
Dedaunan jatuh diterpa angin, tubuhnya terhempas bertebaran mengikuti alurnya. Hingga disitulah tempat ia berpijak.
Gibran sendiri masih sering muntah di pagi hari. Karna makanan buatan Adiba yang hanya bisa masuk kedalam mulutnya, Adiba memutuskan untuk selalu masak pagi untuk suaminya.
Hari ini, pagi pagi sekali Adiba sudah dibuat pusing oleh Gibran. Pasalnya Gibran meminta Adiba membuat sate ikan piranha yang di masak dengan cara di rebus kemudian ditaburi kecap.
GILA!
"gak mungkin aku buat sate aneh seperti itu!"
"Sayang please, aku penget itu!!" Rengek Gibran seperti bayi.
"TIDAK!" Jawabnya tegas sembali melipat alat sholat kemudian bergegas kedapur.
"Yasudah! aku tidak akan bekerja" Ucapnya kemudian terduduk di meja makan.
Adiba tersenyum, kenapa pria dingin dan menakutkan itu menjadi aneh sekarang. Dia terlihat sangat manja dan banyak maunnya, untung saja Bi Lastri belum datang. Sehingga tidak ada satupun orang yang tahu keanehan suaminya kecuali Sekertaris Vino.
Adiba menghampiri Gibran dan mengusap lembut pipinya.
"Jika daddy tidak bekerja aku akan makan apa?" Ucap Adiba mengikuti suara bayi.
"Hey aku tidak semiskin itu! aku bisa menghidupimu walau aku tidak bekerja sampai tua sekalipun" Ucapnya tinggi.
Hem, kumat lagi Arrogant nya.
"Hm iyaya, tapi bukankah lebih baik jika seorang atasan memberikan contoh yang baik kepada bawahannya?"
Gibran terdiam.
"Oke, oke aku akan bekerja" Adiba tersenyum.
"Pintar!"
"Tapi aku pengen itu!" Rengeknya membuat bola mata Adiba memutar.
Aku yang hamil kenapa malah aku yang ribet.
"Tidak bisa, makanan itu sangat berbahaya jika dikonsumsi." Ucap Adiba
sejenak berfikir.
" Baiklah, begini saja. Kau boleh meminta hal lain selain itu"
"Benarkah?"
"Hemmm"
"Oke aku pengen sarapan dengan telur mata sapi pagi ini"
"Telur mata sapi? oke! dengan senang hati tuanku" Ucapnya membuat Gibran senang.
Adiba langsung mengambil alat dan bahan untuk memulainya. Gibran yang tidak bisa jauh dari Adiba terus saja memeluknya dari belakang. Dia beralasan jika tubuh Adiba sangat wangi dan mengalahkan bau bau yang membuat perutnya berlonjak kemudian muntah.
Mendengar hal itu Adiba membiarkan pria itu memeluk dirinya.
"Suamiku, bagaimana aku bisa memasak, jika kau menempel begini."
Gibran tidak mendengarkan, dia malah makin mengeratkan pelukan dan menciumi area leher Adiba. Dengan langkah tertatih Adiba membuat telur mata sapi untuk suaminya.
Gibran tidak banyak bicara, dia lebih banyak diam tapi tangannya bergeliyaran di tubuh Adiba. Adiba hanya menghela nafas, karna hal itu membuat tubuh Adiba berkeringat karna ulah Gibran bukan karna panasnya kompor.
"Aku ingin ke toilet dulu" Ucap Gibran tiba tiba
"Baguslah!"
"Bagus apanya?"
"hm tidak!" Jawab Adiba cengengesan.
__ADS_1
Adiba menggunakan ketidak hadiran Gibran untuk memepercepat gerakannya. Dengan hati hati Adiba menuangkan kuning telur di tengahnya.
"Oke jadi" Ucapnya. Adiba menaruh sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di meja makan.
"Hm cantiknya" Gumamnya menatap telur mata sapi yang setengah matang, putihnya bersih berpadu padankan menjadi indah dengan warna kuning ditengahnya.
"Sayang, udah selesai belum?" Gibran kembali dengan wajh berbinar.
"Sudah, silahkan tuan"
Gibran tersenyum kemudian duduk di meja. Menatap sepiring makanan tersebut. Adiba pun antusias melihatnya.
"Ini apa? sayang, aku minta kamu membuatkam telur mata sapi untukku?" Tanya Gibran protes.
"Hah?" Adiba terdiam menatap Gibran yang merajuk.
"Suamiku, tapi ini aku buatkan telur mata sapi"Jelas Adiba.
"Sayang, dimana mana.... mata itu ada dua. kenapa ini satu, kau taukan sapi mempunyai dua mata bukan satu" Adiba terdiam menatap gibran tak percaya.
Kesetrum apa suamiku?
"Tap_ tapi telur mata sapi memang seperti in__"
"Ini mah seperti mata D*j*l hahaha" ujar Gibran membuat Adiba juga tertawa.
