PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Nasi goreng Ala Gibran


__ADS_3

Sang surya mulai keluar malu-malu dari celahnya, sinarnya menghampar kesuluruh permukaan bumi hingga masuk ke celah jendela kamar dua insan yang enggan bangun sepertinya.


1 jam telah berlalu Gibran menatap dan menelaah setiap inci wajah istrinya. Rasa bersalah atas perbuatannya selalu setia di dalam fikirannya.


Gibran mengelus lembut pipi lembut istrinya yang telah tega ditamparnya meski tidak sadar akibat diselimuti amarah, tapi tetap saja dia telah melukainya.


Gibran bertekad teguh dalam hati akan membahagiannya, mengubah setiap air mata menjadi kebahagiaan. Mengubah penantian menjadi ketenangan, Gibran sudah mantap mencitai Adiba dengan seluruh jiwanya saat ini.


Adiba menggeliat akibat gerapan Gibran di pipinya yang tak kunjung berhenti.


Adiba bermimpi ada seorang pangeran yang mengelus lembut pipinya. Tapi dia heran, kenapa dalam mimpi ini dia tidak berenti mengelus pipiku. Apa ada tip-x di pipinya?.


Kemudian Adiba melawan mimpinya dan bangun kedalam dunia nyata.


Betapa kaget dirinya, melihat Gibran yang sedang menatap dan mengelus pipinya dengan posisi sangat dekat, tinggal beberapa centi lagi hidung mereka bertemu.


"Apa masih sakit?" Tanya Gibran pelan.


-Sakit? apa maksudnya. Batin Adiba yang masih setengah sadar.


Adiba mengingat-ngingat kembali kejadian sebelumnya. -Ah ya, pria ini telah menamparku dengan teganya.


Ada rasa kecewa dan bahagia dalam hatinya, tapi Adiba berusaha memaafkan Gibran atas perilakunya semalam. Rasa bahagianya? ntahlah, Adiba belum yakin akan penuturan suaminya. Adiba tidak menolak ataupun menerima pengakuan cinta itu semalan. Dirinya masih terlena akibat suaminya sendiri kala itu, dia tidak ingin ambil resiko dengan membuka hatinya kembali.


Adiba tidak ingin sakit hati lagi untuk yang kedua kalinya, cukup diawal pernikahan dia membuka hatinya. Untuk sekarang dia tidak ingin terburu-buru, meski hatinya yang paling dalam bahagia setiap mengingat ungkapam cinta suaminya.


"Tidak" Jawabnya simpel.


"Benarkah?" Gibran tersenyum melihat tingkah istrinya yang jutek.


Dia tidak menyangka, jika istrinya akan merajuk selama ini sampai pagi, padahal semalam dia sudah minta maaf dan mengungkapkan perasaannya.


Dia sendiri bersyukur karna kekhawatir terhadap Adiba semalam menghilangkap kegugupannya menyatakan persaannya. Meski perbuatannya yang tetap salah.


-Baiklah akui kesalahanmu!. Batin Gibran.


Tanpa permisi Gibran mencium lembut dan lama pipi bekas tamparannya membuat Adiba terlonjak tanpa membantah ataupun kesakitan. Gibran tersenyum penuh kemenangan karna mendapatkan jawabannya.


"Baiklah, aku percaya sekarang" Ucap Gibran setelah mencium pipi Adiba.


"Mandilah, aku akan membuatkanmu sarapan" Ucap Gibran membuat Adiba menaikkan satu alisnya.


"Kenapa? kau meragukan keahlianku" Tanya Gibran


"Hm tidak" Ucap Adiba sambil menahan tawanya.


"Baiklah aku akan mandi dulu" Timbalnya lagi dan langsung beranjak menuju kamar mandi membersihkan diri.


Lama dengan ritual mandinya Adiba memakai baju santai ala dirinya yang sering ia gunakan di astrama. Setelah selesai, dia menyusul Gibran ke dapur.


Adiba tertegun melihat Gibran yang sedang sibuk dengan alat dapur hingga tidak menyadari kedatangan Adiba.


-Dia benar-benar sedang memasak ternyata. Batin Adiba


-Tapi apa yang dia masak? jangan-jangan pais toke untuk membunuhku.


"Kemana Bi Lastri?" Tanya Adiba sambil berjalan menghampiri Gibran.


"Aku meliburkannya hari ini" Ucapnya kemudian menoleh karna mendengar langkah kaki istrinya.


"Stop!" Ucapnya sambil mengangkat lima jarinya tanpa berbalik membuat Adiba menghentikan langkahnya.


"Kau duduk saja disana, awas jika berani melangkah meski hanya sejengkal" Ancam Gibran. Matanya tetap fokus dengan barang-barangnya.


Adiba menghembuskan nafasnya kasar.


-Kenapa lagi dah dengan orang ini. Adiba heran dengan tingkah Gibran yang berubah-ubah.


