PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Tanda aneh di leher


__ADS_3

"Tidak! jangan percaya dengan aktingnya." Gumam Adiba sendiri kemudian melanjutkan kegiatannya memakai kimono dan mengganti pakaiannya.


***


Diluar kamar.


"Selamat pagi tuan"Sapa Bi lastri yang melihat Gibran mengambil kotak P3K


"Pagi, Buatkan kami sarapan!"Titah Gibran kepada bi Lastri yang sudah datang sedang mengepel lantai.


"Baik tuan."Jawab bi Lastri


Gibran kembali ke kamar membawa kotak P3K.


"Olesi bekas merahmu!"Ucap Gibran meletakan kotak P3K diatas ranjang ketika melihat Adiba mengusap-ngusap tanda kepemilikannya.


-Ish tidak malu sekali, inikan karna ulahnya juga. Eh sebentar, tumben dia tidak melemparnya kewajahku.


Syukur jugasi, klo dilempar bisa retak kyk wajah thanos nanti. Batin Adiba cekikan.


"Kenapa kau tersenyum?"Tanya Gibran ketus melihat gerak-gerik Adiba.


"Tidak ada tuan." Jawab Adiba langsung menunduk


Gibran melangkah untuk mengganti pakaiannya. Dia akan bekerja karna ada meeting penting hari ini. Tak lama kemudian, Gibran kembali dengan pakaian formalnya yang sudah menjadi khasnya.


Adiba tertegun melihatnya, Wajah yang fres dan rambut yang masih klimis menambah indah pesona pria yang ada dihadapannya ini. Gibran yang menyadari ekspresi wajah Adiba pun tersenyum


"Aku memang tampan! tidak usah seperti itu. Air liurmu sampai keluar melihat ketampananku."Jawab Gibran dengan percaya dirinya.


Secepat kilat Adiba tersadar dan mengusap bibirnya takut bener air liurnya tumpah. Ternyata eh ternyata... Gibran hanya menjahilinya saja


-Ihh Gibran sialan!! dasar pencuri tak punya malu, tak punya muka. Bukannya minta maaf malah menjahiliku. Sumpah serapah Adiba ketika melihat Gibran pergi berlenggak lenggok tersenyum tipis seperti atlit yang memenangkan asean games.


Adiba sangat kesusahan ketika hendak jalan menuju meja makan, seluruh area kewanitaannya sangat sakit seperti habis melahirkan.


Mengingat kejadian semalam membuat Adiba kembali mengeluarkan buliran kristalnya.


-Aku sudah tidak sempurna seperti dulu. Batin Adiba lirih


Tetapi Adiba masih bersyukur melakukan hal tersebut dengan suaminya, itu artinya pahala besar untuknya. meski dia sendiri tidak rela, setidaknya dia tidak memberikan kesuciannya kepada yang bukan hak nya. Adiba bertekad tidak akan menikah lagi setelah cerai dari Gibran, mana ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan sepertiku (fikirnya)


Gibran yang menunggu Adiba tak kunjung datang pun langsung menyusul Adiba ke kamarnya, dan benar saja dugaannya. Adiba sedang bersimpuh dilantai sembari menangis.

__ADS_1


"Hey bangunlah! kenapa kau menangis?" Tanya Gibran sambil membantu Adiba berdiri.


Adiba hanya menggelengkan kepalanya.


Entah angin darimana Gibran langsung menggendong Adiba menuju meja makan. Bi Lastri yang melihat Adegan tersebut tersenyum teringat masa mudanya bersama suaminya.


Gibran mendudukan Adiba tepat disampingnya.


"Duduk!" Tegas Gibran ketika melihat Adiba hendak berdiri menuangkan nasi.


Gibran melihat ke arah Bi Lastri, bi Lastri yang mengerti arah tatapn Gibran pun langsung menjalankan tugasnya. Menyajikan makanan untuk Gibran dan Adiba.


Setelah selesai makan, tanpa berbicara Gibran langsung menggendong Adiba membawanya kembali ke kamar.


"Apa nyonya sakif?" Gumam Bi Lastri yang heran melihat Gibran kembali menggendong Adiba.


"Terimakasih tuan." Ucap Adiba ketika Gibran sudah meletakkan tubuh Adiba diatas kasur.


Gibran mengambil kardus kecil dan memberikannya kepada Adiba.


"Apa ini?" Tanya Adiba membolak balikan cover bag kecil berisi kardus itu.


