PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Arghhh


__ADS_3

-Wanita itu!!! ku kira dia akan kapok. tunggulah! sebentar lagi kudapatkan buktinya. Batin sekertaris Vino geram terhadap Shella yang selalu datang dikehidupan tuan mudanya dan mengacaukan semuanya.


Lama Adiba menikmati suasa malam yang hening dengan angin yang merasuki pori-pori kulitnya yang halus, membuat Adiba kedinginan dibuatnya. Adiba menolah kesamping melihat sekertaris Vino yang sedang duduk dengan jari yang sibuk dengan benda tipisnya.


Tak lama Adiba mengingat sesuatu,


"Apakah ada mesjid disekitaran sini tuan?"Tanya Adiba tiba-tiba membuat sekertaris Vino langsung menoleh keheranan.


Bisa-bisanya gadis ini masih mengingat tuhannya ketika ia sedang diselimuti kesedihan, bahkan suaminya pun meninggalkannya dengan wanita lain dimalam pernikahnnya.


Jika sekertaris Vino yang berada di posisi Adiba, mungkin ia akan melakukan unjuk rasa kepada tuhannya atas apa yang telah terjadi sekarang.


-anda gadis cantik nona, sholehah pula.


Tuan muda!! seharusnya kau bersyukur menikah dengannya. Batin sekertaris Vino.


"Maaf, saya hanya sebentar tuan.


setelah selesai, saya akan kembali lagi kesini." Lirih Adiba sendu yang salah mengartikan tatapan Sekertaris Vino.


"Ada, mari saya antar nona." Sekertaris Vino beranjak mempersilahkan.


Waktu sudah menunjukan pukul 01:15, Adiba mengikuti langkah sekertaris Vino dibelakang menuju tempat ibadah terdekat. sekertaris Vino mengantar Adiba sampai di gerbang.


"Berhati-hatilah nona, saya akan menunggu anda disini." Sahut Sekertaris Vino menatap Adiba


"Baik, terimakasih tuan." Jawab Adiba yang langsung pergi masuk kedalam.


Adiba mulai melakukan peribadatannya sampai selesai. Membuat hatinya lebih tenang dari sebelumnya.


Adiba berdoa untuk sang ayah tercinta dan untuk pernikahannya yang baru aja dimulai.


***


"Segera dapatkan informasinya!!! aku tunggu 24jam dari sekarang!!!" Tegas Sekertaris Vino kepada seseorang disebrang telpon.


Sekertaris Vino melihat kearah pintu masuk tempat Adiba melakukan ibadah. tak lama kemudian, pemandangan di parkiran hotel yang tak jauh dari mesjid berhasil menarik perhatian matanya.


"Lepaskan aku!!" Teriak seorang wanita yang tak jauh dari posisi Vino berdiri.


"Jaga nona muda." Titah sekertaris Vino kepada para pengawal yang tak jauh dari posisi mereka.


Mengambil langkah sigap, sekertaris Vino membuntuti objek yang sudah berlari menjauhi tempat kejadian.


-Bukannya itu Shella!. Batin sekertaris Vino yang bersembunyi.


"Diamlah!!" Jawab seorang pria yang langsung membungkam mulut Shella dengan mulutnya di tempat gelap yang tak jauh dari hotel.


Sesekali Shella memberontak, tapi lama kelamaan Shella mulai terbuai dengan permainan yang diberikan oleh si pria berbaju hitam itu.


Hingga keluar suara desahan lembut dari bibir Shella ketika sang pria menghujani ciuman dilehernya.


"A...ahh, Da_...

__ADS_1


Da_daffa..."samar-samar namun terdengar jelas ditelinga sekertaris Vino.


-Menjijikan!!. Umpat sekertaris Vino yang kemudian langsung enyah dari tempat persembunyiannya itu.


*


"Dimana tuan itu?" Adiba bermonolog sendiri sambil celingak celinguk mencari keberadannya.


"Tuan Vino sedang ada urusan nona, mari saya antar kembali kehotel." Jawab seorang pria yang berperawakan besar dan tinggi datang tiba-tiba.


"Anda siapa?" Tanya Adiba heran menatap kedua pria di hadapannya.


"Saya utusan Tuan Vino nona, mari saya antar." Jelasnya.


Tanpa menunggu lama pengawal tersebut mengantar Adiba sampai di depan pintu kamar Gibran.


Adiba belum masuk kedalam kamar, hatinya kembali gundah. Tidak ingin melakukan kesalahan dengan mengganggunya.


"Bisakah saya tidak masuk?


saya akan menunggunya disini dan akan masuk ketika tuan muda membutuhkan sesuatu. Nego Adiba kepada para pengawal.


"Masuklah nona, Tuan Vino berpesan agar anda menemaninya malam ini." Tegas pengawal membuat Adiba tidak bisa membantah.


Pengawal itu membukakan pintu untuk Adiba. Dengan sangat hati-hati Adiba melangkah pelan agar tidak menimbulkan suara.


Melihat Gibran yang sudah tertidur lelap sambil memeluk sesuatu dengan selimut yang menutupi seluruh badannya membuat Adiba salah tingkah.


Berjalan dengan sangat pelan, Adiba melewati ranjang king size yang berada tepat di samping kirinya. Tak disangka, Gibran yang menyadari seseorang lewat menarik lengan Adiba dengan sangat kuat hingga tubuh Adiba tumbang diatas tubuh kekar Gibran suaminya.


"Kau mau kemana hany?." Tanya Gibran setengah sadar.


