
Tiba dirumah utama mereka di sambut hangat oleh Mama Alexa dan Anna yang baru tiba dari Jerman. Anna terlihat lebih ramah dan memancarkan senyum kepada Adiba.
"Assalamualaikum" Salam Adiba dan Gibran bersamaan.
"Wa'alaikum salam, hm anak anak mama sudah sampai"
Mama Alexa memeluk Adiba kemudian menatap putranya.
"Kenapa wajahmu pucat gitu?"
"Mas Gibran sa..." Ucapa Adiba terhenti "Aku gapapa ko ma"
Mama Alexa menatap lamat lamat kedua putra putrinya.
"Hm, baiklah ayo kita masuk"
Baru satu langkah Gibran masuk kedalam rumah, perutnya kembali bergejolak dan dengen cepat Gibran lari ke toilet dapur terdekat. Adiba,Mama Alexa, Anna, maupun Vino juga berlari mengikuti tuannya.
Adiba memijit mijit tengkuknya.
"Mas kita kerumah sakit ya" Bujuk Adiba tapi Gibran tetap menggeleng.
"Yasudah gapapa, tidak usah di paksa nanti juga hilang sendiri" Jawab Mama Alexa tersenyum.
"Mama kak Gibran sakit ko senyam senyum ?" Kesal Anna.
"Tentu saja mama senang" Ucapnya sumringah membuat semua orang disana melotot tak percaya termasuk Gibran sendiri.
"Mama" Ucap Gibran tak menyangka
"Sudah, sudah! ayo masuk kamarmu, nanti mama jelaskan" Semua mengikuti perintah mama Alexa yang sedari tadi menampilkan senyum terbaiknya.
"Bi, buatkan teh manis. kemudian bawa ke kamar tuan muda"
"Baik nya" Seru Mama Alexa kepada pelayan sebelum mereka meninggalkan dapur.
Adiba membaring Gibran di kamarnya. Anna nampak khawatir terhadap kakak satu satunya tersebut.
"Kakak tidak apa apa?" Gibran mengangguk.
Adiba tersenyum melihat kepedulian adik iparnya. tak lama kemudian mama Alexa datang bersama seorang pelayan.
"Simpan disana" Pelayan tersebut patuh dan menyimpannya diatas nakas sesuai perintah mama Alexa.
"Minumlah, itu akan sedikit menenangkan mu" Ucapnya
Adiba mengambil dan memeberikannya kepada Gibran.
"Mama seneng deh"
"Mamaaa!!" Rajuk Anna kesal.
"Hehe, berapa usia kandunganmu sayang?"
"Kandungan?" Anna mengangkat satu alis, Adiba tersenyum meng iyakan dan bahagia atas sikap Anna yang sudah berubah.
Entah apa alasannya yang pasti Adiba sangat bersyukur akan hal itu.
"Lima minggu ma"
"Beneran kak?" Adiba mengangguk "Yeay, sebentar lagi aku akan punya ponakan dong" jawab anna ria.
"Wah, semoga kamu selalu sehat ya. Mama gk sabar punya cucu"
"Mama tau darimana klo adiba sedang hamil, aku kan belum memberitahu mama soal kehamilan Adiba"
"Tahu dong, mama kan lebih perpengalaman daripada kalian" Ucapnya tersenyum simpul.
"Dulu saat mama hamil, papamu mengalami kehamilan simpatik seperti yang kamu alami sekarang. Dia sering muntah dipagi hari dan sensitif terhadap aroma bau"
__ADS_1
"Oh, tapi ma kak Adiba yang hamil kenapa kak Gibran yang ngidamnya?" Tanya Anna yang di angguki Adiba
"Dia juga selalu sensi seperti orang PMS" Timbal Adiba membuat Anna tertawa.
"Haha benarkah kak?" Adiba mengangguk.
PMS? lah apalagi itu. Gumam Vino dan Gibran.
"Memang seperti itu sayang, kehamilan simpatik bisa terjadi pada usia kandungan trimester pertama sampai ketiga. memang tidak semua suami mengalaminya, tapi kehamilan simpatik ini memang ada dan tak jarang suami mengalami apa yang dialami istrinya" Jelas mama Alexa panjang lebar.
"Oh" Jawab Anna dan Adiba berbarengan.
"Azab kali ya ma" celetuk Anna membuat Gibran melotot.
"Eh sembarangan" jawab Mama Alexa.
"Hehe, ya kan ma bisa jadi. Dulu kan kak Gibran sering nyakitin Kak Adiba karna perempuan gila itu."
"Seperti aku juga" Lanjutnya lirih.
Hati Adiba kembali tersayat mengingat masa lalu yang menyakitkan tersebut. Semua orang tahu tentang kejadia tersebut termasuk Mama Alexa sendiri.
Adiba tertunduk, membuat Gibran kembali dirundung kesalahan yang meliputi dirinya.
"Sayang.." ucap Gibran, Adiba diam melepas genggaman tangannya.
Anna menghampiri Adiba dan memeluknya.
"Kakak maafkan aku udah berbuat jahat sama kakak waktu itu, aku baru sadar akan semuanya klo kakak gk salah. perempuan gila itu yang membuat kekacauan akan semuanya" Jelasnya.
Adiba melepas pelukan dan tersenyum.
"Aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf ko" jawab Adiba membuat semuanya tersenyum.
Mereka larut dalam kehangatan keluarga yang jarang terjadi, pagi itu mereka berbincang hingga waktu siang tiba. Sekertaris Vino langsung pergi ke kantor untuk menghandle pekerjaan Gibran setelah perbincangan singkat tadi.
"Ada apa?"
"Aku ingin menjenguk bayi kita" Ucapnya berat, tubuhnya panas nafasnya pun sudah tidak beraturan.