"Pakailah! aku tidak mengizinkanmu pergi kemanapum hari ini!" Tegas Gibran kemudian langsung pergi menuju perusahaan.


Karena penasaran, Adiba membuka kardus tersebut dan ternyata sebuah handphone. Betapa senangnya ia bisa memilikinya karna mulai saat ini Adiba akan dengan mudah berkomukasi dengan sahabatnya Aisyah. sebenarnya Adiba tidak terlalu faham mengenai merk handphone, jadi dia tidak mengetahui jika hanphone yang diberikan Gibran adalah handphone terbaru yang mempunyai harga fantastis.


Adiba mengotak ngatik ponsel barunya, Adiba membuka akun sosial media miliknya dan melihat-lihat profilnya yang lama tidak dibukanya.


Tak lama kemudian,,, Ponselnya berdering.


Tertera nama "Suamiku sayang." Disana


"Cih! dia sudah menyimpan nomornya sendiri! dan apa ini suamiku sayang? menggelikan sekali!" Umpat Adiba yang masih kesal terhadap Adiba.


Perlahan Adiba menekan tombol hijau tanda menerima panggilan.


"Apa kau tuli hah? kenapa lama sekali mengangkat telponku?" Tanya Gibran berteriak di sebrang sana membuat Adiba menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Ma_maaf tuan, saya sedang berada di dalam kamar mandi tadi." Jawab Adiba berbohong biar cepat beres.


Tidak mungkin kan Adiba menjawab habis mengumpatnya terlebih dahulu, bisa digorok lehernya.


"Huft" Terdengar Gibran membuang nafasnya kasar

__ADS_1


"Syukurlah! ternyata kau sudah bisa jalan. Aku akan menjemputmu siang nanti klo begitu." Ucap Gibran merendahkan nada bicaranya.


-aaaaa tidak-tidak kutelan kembali kata-kataku!. Batin Adiba yang menyesal atas ucapannya yang sudah berbohong. Niat menjauhi Gibran seharian ini, dia malah akan bertemunya nanti.


-Berbohong memang sangat merugikan!. Kesal Adiba.


"Kemana tuan?" Tanya Adiba berhati-hati.


"Tidak usah banyak bertanya! apa kau suka pemberianku?" Tanya Gibran penuh harap.


"Suka" Jawab Adiba singkat


"Terus?"


-Ya terus apanya tuan? aku harus bilang apa? kau tanya ya aku jawab iya suka. Geram Adiba lama-lama.


"Tidak tau te..." Ucap Gibran.


"Terimakasih banyak tuan, saya menyukainya." Ucap Adiba menyambar dan memotong ucapan Gibran.


"Telat!" Bentak Gibran dan langsung mematikan sambungan telponnya.


"Huft sabar Adiba!!!" Ucap Adiba pelan dan menghirup nafas pelan kemudian membuangnya pelan seperti orang yang akan melahirkan.


Daripada Gila menghadapi Gibran, Adiba beranjak dari kasur ingin mencoba berjalan. Perlahan Adiba turun dari kasur dan melangkahkan, Adiba seperti bayi yang baru belajar jalan bolak-bolak kegirangan ketika sakitnya lama-kelamaan memudar.


***


Pukul 11:30 WIB, Adiba beranjak ke kamar mandi membersihka badannya dan mulai bersiap. Adiba memakai pakaian yang menurutnya cocok karena tidak terlalu ribet dan mewah.


Adiba membolak balikan badannya di depan meja rias.


"Tanda aneh ini! untung bisa ku tutupi dengan hijabku!" Ucap Adiba yang kesal setiap melihat banyak tanda kepemilikan Gibran ditubuhnya.


Adiba yang tidak suka berdandan hanya menggunakan bedak di wajahnya, dan menambahkan sedikit lip dibibir kecilnya.


Gibran yang sedari tadi sudah sampai, tersenyum melihat Adiba memutar-mutar di depan cermin. Karna waktunya sedikit, Gibran langsung menghampiri Adiba dan mengajaknya keluar Apartemen.


Di luar Apartemen, Gibran menggenggam erat tangan Adiba. Gibran geram dan kesal ketika banyak orang yang berpapasan dengan mereka pasti tertegun dan terpukau melihat kecantika Adiba.


"Auw, sakit tuan" Ringis Adiba ketika Gibran mencengkramnya lebih kuat.


Gibran terlonjak dan melepaskan cengkramannya.

__ADS_1


-Mereka melihat ketampananmu! kenapa kau marah karna itu?. Batin Adiba aneh dengan tingkah Gibran


__ADS_2