
“Lanjut kebawah!” Menyuruh dengan santainya sambil kembali melipat tangan di dadanya.
Mata Adiba terbelalak seketika mendengar ucapan Gibran, bagaimana dia bisa melakukan hal segila itu (menurutnya).
Gibran membalas tatapan mata Adiba dengan lebih tajam, membuat nyali Adiba menciut seketika dan menundukan kepalanya dengan mata terpejam.
"Kau adalah istriku sekarang! layani aku dengan baik. Tidak ada bantahan untuk itu." Tegas Gibran.
Ucapan Gibran membuat Adiba menelan salivanya dengan susah payah. Gibran memang benar, ia sudah menjadi seorang istri sekarang. Sudah sepantasnya ia melayani suaminya dengan sangat baik sesuai dengan apa yang sudah di ajarkan kepadanya oleh bu Indah dan ibu angkatnya.
"Cepat!!!" Bentak Gibran membuat Adiba yang sedang melamun terperanjat.
Dengan tubuh yang sudah berkeringat dan tangan bergetar Adiba mengumpulkan semua tenaga dan keberaniannya untuk menyentuh benda yang tidak pernah dilihat dan di sentuhnya selama ini.
Adiba mulai menggosokan spons kebenda tersebut sambil memejamkan mata. Gibran tersenyum penuh kemenangan dan sesekali mengerang lembut karna sentuhan Adiba.
"Shitt!!" Gumam Gibran
Tidak tahan dengan sentuhan-sentuhan Adiba, Gibran beranjak meraih handuk dan langsung keluar meninggalkan kamar mandi.
-Astagfirullah, mimpi apa aku semalam? sampai melakukan hal seperti tadi. Batin Adiba sambil menutup wajah dengan kedua tangannya
Rasa malu Adiba sudah mendarah daging, ingin sekali Adiba menenggelamkan wajahnya ke dalam sumur sekarang juga.
Adiba membersihkan badannya sendiri di dalam bathup dengan sangat lama, berharap Gibran sudah tidur. Adiba tidak berani jika harus berhadapan dengan Gibran, mau ditaruh dimana wajahnya jika bertemu dengan Gibran setelah kejadian tadi.
Setelah 30 menit di dalam kamar mandi Adiba baru keluar. Sudah menggunakan piyama rapi serta penutup rambutnya.
Nasib beruntung tidak berpihak padanya hari ini, berlama-lama di kamar mandi niat ingin menghindari Gibran. Malah orang yang di hindari sedang berdiri didepan pintu sambil melipat tangan didadanya menatap tajam kearah Adiba.
"Astagfirullah!" Seru Adiba terkejut.
"Lambat!! siapa kau, beraninya membuatku menunggu hah?" Bentak Gibran masih diposisinya.
-Menungguku? untuk apa?.. Berfikir sejenak.
-jangan-jangan?. Aaaaaaa tidak!!!. Batin Adiba menduga-duga.
-Sial! untuk apa aku mengucapkan hal sepeti itu. Maki Gibran dalam hati
__ADS_1
"Jangan terlalu percaya diri!!! aku tidak sudi menyentuhmu, aku hanya mencintai kekasihku." Seru Gibran yang melihat ekspresu wajah adiba yang terkejut kemudian membalikan badan menuju ranjang.
Tubuh Adiba mematung, Hatinya terlena. entah kenapa ada rasa bahagia Gibran tidak menyentuhnya dengan begitu dia bisa menjaga kesuciannya dari orang yang sama sekali tidak mencintainya dan ada rasa tidak terima Gibran tidak mau menyentuhnya.
Mata Adiba mengekor mengikuti kepergian Gibran, rasanya Adiba tidak terima dengan apa yang baru saja di ucapkan Gibran. Tak lama bergelut dengan pemikirannya sendiri,
Tok,,,,,tok,,,,,,tok,,,,
Terdengar ketukan pintu.
Adiba melangkah menuju asal suara, sebelumnya melihat Gibran yang sedang memegang i-pad kemudian membukakan pintu.
Tanpa permisi dan dipersilahkan, seorang wanita masuk menerobos jalan sempit yang terhalang oleh tubuh Adiba. Hampir saja tubuhnya hilang keseimbangan jika tangannya tidak bertumpu pada dinding.
"Hanyyy....." Teriak manja Shella sebelum sampai ranjang.
Gibran tersenyum sumringah melihat kedatangan kekasihnya dan merentangkan tangannya tanda hendak berpelukan.
Adiba yang melihat senyuman Gibran pun kembali merasa sesak didadanya. ntah kenapa, padahal ia sudah menutup rapat-rapat hatinya untuk pria yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Melihat mereka berpelukan, Adiba enggan melihatnya dan memilih keluar kamar dan menutup pintu.
"Ya, apa yang tidak ku tau tentangmu." Jawab Shella bangga.
"Aku tidak akan membiarkanmu berduaan dengan gadis cupu itu!" Timbal Shella lagi.
Gibran membuka pelukan menatap Shella.
"Gadis cupu?" Tanya Gibran mengernyitkan dahi.
-ops, mati aku!! Batin Shella.
"Ah, tidak!! ma_maksudku gadis cu...cukup kecil itu." Jawab Shella hati-hati.
Gibran masih menatap Shella bingung.
"Ya, hany. Bukankah dia masih kecil.
aku tidak akan membiarkanmu bersamanya, aku gak terima!." Pura-pura merajuk.
__ADS_1
Gibran terkekeh melihat tingkah Shella, Gibran memeluk dan mengelus kepala Shella.
Mereka berbincang-bincang hingga akhirnya terlelap tanpa menyadari keberadaan Adiba yang sudah pergi sejak tadi.
****
Adiba berlari tanpa arah tujuan yang jelas, hingga ia menghampiri sudut ruangan yang menurutnya nyaman untuk bersandar. Adiba duduk di kursi menghadap keluar hotel yang terbuat dari kaca, memamerkan keindahan dari atasnya.
Adiba meratapi nasibnya yang sekarang sudah menjadi istri yang tak diinginkan, bahkan di malam pernikahan pun suaminya berduaan dengan wanita lain tanpa memperdulikan keberadaannya.
"Ayah... aku rindu.
aku ingin tahu alasan ayah menjodohkanku dengannya." Lirih Adiba miris.
Lama merenung, suara sekertaris Vino mengejutkannya.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" Tanya Sekertaris Vino menghampiri Adiba.
"Ah, kau sekertaris Vino.
tidak ada, terimakasih." Jawab Adiba tersenyum kemudian kembali menatap indahnya kota di sebrang kaca.
"Kenapa anda disini nona? dimana tuan muda?"Tanya sekertaris Vino lagi.
Adiba tak bergeming, ia kembali melamun.
"Nona!" Timbal sekertaris Vino lagi.
"Eh iya maaf, apa tadi? bisa kau ulangi, aku tidak mendengarnya." Jawab Adiba tidak enak.
"Kenapa anda disini nona, dimana tuan muda?" Tanya sekertaris Vino lagi.
"Oh, dia didalam bersama kekasihnya. Aku tidak ingin mengganggunya, maka dari itu aku disini." ucap Adiba menjelaskan.
"Hm baiklah, saya akan temani nona disini." Ucap sekertaris Vino prihatin terhadap Adiba.
Adiba hanya menganggukan kepalanya.
-Wanita itu!!! ku kira dia akan kapok. tunggulah! sebentar lagi kudapatkan buktinya. Batin sekertaris Vino geram terhadap Shella yang selalu datang dikehidupan tuan mudanya dan mengacaukan semuanya.
__ADS_1