Tak lama kemudian Gibran berjalan membawa nampan berisi nasi goreng dan susu.


"Hahahahahaha" Adiba tertawa melihat penampilan Gibran yang menurutnya sangat lucu.


Gibran yang biasa berpenampilan Cool dengan jas hitam khasnya yang mahal, sekarang hanya memakai kaos dan celana pendek dengan celemek yang menempel di tubuhnya.


Gibran menyerngitkan dahinya.


"Apa ada yang lucu?" Tanya Gibran heran.

__ADS_1


"Haha tidak, hanya saja kau bukan seperti seorang pekerja kantoran sekarang. melaikan seperti maid yang bekerja di mansion utama" Ceplos Adiba membuatnya menutup mulutnya sendiri.


-Duh!!! bodoh! mulut tak tau dirinya kambuh lagi kan. Geram Adiba menyesali perbuatannya.


Gibran yang mendengarnya tidak terpancing emosi sama sekali, perhatiannya malah lebih kepada tertawanya Adiba daripada apa yang diucapkannya.


Hati gibran merasakan kebahagiaan ketika melihat Adiba tertawa lepas, membuatnya semakin yakin akan cintanya.


"Ma_maaf" Ucap Adiba terbata-bata.


"Tak apa. Apakah kau masih mau menjadi istriku jika aku hanya seorang pelayan?" Ucap Gibran menatap wajah Adiba


Tatapannya tenang, tapi hatinya berlonjakan tidak beraturan menanti jawaban Adiba. Menanti jawaban Adiba seperti menanti orang melahirkan menurutnya saat ini.


"Tidak" Ucapnya singkat membuat wajah menanti Gibran berubah mencair.


"Maksudmu? kau tidak mau menjadi istriku lagi jika aku hanya seorang pelayan?" Tanya Gibran beruntun karna kesal mendengar jawaban tidak.


"Tidak! aku tidak akan menceraikanmu. Bukan pekerjaan atau harta yang membuat manusia bahagia, tapi... cinta dan kasih sayang yang membuat manusia bahagia meski dirundung kemiskinan." Jelas Adiba membuat Gibran tertegun


Penjelasan Adiba seperti tamparan keras untuknya sendiri, dirinya yang tak memberikan cinta dan kasih sayang kepada istrinya membuat istrinya menderita meski tinggal disebuah Apartemen mewah sekalipun.


Gibran kembali tersenyum.


"Baiklah, silahkan dinikmati nasi gorengnya tuan putri" Ucap Gibran membungkuk seperti maid kemudian menyajikan makanan yang daritadi di pegangnya.


Adiba menyerngitkan kembali dahinya, melihat 1 piring besar yang hanya berisi nasi goreng dan segelas susu.


"Terimakasih" Ucap Adiba tak kalah manisnya.


Baru saja Adiba hendak memasukan sendok kedalam mulutnya, Gibran kembali menghentikan langkahnya.


"Tunggu"


"Kenapa lagi?" Adiba lama-lama kesal dengan tingkah Gibran.


Tanpa menjawab ucapan Adiba, Gibran meraih sendok yang dipegang Adiba.


"Aaa buka mulutmu! aku yang akan menyuapimu"


Ucapan Gibran sukses membuat Adiba membulatkan matanya tak percaya.


Tanpa menunggu lama, Adiba menerima suapan nasi goreng buatan Gibran itu.


Mata Adiba terpejam ketika nasi goreng itu mulai berasa dilidahnya. Gibran yang melihatnya sudah bercucuran keringat basah di pelipisnya menanti bagaimana masakannya yang ia ikuti dari tutorial youtube satu jam yang lalu.


Perlahan Adiba membuka matanya, membuat Gibran semakin penasaran dengan hasil rasanya.


Adiba menatap Gibran sekilas, kemudian tersenyum.


"Yeay berhasil" Gibran mengepalkan tangan kanannya karna usahanya tak sia-sia.


"Siapa dulu yang buat? Keturunan Adelard Wijaya!..!" Ucapnya sombong membuat Adiba terkekeh.


Adiba mengingat sesuatu,


-Adelard wijaya? seperti melihat nama itu, tapi dimana. Batinnya.


Tak lama kemudian suara Gibran membuyarkan lamunannya.


"Aku mau coba, bagaimana rasanya sampe membuat mu tersenyum begitu"


"Eh jangan" Adiba menghentikan gerakan Gibran.


"Kenapa?"


"Aku mau menghabiskan semuanya" Ucap Adiba tersenyum kaku


"Kau rakus juga ternyata! Tolonglah aku hanya ingin mencobanya sedikit saja."


Ucapnya dan langsung memasukkan nasi goreng buatannya kedalam mulut. Kini, Adiba membiarkan Gibran mencicipi nasi goreng buatannya sendiri.


