
Tepat pukul 10 pagi Gibran dan Adiba sudah sampai di Apartemen Gibran, yang sekarang akan menjadi tempat tinggal Adiba juga.
Alexa dan Anna tidak ikut mengantar karena harus mengunjungi ibunya yang sakit di Jerman hari ini juga.
"Bereskan semuanya!" Titah Gibran menunjuk tumpukan barang-barang yang berada di ruang tamu.
Gibran melangkah pergi meninggalkan Adiba dan pekerjaannya.
Tanpa berani bertanya kemana perginya Gibran, Adiba hanya menjalankan apa yang diperintahkan Gibran.
Dengan cekatan Adiba membereskan semua barang-barang tersebut, serta membersihkan seluruh ruangan mulai dari kamar yang hanya ada satu beserta kamar mandinya.
Menyimpan beberapa buku diruang tengah dan menyimpan stok makanan didapur tak lupa juga membersihkannya.
Setelah beres membersihkan seluruh ruangan, Adiba memasak beberapa makanan. Tak lupa juga Adiba membuat Sop ayam kesukaan Gibran.
Adiba akui, hatinya masih sakit mengingat ucapan Gibran kala itu. tetapi, itu semua tidak bisa mematahkan kewajibannya sebagai seorang istri. Maka dari itu Adiba membuang jauh-jauh ego nya dan tetap melayani suaminya dengan baik.
Tak terasa waktu berputar begitu cepat, pukul 14:00 WIB Adiba baru menyelesaikan pekerjaannya.
"Alhamdulillah beres." Ucapnya tersenyum bahagia menatap makanan yang sudah tersaji di meja makan, matanya berputar menyapu ruangan yang sudah dibersihkannya.
Matanya seketika sayu melihat bingkai foto Gibran dan Shella yang sangat besar terpampang jelas di ruang tv.
"Semangat!! hanya tiga bulan!" Adiba menyemangati dirinya sendiri.
Kemudian Adiba beranjak ke kamar membersihkan badannya yang lengket akibat pekerjaan tadi.
***
Adiba keluar kamar dan duduk di sofa yang terdapat diruang tengah.
KRUKK,,,KRUKKK,,,
Adiba memegangi perutnya, Adiba baru sadar jika ia belum sarapan dan melewatkan makan siangnya.
Melihat jam dinding baru menunjukan pukul 15:00 WIB.
"2 jam lagi." Gumamnya kecil.
Adiba tidak menyentuh makanan yang dibuatnya tadi, karena menurutnya tidak sopan jika suaminya belum mengizinkannya untuk makan. Kemudian Adiba berniat menunggu kepulangan Gibran.
Bingung mau melakukan kegiatan apa lagi, Adiba mengambil satu buku cerita komedi kesukaannya. Kemudian kembali duduk di sofa dan membacanya.
Sesekali Adiba tertawa sampai terpingkal-pingkal ketika membaca buku tersebut.
1 jam telah berlalu Adiba membaca buku cerita, Kantuknya mulai menyerang dan membuatnya terus-menerus menguap. Tanpa Ijin si empunya, pelopak mata Adiba tertutup tak mampu lagi menopang cahaya yang masuk.
Adiba tertidur di sofa dengan keadaan duduk dan memegangi buku ceritanya.
***
Di kantor,
Gibran uring-uringan mengingat kisah percintaannya yang rumit, membuat banyak karyawan terkena imbasnya.
__ADS_1
"Bodoh!!! apa saja yang kalian lakukan hah?" Teriak Gibran di ruang rapat sambil menggebrak meja bundar
Para direktur cabang anak perusahaan Gibran hanya tertunduk. Tidak ada yang berani menegakkan kepalanya, apalagi menjawab ucapannya.
Sekertaris Vino juga tak kalah tajam kepada para direktur tersebut, sekertaris Vino merupakan orang kedua yang sangat berpengaruh di Wijaya Group.
"Saya beri waktu kalian 3 hari. Jika tidak kembali normal, kupecat kalian semua!!" Ucap Gibran penuh penekanan menunjuk para direktur yang duduk, kemudian melangkah pergi tanpa kata lagi.
"Rapat hari ini kita lanjutkan setelah 1 minggu." Ucap sekertaris Vino kemudian keluar mengikuti sang presdir.
Para direktur menghela nafas lega seperti baru saja keluar dari kandang singa ketika Gibran keluar.