Melihat Adiba yang semakin berisi dan sexy membuat keinginannya naik berkali kali lipat. Padahal Adiba menggunakan pakaian tertutup, entah kenapa mata Gibran bisa melihat seluruh tubuh Adiba seperti terawang.
"Shit" umpatnya kemudian beranjak memeluk Adiba dari belakang.
"Menjenguk bayi kita?" Gibran mengangguk. Hasratnya membuat dia tak berdaya dan berbicara banyak.
"Mas, bayi kita masih di dalam sini. Bagaimana bisa kamu menjenguknya?" Ucap Adiba menunjuk perutnya.
Berbeda dengan Gibran yanh malah menatap ke arah bawah perut. Membuat tubuhnya semakin panas dingin.
"Ayo, aku ajarkan cara menjenguk bayi kita" Suaranya terbata bata sambil menarik Adiba ke ranjang.
Tanpa berlama lama, Gibran langsung menghimpit dan mencium seluruh wajah dan tubuh Adiba. Membuat Adiba mendesah tak karuan, apalagi ketika Gibran sudah bermain di area intimnya dengan ganas.
"Akh Gibran" Suara adiba berhasil membuat Gibran gila.
Mereka menikmati malam panjang tersebut dengan pergulatan yang menggelora jiwa, menikmati sentuhan tiap sentuhan yang nikmat sampai ke ubun ubun. (Sudah ya pasti hafal selanjutnya gimana😂)
...---...
Suasana hangat keluarga Adelard Wijaya masih terasa ketika sarapan pagi tiba. Pagi-pagi sekali Adiba sudah bangun untuk membuat sarapan suaminya, padahal tubuh dan tulangnya seperti remuk tak tersisa.
Tapi Adiba menguatkan diri karna hanya makanan yang dibuat Adibalah yang bisa masuk kedalam perut suaminya.
"Sayang kamu jangan terlalu cape" Ujar mama Alexa yang baru tiba.
"Iya,ngga ko ma" Jawab Adiba kaku mengingat kegilaan putra dari wanita ini.
Lebih capean yang semalem mah. Gumamnya dalam hati sambil tersenyum aneh.
__ADS_1
"Lagipula aku dibantu oleh pelayan disini"
"Baiklah, ayo kita duduk"
"Bi lanjutkan masakannya" Lanjutnya, pelayan tersebut mengangguk dan melanjutkan masakan Adiba tadi.
"Pagi ma, pagi kak" sapa Anna yang baru tiba dengan penampilan yang sangat cantik dan rapi. Anna memang selalu tampil fashionable. Karna karir dan kebiasaannya yang menuntut dirinya untuk selalu tampil seperti itu.
"Pagi"
"Pagi"
Tak lama, Gibran turun bersama dengan sekertaris Vino disampongnya. Entah sejak kapan pria itu datang, dia sudah seperti bayang bayang Gibran yang selalu ada ketika matahari sudah terbit.
Gibran turun dengan sangat Elegant dengan balutan jas yang mewah, ditambah senyuman yanh sedari dari mengiringi langkah kaki Gibran. Membuat dirinya semakin tampil memukau.
Anna terdiam ketika dua pria itu turun, Anna terlihat sedikit merapihkan rambutnya yang menjuntai.
"Pagi nyonya, pagi nona muda" Sapa Vino yang diangguki oleh Mama Alexa dan Adiba. Anna terlihat terdiam persekian detik menatap Vino yang sama tampan dan rapi nya seperti Gibran.
"Bahagia banget hari ini sepertinya" Ujar Mama Alexa senang melihat senyum Gibran yang sudah lama tak dilihatnya.
iya lah, gimana gak bahagia. Gila banget gitu semalem.
Ketus Adiba dalam hati yang masih kesal dengan Gibran yang terus saja mengganggunya, Gibran bahkan hanya memberi Adiba waktu istrihahat sati jam hingga setelahnya melakukan hal itu lagi dan lagi.
Gibran menjawab dengan senyuman dan mengedipkan mata kepada Adiba membuat Adiba bergidik.
Setelah sarapan selesai dengan diiringi sedikit candaan Anna yang meminta menamai keponakannya dengan nama
"BRYAN"
"Tidak!" jawab Gibran tegas.
"Kakak!!!"
"NO! I'm his father, I made it. therefore I will give him a name" (aku ayahnya, aku yang membuatnnya. maka dari itu aku yang akan memberinya nama) tegasnya membuat Anna berdecih.
sedangkan Adiba melongo tidak mengerti, jika Adiba memahami arti dari yang Gibran ucapkan. Mungkin Adiba sudah menggetok kepala tampan Gibran dengan sendoknya.
Mobil yang ditumpangi Gibran dan Vino sudah melaju dengan cepat, sedangkan Anna sudah berangkat mendahului Gibran.
Mama Alexa mengajak Adiba untuk beristirahat di ruang keluarga.
"kapan kau akan menikah?" Tanya Gibran tiba tiba membuat Vino terlonjak
"..."
"Menikahlah, bahaya jika kau lama membujang"
Vino menyerngitkan dahi, Gibran melihat ekspresi wajah Vino dari kaca spion.
"Punyamu bisa berkarat nanti jika lama lama tidak di pakai" Celetuk Gibran.
"Sialan" Umpat Vino
"Heh beraninya kau mengumpatku"
"Ma_ma tuan" Ujar Vino langsung terdiam.
🌹🌹🌹
Halo para readers ku yg setia😘😘😘
Gimana nih menurut kalian episode kali ini. Gak bosen bosen author ngingetin, jangan lupa like dan vote sebanyak banyaknya ya agar author lebih semangat lagi.
makasih,,
i love you🤗🤗❤❤❤❤
__ADS_1