pengetahuan macam itu dari


sahabatnya Aisyah, ketika itu ia harus bolak balik dapur membuatkan kopi yang


pas untuk Pak Harman kepala Sekolahnya. Aisyah datang membantu dan menyarankan


membuatkan kopi hitam pahit untuk orang yang sudah lumayan tua, dan benar saja


Pak Harman sangat menyukainya.


 "Membesihkan


badan dan mengganti pakaianku? tapi dimana tuan?" Tanya Adiba bingung.


 "Di


parkiran! Kenapa kau bodoh


sekali hah? Tentu saja dikamarku. Cepat ganti atau aku akan membantumu membukanya." Seringai


Jahil Gibran muncul


 Hah? tidakk!!!!!


Adiba langsung berlari berhamburan menuju kamar


membuat Gibran kembali tersenyum melihat tingkahnya, senyuman yang sudah lama


tidak terlihat setelah kepergian Shella. Adiba masuk kamar mandi menghiraukan

__ADS_1


keindahan yang terdapat di dalam kamar dan langsung membersihkan badan, Karna


tidak terbiasa mandi di bathup ia membersihkan badannya di Shower dengan


berjongkok.


 Setelah selesai, Adiba menggunakan Handuk yang


tersedia disana. Ia keluar kamar mandi, matanya terbelalak melihat keindahan


yang takah mewahnya dari kamar pribadi Gibran di kamar utama.


 Masya Allah, indah


sekali.


 Tapi tunggu, bagaimana mau gantii baju, aku bahkan tidak membawa baju satu helaipun. Batin adiba


lagi, matanya celingukan berharap ada baju perempuan yang bisa ia pakai.


Adiba melihat ruang kecil dipojok kamar dan


mendekatinya dan benar saja itu adalah ruang ganti yang sudah seperti toko,


banyak baju yang terjajar rapi disana. Adiba membuka lemari besar dan yang


dilihatnya hanya pakaian pria, kemuidan Adiba kembali membuka lemari


disampingnya.


Betapa senang hatinya melihat jejeran pakaian


wanita muslimah disana.


Inikan pakaian yang


di toko tadi? kenapa sudah ada disini? bukannya bapak tadi pulang bersama.


kenapa bajunya sampai duluan? Batin Adiba.


Tidak mau ambil pusing, Adiba langsung memakai


salah satu pakaian yang sangat cocok baginya dan memakai hijab yang senada


dengnnya.


 Waktu sudah menunjukan pukul 18:00, Adiba


melaksAnakan kewajibannya menggunakan Mukena yang ada di lemari pakaian.


 "Lama


sekali gadis itu." Kesal Gibran yang lagi-lagi harus menunggu lama.


 Gibran melangkah memasuki kamarnya, entah darimana


asal angin yang menghangatkan badannya. Dirinya merasa sejuk, hatinya tenang


melihat Adiba tengah melaksanakan sholat. Gibran tidak ingat kapan terakhir


kali ia melaksanakan kewajibannya.


 Melihat Adiba yang sebentar lagi selesai dengan


segara Gibran kembali ke meja dapur.


 "Maaf


tuan menunggu lama." Ucap Adiba yang baru tiba


 "Makanlah


dulu." Jawab Gibran yang sudah lebih dulu menyantap makAnannya.


 Mereka menyantap makananan masing-masing dengan


keheningan menyelimutinya, hanya suada aduan sendok dan garpu yang terdengar.


 Setelah selesai, Gibran beranjak meninggalkan


meja dan pergi ke ruang keluarga. Berbeda dengan Adiba, ia membereskan sisa makanan


dan langsung mencucinya.


 Selesai menyelesaikan tugas dapur, Adiba


menghampiri Gibran yang sedang duduk disofa sambil mengangkat kaki di atas meja


dengan kertas dan pulpen di tangannya.


 "Isi


soal-soal itu." Melempar kertas di meja kehadapan Adiba yang sudah


duduk di bawah menghadapnya.


Adiba membolak balikan kertas yang dilempar Gibran, terdapat 100 soal matematika Tingkat Aliyah degan jenis yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2