PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Depresi


__ADS_3

Dirumah sakit


 Adiba mendekati mama Alexa yang tertidur lelap,


ia bingung harus melakukan apa dan bagaimana. Adiba menatap gadis cantik yang


sedang berbaring,


 "Masya


allah, cantik sekali. Apa ini


putri tante Alexa?" Bergumam sendiri melihat kemiripan mereka.


 Alexa mengerjapkan mata mendengar suara


seseorang di sampingnya. Dia tersenyum dan langsung memeluk ketika melihat


orang itu adalah Adiba.


 “Sayang,


hiks. Putri mama Ana


kecelakaan.”


 Adiba terkejut dan ikut bersedih. Ibu mAna yang


tidak akan sedih melihat Anaknya terluka, kemudian mengelus-ngelus lembut


pundak Alexa berharap sedikit menenangkan dan membiarkan Alexa menangis di


pelukan Adiba


 "Ma,


yang tenang ya. Kita berdoa saja


semoga kak Ana baik-baik saja." Jawab Adiba dengan sangat lembut,


Alexa mengangguk setelah menatap putrinya. Kemudian kembali memeluk Adiba,


entah timbul darimAna kenyamAnan itu. Alexa merasa tenang berada di pelukan


calon menantunya tersebut. Padahal dia sehari ini menemuinya, selebihnya tidak


selain masa kecil Adiba kala itu.


 Puas mengeluarkan semua keluh kesahnya, Alexa


melepaskan pelukan mereka.


"Oh


iya dimana Gibran?"


 Menoleh kesAna kemari mencari keberadaan putranya.


 “Hm dia


… Adiba tidak tahu Ma. Beliau hanya berpesan kepada Adiba untuk menjaga mama.”


Memberi senyuman semanis mungkin.


 Kemana lagi dia. Gumam Alexa


 "Baiklah,


mari sayang! Kita duduk disana." Menunjuk sofa besar yang terletak


di sudut ruangan tak jauh dari brankar tempat Ana berbaring. Mereka kembali


mengobrol hangat, Alexa sangat bahagia akan kehadiran Adiba. Wanita paruh baya


yang masih terlihat cantik itu bercerita banyak tentang keluarganya, tentang besarnya


cinta Mahendra suaminya juga tentang persahabat Mahendra dan Ahmad.


 “Jadi ayah bersahabat dengan tuan Mahendra.”


Tanya Adiba ragu.


 Alexa mengangguk, meraup dagu Adiba tersenyum.


“Iya sayang, kamu dan ayahmu sangat baik. Mama


yakin Gibran pasti akan sangat berterima kasih kepada mama karena telah


memberikan bidadari cantik sepertimu padanya.” Ucap Alexa membuat Adiba


tersenyum simpul.

__ADS_1


 Tapi putramu sangat tidak menginginkan


pernikahan ini Ma. Dia mencitai kekasihnya.


 Tak lupa Alexa juga menceritakan gadis


satu-satunya. Anatasya Adelard Wijaya, seorang gadis cantik berusian 25 tahun. Berprofesi


sebagai model dan juga merupakan teman karib Shella Candrawinata, kekasih


Gibran Adelard Wijaya. Ana jarang pulang kerumah karena jadwal pemotretan yang


akhir-akhir ini sangat padat dan harus bulak balik luar kota bahkan luar


negeri.


 Alexa selalu meminta putrinya untuk tetap


dirumah tanpa harus bekerja, tetapi menjadi seorang model adalah impian Ana


sejak kecil dan mau tidak mau Alexa menerima hal itu. Sebenarnya hari ini


adalah jadwal kepulanganya dari negri ginseng, tetapi diperjalan pulag dia


mendapat kabar kekasihnya dibunuh hingga membuatnya tidak konsentrasi menyetir


hingga kecelakaan.


 Alexa tidak mengetahui jika Darren kekasih


putrinya, ia hanya tau Darren adalah sahabat putrinya. Setelah lama


bercengkrama akhirnya mereka tertidur lelap di sofa sama yang cukup lebar.


***


Gibran kembali meneguk botol, padahal sudah tiga


botol kosong yang ia lempar setelah tegukan terakhir. Tetapi hal itu tidak


membuatnya cukup, Gibran kembali mengambil dan meneguknya hingga tandas tak


tersisa.


