PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
50 Meter


__ADS_3

"Selamat malam tuan" Sapa Sekertaris Vino ketika melihat kedatangan tuannya yang dijawab anggukan oleh Gibran.


"Dimana gadis itu?" Tanya Gibran to the point.


"Dikamarnya, saya akan memanggilnya tuan" Jawab Sekertaris Vino.


Sekertaris Vino pergi menuju kamar Aisyah untuk membangunkan gadis tersebut. Sejak kejadian tadi, dirinya tak menemui gadis itu lagi.


Gibran duduk disofa yang terdapat diruang tamu lantai dasar dengan kaki diangkat keatas meja sambil melipat tangan di dadanya.


"Saya tuan?" Ujar Aisyah yang sudah tiba di ruangan di dampingi Sekertaris Vino disampingnya.


"Kau tau kenapa aku menjemputmu kemari?" Tanya Gibran datar


Aisyah menelan salivanya susah ketika berada di posisi yang sangat mencekam seperti ini, wajah-wajah galak kedua bule ini berhasil menyikat habis nyalinya.


Aisyah menganggukan kepalanya pelan. Sekertaris Vino memang sudah menjelaskan maksud dan tujuannya menjemput Aisyah ketika di perjalanan tadi.


"Bagus, temani istriku agar tidak bosan berada di Villa ini dan akan ada pengawal yang menjaga kalian dari jarak 10 meter." Jelas Gibran dengan tegasnya.


Aisyah menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Saya akan memberimu upah tinggi jika kau bisa membuatnya tersenyum ketika tidak sedang bersamaku" Timbal Gibran dengan datarnya.


"Ah itu mah hal yang gampang tuan" Jawab Aisyah keceplosan


Vino menyubit kecil lengan Aisyah, karna lagi-lagi gadis ini tidak bisa menjaga mulutnya ketika sedang berada digadapan tuannya.


"Auuw sakit tau...." Bisik Aisyah sambil mengerucutkan bibirnya


Gibran yang melihat tingkah kedua manusia di depannya hanya menyerngitkan dahinya.


"Vin, siapkan berkas dan kebutuhan lainnya untuk besok." Sahut Gibran lagi karna tak ingin berlama-lama, jujur dirinya pun ingin segera beristirahat karna lelah akibat kegiatannya tadi.

__ADS_1


"Siap tuan muda" Jawab Sekertaris Vino sambil membungkukan badan ketika Gibran sudah beranjak menaiki anak tangga.


"Dasar mulut emak-emak...!" Ucap Vino dengan ketus sambil berjalan menuju kamarnya yang masih terdapat dipantai dasar.


"Bodo..." Jawab Adiba kesal karna sikap pria itu yang seenaknya.


...----...


Burung-burung berkicauan merdu di pagi hari, hembusan angin pagi yang segar dan suasana damai menambah khas tempat itu sendiri.


Gibran dan Adiba sudah bersiap akan turun menyantap sarapan mereka.


"Jangan berani keluar sejengkal pun dari villa ini, atau aku akan menghukummu" Ucap Gibran dengan tegasnya. Membuat Adiba mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


-Untuk apa kesini jika tidak boleh keluar dan menikmati alamnya. Batin Adiba kesal.


Hal itu terlihat jelas dimata Gibran karna posisi Adiba sedang memakaikan dasi suaminya, Gibran tak tahan ingin tertawa setiap kali Adiba cemberut seperti itu. Baginya Adiba terlihat semakin cantik dan imut.


Baru saja Adiba hendak tersenyum kegirangan, tapi ucapan Gibran kembali menyulam bibirnya.


"Hanya sejauh 200 meter" Timbalnya.


"Ish kau ini..." Protes Adiba


"100 METER..!" Jawab Gibran tegas


"Sayang kau it..." Rayunya dengan memanggil sayang, tapi usahanya nihil Gibran adalah orang yang tak suka dibantah.


"50 METER...!"


"Oke baiklah 50 Meter" Jawab Adiba pasrah.


"Gadis pintar...!" Ucap Gibran kemudian mengecup lembut kening istrinya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Gibran mengatur Adiba, dirinya hanya tidak ingin kehilangan orang yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Gibran tak akan membiarkan orang lain menyentuh istrinya meski hanya sesenti pun, hanya dirinya lah yang berhak menyentuhnya.


"Jangan lupa kabari aku jika ingin keluar dari sini" Sahut Gibran lagi, entah mengapa dirinya sangat berat akan melangkah keluar meninggalkan istri cantiknya ini di Villa ini padahal sudah ada penjagaan ketat di sekitar Villa tersebut.


"Iya suamiku" Jawab Adiba membuat Gibran tersenyum.


Gibran dan Adiba berjalan beriringan menuruni anak tangga, tangan Gibran tak lepas menggenggam tangan kecil istrinya.


Di dapur, sudah tampak Sekertaris Vino yang sedang duduk duduk dimeja makan dengan mata dan tangannya yang sibuk dengan laptopnya sedangkan Bi Lastri dan Aisyah mereka sedang menyiapkan sarapannya.


"Selamat pagi tuan nona" Sapa Bi Lastri dan Sekertaris Vino.


-Wahh mereka serasi sekali, sudah seperti raja ratu aja. Batin Aisyah yang terpana melihat ketampanan suami dari temannya ini.


Vino menyikut lengan Aisyah yang mulai terlihat aneh.


"Eh selamat pagi" Sapa Aisyah yang mulai tersadar akan posisinya.


Vino dan Adiba geleng-geleng kepala karna tingkah Aisyah.


Mereka berempat mulai melakukan sarapannya, tidak ada percakapan selama sarapan sampai Adiba mengantar suaminya kehalaman Villa diikuti Aisyah dan Bi Lastri.


Sebelum Gibran masuk kedalam mobil, Adiba mencium punggung tangan Gibran dibalas dengan Gibran mencium kening istrinya. Hal itu membuat Aisyah kembali berbinar dan berkhayal.


-Aaa rasanya aku ingin menikah saja hari ini. makan bersama, mandi bersama dan berci...


Belum selesai Aisyah berkhayal Vino sudah menyikut kembali lengan Aisyah.


"Jangan mimpi....!" Tegas Vino yang seakan tahu isi otak gadis gila disampingnya.


Aisyah mendengus kesal.


Mobil sport mewah yang ditumpangi Gibran dan Vino mulai melaju meninggalkan Villa putih yang berada diluncak gunung tersebut.

__ADS_1


__ADS_2