Uwek,,,,,,,,


Gibran memuntahkan semua yang berada di dalam mulutnya dan meraih gelas dan langsung diteguknya tandas tak tersisa.


"Asin....!" Ucapnya membuat Adiba kembali tersenyum kaku.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak memuntahkannya saja, malah ditelan dan tersenyum padaku. Cih ku kira nasi goreng pertamaku ini enak."


"Buang! ini tidak layak dimakan" Ucapnya kesal.


"Apa kau tidak mencobanya terlebih dahulu?" Ujar Adiba berhati-hati.


"Tidak! karna kurasa sudah pas sesuai yang kelihat" Ucapnya jujur.


"*Yasudah tidak apa-apa, ayo ikut. Aku yang akan membu**atnya*." Ajak Adiba sambil menarik lengan Gibran.


Adiba memulai acara memasaknya dengan Gibran yang memeluknya dari belakang. Gibran tak melepaskan Adiba meski sejengkalpun membuat Adiba jengah


"Kumohon lepaskan! bagaimana aku bisa masak jika kau nempel terus seperti ini" Ucap Adiba kesal sambil mengaduk-ngaduk nasi yang sudah tercampur diatas wajan.


"Tidak mau" Ucapnya jelas, malah memperat pelukannya.


Gibran menciumi area tengkuk Adiba, membuat Adiba geli. Adiba menghidarinya dengan berjalan mengambil sosis yang sudah dipotongnya tadi diatas meja makan. Tapi usahanya sia-sia, Gibran tetap menempel dan ikut berjalan mengikuti Adiba.


Adiba berbalik hendak kembali ke kompor, tapi tangannya lebih dulu di cekal oleh Gibran kebelakang tubuh Adiba. Gibran mulai ******* bibir istrinya yang menurutnya cerewet daritadi membuat Adiba membisu seketika.


Gibran mengangkat tubuh Adiba dan mendudukannya diatas meja makan tanpa melepas pautannya. Menuntun tangan adiba agar melingkar di lehernya, Tangan Gibran sudah berada di area favoritnya membuat Adiba mendesah.


Gibran semakin terpancing hasratnya, dia menidurkan Adiba di atas meja tersebut, menyibakkan baju Adiba hingga ke atas dadanya. Tanpa menunggu ijin, Gibran membenamkan wajahnya di disana.


Adiba yang baru menyadari posisinya di dapur langsung terlonjak, dia reflek menarik rambut Gibran yang sedang sibuk diarea dadanya.


"Auww" Ringis Gibran menghentikan aksinya.


"Salah sendiri! ini di dapur." Jelas sendiri.


"Memangnya kenapa?" Tanya Gibran menggoda, membuat pipi Adiba memerah seketika.


"Aku takut ada yang lihat" Lirihnya pelan tapi masih terdengar jelas ditelinga Gibran.


"Tidak akan ada yang berani masuk tanpa seijinku! tapi jika kau mau kita melanjutkannya di kamar. Baiklah!" Ucap Gibran prontal.


Adiba mengetuk dahi Gibran dengan jarinya.


"Dasar mesum!" Ucapnya kemudian beranjak dan lari mendekati kompor. Tapi gerakannya kalah cepat oleh Gibran lagi-lagi dia memeluk Adiba dari belakang.


"Tidak apa mesum sama istri sendiri" Jawabnya langsung mencium tengkuk Adiba.


Kegiatan mereka terhenti ketika mencium bau tak sedang di hidungnya.


"Kompornya....!"


"Nasi gorengnya....!" Teriak Adiba dan Gibran bersamaan kemudian mereka berlari bersama menuju kompor.


Dengan cepat Adiba mematikan kompornya, terlihat nasi yang sudah menghitam.


"Yahh" Lirih Adiba.


"Kamu si.." Ucap Adiba kesal.


"Aku?" Tanya Gibran menunjuk wajahnya sendiri.


"Ya! klo saja tadi kau tidak begitu pasti tidak akan gosong begini." Ucapnya


"Begitu bagaimana?" Tanya Gibran menyerngitkan dahinya berpura-pura bodoh.


"Itu tadi...!"


"Tadi apa?" Tanyanya lagi penasaran apa yang akan dijawab istrinya.


"Ah sudahlah.." Kesal Adiba langsung melangkahkan kakinya.


Gibran meraih tangan Adiba dan menarik kedalam pelukannya.


"Baiklah-baiklah aku minta maaf. Vino akan kesini mengantarkan makanan" Ucapnya sambil mendekap istrinya.


Adiba hanya menganggukan kepalanya kemudian terdiam.


****


Authot ucapkan terimakasih banyak kepada readers yang tetap setia mengikuti kisah novel ini dan memberika. dukungannya dengan memberikan vote komen dan jempolnya.


Terus tinggal jejak kalian dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya ya, agar lebih semangat lagi up nya.

__ADS_1


TerimakasihšŸ¤—ā¤


__ADS_2