Dengan mata yang masih terpejam, tangan Gibran beralih ke pinggang ramping Adiba dan menguncinya.


-Hah? kemana nona Shella?. Batin Adiba keheranan yang baru saja menyadari tidak mendapati keberadaan shella di kamar tersebut.


Wajah Adiba sudah berubah merah seperti kepiting rebus, dengan jarak yang sangat sangat dekat membuat jantunya berlonjak hendak berlarian di dalam sana. Adiba melihat wajah pria tampan sekaligus menyeramkan yang sekarang menjadi suamianya.


Tanpa sadar tangan Adiba menyentuh alis tebal Gibran yang menurutnya sangat memikat matanya.


Dengan cepat Gibran meriah tangan Adiba dan membalikan tubuh mereka.


Sekarang tubuh Adiba sudah berada dibawah kuasa Gibran dan dikunci rapat oleh tubuhnya. Membuat jantung Adiba semakin berlarian seperti sedang lomba lari.


"Kau yang memulainya terlebih dulu." Suara Gibran yang terdengar sangat berat di telinga Adiba.


-aaaaa seharusnya aku tidak masuk kedalam kandang singa ini. Batin Adiba


"Tu...." Belum sempat Adiba menyelesaikan ucapannya untuk memberi tahu jika ia buka Shella, Gibran sudah terlebih dahulu membungkamnya dengan ciuman.


Adiba memberontak ketika mengingat ucapan Gibran yang sangat menyayat hatinya


Aku tidak sudi menyentuhmu, aku hanya mencintai kekasihku!!,

__ADS_1


Tetapi Gibran malah menarik kedua tangan Adiba keatas kepalanya dan mengunci dengan tangan kirinya.


Sementara tangan kanannya sudah bergeliyar dalam baju Adiba mencari-cari pengait bra dan membukanya. Membuat Adiba meneteskan air matanya.


Adiba seperti seorang gadis yang hendak diperkosa, ia memang menyadari jika ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri. Tetapi cara Gibran melakukannya dengan tanpa sadar dan mengira dirinya adalah Shella membuatnya tidak terima.


Jika saja Gibran sadar dengan apa yang di lakukannya dan menerimanya sebagai istrinya, mungkin akan dengan senang hati Adiba memberikannya untuk suaminya.


Akankah kesucian yang selama ini dijaganya akan hilang oleh pria yang tidak mencintainya.


Gibran melakukan ciuman tersebut dengan sangat lembut, tidak mendapat respon dari yang dicumbunya, Gibran menggigit kecil bibir bagian bawah Adiba. Membuat Adiba mau tak mau membukanya.


Gibran menorobos masuk ketika Adiba membukanya, mengabsen setiap benda yang ada di dalamnya. Permainan yang diberikan Gibran sangatlah membuat Adiba terbuai di dalamnya.


Karena hal ini adalah pertama kali untuk Adiba membuatnya sangat kesulitan bernafas, Gibran melepaskan pautannya memberi waktu Adiba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Gibran menenggelamkan wajahnya di dua gundukan besar dan masih kencang tersebut. Gibran memberikan banyak kissmark serta menggigit kecil p*t*ng Adiba\, membuat Adiba menggigit kecil bibir bawahnya dan mengepal kuat sprai king size itu.


Tak cukup sampai disitu, setelah puas diarea gundukan tersebut. Sedikit demi sedikit Gibran beranjak kearea leher, menghujaninya dengan ciuman serta meninggalkan banyak tanda kepemilikan disana.


Adiba tak dapat lagi membendung suara desahannya ketika tangan kanan Gibran meremas area gundukannya, membuat Gibran semakin menggila.


Nafas Gibran semakin memburu, tubuhnya sudah berkeringat basah. Hasratnya sudah tidak dapat dibendung lagi ingin disalurkan.


Gibran membuka paksa pakaian Adiba membuat Adiba terbelalak dan sadar atas apa yang sudah di lakukannya.


"Tuan kumohon hentikan, ini saya Adiba bukan Shella." Lirih Adiba pelan sambil menangis.


Seketika tubuh Gibran meregang, hasrat yang sudah memuncak berubah menjadi amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Arghhh!!!!


Menyingkir dariku!!!" Ujar Gibran yang langsung menyingkirkan tubuh Adiba sampai terjatuh ke lantai.


Gibran langsung beranjak menghampiri Adiba dan mencengram dagunya dengan sangat kuat.


"Apa yang kau lakukan gadis murahan? dimana kekasihku?" Menghakimi dengan sorot mata tajam.


"Ma_ma tuan saya tidak tahu." Jawab Adiba lirih sambil menangis dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Cih!!!! Dasar p*l*cr .**


kau menyingkirkan kekasihku dan menggodaku untuk tidur bersamamu***." Geram gibran dan langsung beranjak kekamar mandi tidak tahan lagi jika melihat wajah Adiba.


Adiba hanya menangis mendengar ucapan tajam seperti pisau itu terhadapnya. Ia tidak menyangka dirinya akan dipandang serendah itu oleh suaminya sendiri.


"Pergilah dari hadapanku!! aku tidak sudi melihat wajahmu." Titah Gibran sebelum melewati pintu


Dengan masih sesegukan Adiba membetulkan semua pakaiannya yang tadi sempat berantakan dan terbuka kemudian pergi meninggalkan kamar, membuat para pengawal heran.


"Anda mau kemana nona?." Tanya para pengawal.


Adiba mengabaikan pertanyaan para pengawal itu dan berlari sejauh mungkin dari tempat terkutuk itu

__ADS_1


__ADS_2