
“Aaaaaaaaaaa.” Jerit Adiba menutup wajahnya, tubuhnya menegang ditempat jantungnya seakan berlarian didalam sana.
Gibran yang mendengar teriakan Adiba langsung berlari membungkam mulut Adiba dengan tangan kanannya, mencengram lengan Adiba dengan tangan kirinya.
“Kenapa kau bodoh sekali hah? Apa yang akan difirkan orang diluar sana jika kau menjerit seperti ini.” Seru Gibran
Perlahan, Adiba menelan salivanya ketika tubuh keduanya sangat dekat.
Adiba sampai merasakan hembusan nafas Gibran yang menyentuh kulit wajahnya dan membuat jantungnya berdegupp lebih cepat lagi, dengan segera Adiba menutup matanya dalam-dalam.
Tanpa sadar Gibran menatap lekat mata Adiba yang terpejam, tangan kiri yang membungkam mulut Adiba naik menyentuh dahi Adiba hidung kemudian turun menyentuh bibir ranum Adiba.
Adiba yang merasakan sentuhan lembut Gibran tersentak kemudian ia semakin memperdalam pejamannya dengan nafas yang sangat perlahan tangannya mengepal kedua sisi bajunya.
“Pergilah! Kau sama sekali bukan type ku.” Ujar Gibran tiba-tiba menyingkirkan badan Adiba menjauh dari tubuhnya.
-Alhamdulillah terimakasih ya Allah. Batin Adiba
Gibran langsung berlalu menuju ruang ganti mempersiapkan keberangkatannya menuju gedung pesta pernikahan yang sudah disiapkan.
***
Hampir selama 6 jam Gibran dan Adiba berdiri menyambut dan menerima ucapan selamat dari para tamu kolage bisnis keluarga Adelard Wijaya serta Pak Harman yang memang terniat datang ke acara pernikahan Adiba dan Gibran.
Dengan sangat terpaksa Gibran dan Adiba memasang wajah seyum bahagia seolah seperti mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dinantinya, sesekali Gibran merangkul bahu Adiba ketika sang mama memangdang mereka dan membuat banyak pasangan kekasih bahkan yang sudah berkeluarga iri terhadap Gibran dan Adiba yang terlihat sangat serasi. Banyak media yang meliput mereka selama acara berlangsung.
“Tegakkan kepalamu!” Titah Gibran mencengkram bahu Adiba.
Perlahan Adiba mendongkakan wajahnya dan membuatnya terlihat jelas oleh para tamu.
Kini giliran Shella yang menghampiri mereka. Shella memeluk Gibran tanpa tahu malunya, kemudian menghampiri Adiba.
“Ingalah, setelah tiga bulan kau akan ditendang dari keluarga Adelard Wijaya.” Ancam Shella berbisik kemudian berlalu meninggalkan Adiba dan Gibran yang sedang pura-pura tersenyum dihadapan para tamu.
Mama Alexa yang melihatnya bergumam kesal kepada Sekertaris Vino karena telah berani mengundang wanita tak tahu diri itu.
Pesta baru usai ketika waktu menunjukan pukul 11:45 WIB, sudah sedari dari Adiba menguap menahan kantuknya. Gibran yang menyadari hal itu langsung meraih tangan Adiba dan menariknya kedalam lift menuju kamar yang telah disediakan oleh sekertaris Vino.
Di dalam lift, dengan sekuat tenaga Adiba menahan kantuknya dan
TUK!
Dahi Adiba terbentur permukaan depan lift, Gibran yang berada disampingnya pun tanpa sadar tertawa tanpa suara.
“Tidurlah disitu bodoh!” Celetuk Gibran.
Sumpah setengah mati Adiba kali ini benar-benar sangat malu bertindak bodoh di depan Gibran.
__ADS_1
-Bodoh, bodoh,bodoh!!!
Aaaaaaa dia pasti sedang menertawanku sekarang. Batin Adiba menggrutuki kebodohannya sendiri tanpa berani melirik Gibran.
Sesampainya di kamar VVIP yang sangat mewah dan luas dengan dekorasi warna putih hitam membuatnya terlihat sangat elegan. Gibran langsung berlalu kekamar mandi meninggalkan Adiba yang masih mematung di depan pintu dengan mata setengah sadar.
“Gadis bodoh!!!!” Teriakan Gibran dari dalam kamar mandi menghilangkan kantuk Adiba secepat kilat.
Adiba langsung berlari menuju pintu kamar mandi.
“Ya, tuan?” Sahut Adiba menempelkan telinganya ke pintu kamar mandi.
