PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Hari pertama di rumah calon mertua


__ADS_3

Di kamar tamu tepatnya dilantai 2, Alexa dan


Adiba baru aja menyelesaikan peribadatan mereka. Tak lama kemudian, terdengar


suara dering dari atas kasur yang bersumber dari Handphone Alexa.


Alexa mempercepat gerakannya dan segera


menjawab telpon tersebut.


 "Hallo?"Tanya


Alexa.


 "Apa?! ia saya segera kesana." Jawab Alexa terkejut dan lansung


buru-buru mempercepat aktifitasnya.


 "Mama


tinggal dulu ya, jika ada perlu apa-apa panggil pelayan atau Gibran." Titah Alexa sambil mengelus pucuk rambut Adiba.


 "Iya


ma" Jawab Adiba memberi senyuman.


 Meski penasaran dan ingin


bertanya, namun Adiba mengurungkan niatnya untuk bertanya hal apa yang terjadi


ketika Alexa langsung pergi berlari meninggalkan kamar.


 Adiba mengganti bajunya


dengan baju tidur yang cukup tertutup tak lupa pula memakai hijabnya kemudian


beranjak menghampiri rak buku, dia berniat menghabiskan waktunya untuk membaca


malam ini. Ada banyak jenis buku yang tertata rapi disana. Adiba mengambil satu


buku yang sangat cocok baginya. Buku yang berjudul Bank soal Matematika dan cara penyelesaiannya.


 Adiba memang siswa teladan yang baik. Tetapi dia sedikit kewalahan jika


harus menghadapi soal-soal matematika yang menurutnya sangat memakan waktu, gadis tersebut melangkah menghampir sofa yang letaknya tidak jauh dari Kasurdan duduk disana.


 Baru beberapa halaman membaca buku.


 Ceklek


Pintu kamar terbuka, Adiba menoleh ka arah

__ADS_1


pintu. Melihat Gibran yang datang, ia langsung berdiri memberi senyum sapaan. Tetapi Gibran mengabaikan sapaan Adiba, ia


terus melangkah mendekati Adiba dan membiarkan pintu tetap terbuka.


 Melihat wajah dingin


Gibran membuat Adiba menunduk dan perlahan mundur diiringin dengan langkah


Gibran yang terus mendekat.


 Mau apa tuan gila ini. Adiba mulai awas, matanya


melirik pintu mencari celah untuk kabur.


BRAK!!


 Terus melangkah mundur


membuat Adiba tidak sadar jika dia sudah terpojokan, tubuhnya terbentur tembok tepat di samping


rak buku. Tubuh Adiba semakin gemetar, keringat bercucuran melihat


tatapan Gibran yang tajam, tubuh mereka semakin dekat. Adiba semakin ketakutan ketika kedua tangan Gibran mengukungnya. Ingin


sekali dia menginjak kaki pria ini dan lari, namun tubuhnya sudah berkhianat! Mereka


malah diam membeku, bahkan matanya tak bisa teralihkan dari wajah Gibran.


Gibran memiringkan wajahnya ke kanan. semakin


Adiba memejamkan matanya dalam-dalam ketika Gibran semakin mendekatkan bibirmereka.


 Namun


tiba, tiba. BUGH...!!


Adiba terkejut setengah hidup ketika Gibran menonjok dinding tepat di samping


wajahnya. Terlihat darah segar keluard ari buku-buku tangannya, Adiba semakin menunduk.


 Ihh ni orang kenapasi?. Bergumam namun tidak berani mengeluarkan suara. Tatapan tajam Gibran sukses membuat nyali Adiba menciut.


 "Apa


alasanmu menerima pernikahan ini?"


Lirih gibran, hembusan nafas lembut menyapu wajah Adiba.


 “Saya hanya ingin


berbakti kepada ayah dengan menjalankan amanatnya tuan" Menjawab dengan wajah yang masih tertunduk.

__ADS_1


 "Cihh,


menjalankan amanat kau bilang! Kau bahkan sudah


mempunyai kekasih" Mengepal kuat dan membalikan badan.


 Darimana dia bisa tau aku punya kekasih? eh sebentar, apa


maksud dia bertanya seperti itu? dia cemburu? hah gila


saja Adiba!!! dia bahkan baru mengenalmu tetapi kenapa dia


bertanya seperti itu, aaaa apa maksudnya pertanyaannya itu?


 Adiba memilih diam dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Bibirnya


kelu, kemarahan Gibran membuat Adiba serba salah dan ketakutan.


 "Jawab!" Bentak Gibran kembali menggebrak dinding


membuat Adiba terlonjak.


 "Ss- saya akan berusaha untuk melupakannya tuan." Menjawab dengan suara


yang sudah terbata-bata.


Ucapan Adiba membuat Gibran


menautkan kedua alisnya, semudah itu? Aku bahkan butuh waktu lama untuk


melupakan Shella yang jelas-jelas berselingkuh. Apalagi jika kami berpisah


karena pernikahan bodoh ini. Mungkin aku tidak akan bisa melupakannya


sedikitpun.


“Auw tuan, sakit!” Lirih


Adiba ketika tangan kokoh Gibran mencengkram wajahnya. Pria itu mengarahkan


wajah Adiba gar menatapnya.


 "Tepati ucapanmu! karena pernikahan ini, aku harus


kehilangan kekasihku dan kau pun harus merasakannya.” Mengabaikan keluhan


Adiba.


 Adiba mengangguk pasrah,


rasanya sangat sakit.

__ADS_1


 Gibran melepas cengkraman itu kemudian pergi meninggalkan


Adiba.


__ADS_2