"Yasudah, yasudah. Aku buatkan telur dengan dua mata sapi"
"Oke aku tunggu"
Dengan langkah gontai Adiba kembali ke dapur dan membuatkan Telur dengan 2 mata kuning diatasnya sesuai permintaan Gibran.
Telur mata sapi, dua matanya.
Iya ya, sapi kan dua matanya. Kenapa aku buatkan satu mata. Tapi,,, orang orang biasa memasak telur mata sapi dengan satu kuning telur diatasnya
Setelah beberapa menit memasak, akhirnya telur dua mata sapi sudah siap. Gibran tersenyum senang melihatnya. Dengan lahap ia langsung memakannya.
Adiba tersenyum menatap suaminya yang hanya bisa memakan makanannya.
Di tempat lain.
Vino mundar mandi di depan pintu rumah utama tuannya. Vino tak kunjung mengetuk pintu karna rasa gelisah yang menghantui fikirannya.
Ucapan Aisyah berhasil memenuhi otak Vino hingga membuatnya memilih menunggu tuannya saja diluar, dia tidak ingin melakukan hal bodoh jika masuk kedalam.
Flassback on
"Hei gadis gila aku bertanya kepadamu"
Ish sembarangan manggil gadis gila, jatuh cinta baru tau rasa nanti,!! Geram Aisyah
"Ahha!!!" Ucap Aisyah membuat Vino yang sedang minum cappucino tersedak.
"Hey kau benar benar gila."
"Suttt, aku tau jawabannya" Ucap Aisyah membuat Vino serius menatap Aisyah.
"Kau mau tau jawabannya?"
"Hmm"
"Sini" Vino mendekatkan pendengarannya kepada Aisyah.
"Jika pisangmu lama tak dipakai memang akan berkarat, apalagi jika melewati batas pensiun dia akan layu dan tidak bisa berdiri" Jawab Aisyah berbisik membuat Vino menatap tajam.
"Pensiun?"
Aisyah mengangguk.
__ADS_1
"Berapa lama batas pensiunnya?"
"Sampai usia 35 tahun" Jawab aisyah sekenanya, hal itu membuat wajah Vino merah seketika karna cemas.
Pasalnya, hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi usia Vino akan menginjak 35 tahun.
Matilah nasibku. Gumamnya dalam hati, tubuh Vino semakin panas dingin karna takut jika apa yang diucapkan gadis gila itu benar benar terjadi.
Aisyah menahan tawa melihat wajah pria tua mesum itu.
"Memangnya umur paman sekarang berapa" Goda Aisyah.
"Hey bocil! aku tidak setua itu sampai kau memanggilku paman"
"Ya ya om,"
"Saya bukan Om mu" Tegas Vino membuat Aisyah tertawa.
"Haha bodo, om om om" Ulah Aisyah membuat vino semakin marah tak karuan.
"Diam atau kau kucium! " Ancaman paling ampuh yang Vino miliki.
"Ish,, kebiasaan. Om ini sudah tua ya sampe khawatir gitu"
"Bukan urusanmu!" Tukasnya kemudian melenggang pergi
"Hahaha" Tawa Aisyah mengiringi langkah Vino yang lebar.
"Eh, eh ini siapa yang bayar?"
"Om.... tunggu om.... makannya belum dibayar!!" Teriak Aisyah membuat beberapa pengunjung melihat ke arahnya.
Huh huh huh
Aisyah mengatur nafasnya yang memburu, tenyata Vino tidak meninggalkannya. Dia menunggu di parkiran.
"Om makanannya belum dibayar"
"Bayar sendiri!"
"Ih om om pelit, kan om sendiri yang bawa aku kesini"
"STOP manggil saya seperti itu!!!" Teriak Vino mengejutkan Aisyah. Vino yang selalu 24 jam bersama Gibran tentu sja memiliki emosi yang sama seperti Gibran. Jadi tidak heran jika sikap Vino sebelas dua belas seperti tuannya.
"Hehe iyaya, maaf" Jawab Aisyah yang sedikit takut akan tatapan Vino yang tajam.
"Nih bayar" Vino mengeluarkan selapis kartu kepada Aisyah.
"Makas_"
"Tidak gratis!" Aisya melotot.
"Ini tidak adil kan kau sendiri yang membawa ku kemari" Protes Aisyah langsung terdiam ketika melihat tatapan tajam Vino.
"Kau hanya perlu menemaniku ngedate nanti malam" Jawab Vino.
"Hah ngedate?, apa itu?"
"Sudah, sana pergi!" Dengan langkah gontai aisyah kembali ke kasih Caffe dan membayar tagihan menggunakan kartu Vino.
Flassback off
Vino yang mengingat akan berkencan nanti malam tentu saja tersenyum bahagia, hal itu mengalihkan fikirannya tentang kata pensiun senjatanya.
"Hey kau salah minum obat?" Tanya Gibran yang sudah berdiri di hadapannya.
"Hm tidak tuan, selamat pagi" Jawab Vino membungkuk.
Gibran tak menjawab, dia masih merasa senang karna bisa makan telur mata sapi yang dibuatkan istri tercintanya. Mereka berjalan beriringan menuju kantor.
__ADS_1