“Ambil handukku!” Titah Gibran.
Dengan segera Adiba mengambil handuk Gibran didalam lemari dan kembali menghampiri pintu.
“Ini handuknya tuan.” Ujar Adiba kembali mendekatkan telinganya kepintu kamar mandi.
“Bodoh! Aku sedang mandi.
Masuk!!” Teriak Gibran dari dalam kamar mandi
Seketika tubuhnya bergetar ketakutan, bagaimana ia akan masuk kedalam kamar mandi sedang di dalamnya ada seseorang yang sedang mandi. Itu tidak akan bisa ia lakukan.
“Hey!!! Kau tuli ya
Terkejut dengan teriakan Gibran, mau tidak mau membuatnya harus masuk kedalam kamar mandi. Perlahan, Adiba membuka pintu dengan posisi matanya yang tertutup.
“Ini tuan handuknya.” Tangan kanan Adiba menyodorkan handuk, ketika sudah satu kaki melangkah melewati pintu dengan masih menutup matanya.
Gibran yang melihat Adiba menutup matanya, muncul seringai tipis untuk menjahilinya.
“Aku tidak sampai! Majulah empat langkah lagi.” Jahil Gibran didalam bathup yang padahal hanya memerlukan 3 langkah lagi.
Tanpa curiga Adiba melangkah maju empat langkah sesuai perintah Gibran dan memperdalam pejaman matanya agar tidak melihat apapun yang dapat menodai mata sucinya.
Tap, satu langkah perlahan
Tap, Dua langkah, dikira masih jauh Adiba mempercepat langkahnya –Lebih cepat lebih baik. Gitu fikirnya
Tiga
Empat, BRUGH!!!
Kaki Adiba bertabrakan dengan bathup dan menumbangkan tubuhnya diatas tubuh Gibran yang sedang telentang.
Refleks Adiba membuka matanya
__ADS_1
“Aaaaaaaaaaaa” Teriak Adiba menutup matanya.
“Hei!! Gadis bodoh!
Apa kau tidak punya mata hah?!.” Bentak Gibran
“Ma_maaf tuan saya tidak sengaja." Jawab Adiba dengan posisi yang sama
“Kau mau menggodaku ya.” Ucap Gibran mendekatkan wajahnya ketelinga Adia,yang membuat bulu kuduk Adiba berdiri.
“Ti_tidak tuan, saya tidak bermaksud apapun.
Tolong maafkan saya.” Mengatup kedua tangan di dadanya dengan mata masih terpejam.
“Begitukah caramu meminta maaf hah?.” Bentak Gibran
Mendengar suara menggelegar Gibran membuat Adiba refleks membuka matanya
“Aaaaaaaaaa”
Adiba berteriak dan kembali menutup matanya ketika melihat pundak lebar dan dada sispex yang sudah seperti roti sobek itu.
“Takkan kumaafkan! Hukuman berat pantas untukmu.” Jawab Gibran melipat tangan di dadanya.
“Gosok seluruh badanku!” Timbalnya lagi.
Adiba membuka mata perlahan, menelan salivanya susah payah. Pikirannya belum beres mengenai tubuh Gibran sekarang ditambah dengan disuruh menggosok badan Gibran, itu artinya menyentuh badan Gibran,
“Hitungan tiga tidak dilaksanakan, hukumanmu bertampah tiga kali lipat.” Ujar Gibran santai menatap wajah cantik Adiba yang sudah basah akibat air bathup.
“SATU!” Adiba masih memeatung.
“DUA!” Adiba melotot kearah Gibran
“TI…”
Belum sempat selesai Adiba langsung berdiri dan memposisikan diri dibelakang tubuh Gibran kemudian memulai menggosok tubuh Gibran dnegan sangat pelan dan lembut.
Gibran tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil menjahili gadis bodoh ini. Adiba sudah selesai menggosok seluruh badan bagian punggung Gibran.
“DEPAN!” Timbal Gibran membuka lipatan tangannya.
Tanpa protes Adiba menuruti seluruh perintah pria yang sekarang sudah menjadi suaminya ini. Karna sia-sia saja fikirnya.
Terlihat jelas oleh Gibran, pipi Adiba memerah seperti kepiting rebus ketika tangan Adiba menyentuh dada dan perutnya. Adiba menunduk ketika Gibran menatapnya. Tangan Adiba berhenti ketika sudah sampai pusar.
“Lanjut kebawah!” Menyuruh dengan santainya dan kembali melipat tangan di dadanya.
__ADS_1