 "Kenapa


kau begitu bodoh Shella. Padahal


 “Arghhh!”


 Prang! Botol yang digenggannya kini pecah dan


berserakan di lantai. Gibran Berlari menghampiri Sekertaris Vino dan


mencengkram bajunya.


 “Vin, katakan padaku jika kekasihku tidak


berselingkuh kan?” Sekertaris Vino hanya diam, tangannya mengepal.


 “Kau sama bodohnya dengan dia ya, Vin. Ha ha ha


ha.” Minum-minuman itu sudah sedikit menghilangkan setengah kesadarannya.


Gibran berbicara tanpa arah kadang menangis kadang pula tertawa.


 Sekertaris Vino tetap setia mendampingi Gibran


di sampingnya, betapa sakit hatinya melihat keadaan tuannya yang seperti ini. Rahangnya


berdiri kokoh diiringi kilatan mata bak belati tajam.


 "Antar


aku pulang ke Apartemen!" Suara Gibran yang terdengar berat.


 Sekertaris Vino memapah dan membawanya pergi


meninggalkan Club tersebut.  Setelah menempuh


perjalanan 15 menit, mereka kini sudah sampai di Apartemen Gibran. Sekertaris


Vino membaringkan tubuh Gibran diatas ranjang king sizenya yang berwarna putih,


membukakan sepatu dan menyelimutinya.


 Selesai menjalankan tugas dan menjamin semuanya


baik-baik saja, Sekertaris Vino berbalik meninggalkan apartement tersebut.


***

__ADS_1


Suara adzan berkumandang membangunkan Adiba


yang sedang bermimpi bertemu dengan pangerannya. Dia bermimpi dijemput seorang


pangeran oleh kereta kuda. Namun tubuhnya seketika terlonjak melihat wajah


pengeran itu ternyata Gibran. Pria dingin itu.


 Kenapa wajah pangeran itu mirip si pencuri itu?


Aaa sepertinya aku sudah gila karena sering bertemu dengannya.


 Aku harus segera sholat agar otakku kembali


sempurna. Gumam Adiba


 Adiba menoleh, melihat mama Alexa yang terlelap


tidur disampingnya.


 "Ya


Allah kumohon angkatlah semua beban darinya." Ucap Adiba tanpa


disadarinya ia mengelus pundak mama Alexa dan membuat sang empu menggeliat bangun.


 "Maaf


Ma, Adiba tidak bermaksud membangunkan Mama." Lirik Adiba yang


merasa sangat bersalah karena telah mengganggunya tidur


 Alexa ternyum mendengar doa yang Adiba ucapkan


tadi, sebenarnya Alexa sudah bangun ketika tubuh Adiba bergerak.


 Kamu anak yang baik


Adiba, semoga kamu bisa membawa putraku dari kegelapan. Batin Alexa


 "Tidak


apa sayang, ayo kita sholat." Ajak Alexa yang ditanggapi senyuman


oleh Adiba.


 Adiba dan Alexa sholat subuh berjamaah


diruangan VVIP tersebut, setelah selasai mereka membereskan dan melipatnya.


 "Mama


mau keluar dulu mau beli sarapan, tolong jaga Ana ya."


 "Iya


ma" jawab Adiba memberi senyuman.


 Alexa keluar dari ruangan. Kini hanya ada Adiba


dan Ana diruangan tersebut. selesai dari aktifitasnya Adiba duduk di samping Ana


setelah mengambil majalah yang terletak di meja. Adiba menghabiskan waktunya


untuk membaca sembari menunggu Alexa.


 Lima menit berlalu, Ana menggerakan jari


jemarinya. Adiba yang menyadari hal itu membuatnya tersenyum dan menggenggam


tangan Ana.


 “Kakak! kakak baik-baik saja?” Tanya Adiba


antusias.


 Mata Ana menyipit mendapat serangan cahaya


ruangan yang teralu terang menurutnya. Mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya


penglihatannya kembali sempurna.


 “A- Aku dimana?” Lirihnya pelan.


 "Ini


dirumah sakit kak" Jelas Adiba sambil membantu Ana yang hendak


bangun dan duduk.


 "Siapa

__ADS_1


kamu? Lepaskan!" Bentak Ana membuat Adiba terlonjak.


__ADS_2