***
Di kursi kebesarannya gibran duduk sambil memijit dahinya. Kemudian, sekertaris Vino masuk tanpa dan berdiri tepat di depan Gibran.
"*Apa ada yang anda perlukan tua**n muda*?." Tawar sekertaris Vino yang mengerti akan keadaan tuannya.
Gibran hanya menggeleng kepala.
Tak kehabisan akal, seketaris Vino memberikan sebuah i-pad kepada Gibran.
"Apa ini?" Tanya Gibran meninggi.
"Itu adalah sambungan cctv di apartemen anda tuan muda." Jawab sekertaris Vino.
seketika Gibran teringat kepada Adiba.
-Sedang apa gadis bodoh itu! Batinnya.
"Cih!! Apa yang dibacanya, seperti tidak ada beban hidup saja!" Gumamnya kecil
"Siapkan mobil" Titahnya sambil beranjak keluar.
sekertaris Vino tersenyum kecil, usahanya berhasil mengalihkan perhatian Gibran dari perusahaan kepada Adiba.
***
Gibran telah sampai di Apartemen.
Matanya berputar menyapu ruangan yang sangat bersih dan rapi, kemudian menatap lekat tubuh kecil yang sedang tertidur di sofa.
Ada rasa kasihan menyetimuti hatinya.
"Dia melakukannya sendiri?" Gumamnya kecil.
Gibran mendekati Adiba yang sedang tertidur, tanpa sadar tangannya mengangkat kaki Adiba hendak diluruskan. Tetapi malah membuat Adiba menggeliat terbangun.
"Shit! apa yang kulakukan!" Gerutu Gibran
secepat kilat Gibran berdiri bersikap normal kembali.
"Ma_maaf tuan, saya tertidur tadi." Jawab Adiba pelan dan tertunduk.
Tanpa menjawab ucapan Adiba, Gibran langsung pergi ke kamar untuk membersihkan badan.
__ADS_1
"Ish kenapa bisa tertidur si, harusnya aku menyambutnya pulang tadi." Gerutu Adiba kepada dirinya sendiri.
Adiba beranjak ke dapur dan mulai menghangatkan makanan kemudian kembali menatanya di meja makan.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Gibran tiba-tiba.
"Astagfirullah, tuan seperti hantu saja."Ucap Adiba ceplos.
"Kau!" Geram Gibran menunjuk jari telunjuknya kewajah Adiba.
"Ma_maaf tuan," Jawab Adiba menunduk.
Gibran menatap makanan yang sudah tersaji di meja makan.
KRUK,,,KRUKK,,,,
Perut Adiba kembali berbunyi, membuat Gibran tersenyum tipis.
"Duh! malu-maluin bangetsi ni perut.
gak ada akhlak bener!" Gumam kecil Adiba kembali menunduk karena malu.
"Makanan sebanyak ini untuk apa hah?"Tanya Gibran tegas.
"Dimakan tuan." Jawab Adiba berhati-hati.
"Kenapa perutmu masih berbunyi?" Tanya Adiba geram.
"Sa_saya menunggu anda tuan." Jawab Adiba
"Cih! aku tidak berselera makan bersamamu!"Jawab Gibran yang langsung melangkah pergi ke kamar.
Ego Gibran yang sangat tinggi membuatnya mengatakan hal seperti itu, padahal dia juga melewatkan makan siangnya tadi.
Beberapa langkah lagi meraih handle pintu kamar,
BRUK
Tubuh Adiba tergeletak di lantai, ego Gibran sirna seketika. Gibran mengangkat Adiba dan meletakannya di atas kasur.
Tak lama kemudian...
"Hay, kenapa lagi?" Tanya dokter Rino.
"Periksa dia." Jawab Gibran menunjuk Adiba yang terbaring di kasur.
"Kenapa lagi gadis ini? sepertinya kau terlalu lama berolahraga dengannya sampai membuatnya pingsan." Goda dokter Rino.
"Sialan! cepat periksa dia." Tegas Gibran.
"Yaya, akan kubangunkam bidadari cantik ini." Jawab dokter Rino
"Apa kau bilang?" Ucap Gibran meninggi
"Tidak, tidak. aku hanya memanggilnya cantik."Jawab dokter Rino tersenyum mengerti akan kemarahan Gibran
__ADS_1
Gibran kesal dan bingung terhadap dirinya sendiri yang aneh, dia membenci semua perempuan karena menurutnya semua perempuan sama aja termasuk Adiba. tapi kadang dia marah jika Adiba ditatap pria lain.