
Pagi yang cerah kini sudah tiba, burung-burung dan ayam bahkan sudah bersahutan sedari tadi, namun hal itu tidak mengusik dua insan yang sedang terlelap tidur akibat aktivitas mereka.
orang tua Aisyah tersenyam senyum didepan pintu kamar putri mereka.
"Lihatlah pa, mereka sepertinya sangat kelelahan. Tidak biasanya putri kita bangun tengah bolong begini" Ujar Ibu berbisik sambil menahan tawa, mulutnya ia tutup agar tidak menimbulkan bunyi.
Ibu Aisyah bergidik ngeri membayangkan tubuh menantunya yang kekar, dia berfikir jika Aisyah pasti kewalahan melayani suaminya yang gagah itu.
Hihh.
"Iya, yowes bu ayo kita sarapan duluan saja. Tidak baik kita berprilaku seperti ini"
Niat mengajak anak dan mantunya sarapan bersama, namun malah gagal. Tapi tak apa, Ibu Aisyah malah sangat senang karna berharap putrinya segera hamil.
Di apartemen..
"Sayang?."
"Hm?" menjawab tanpa menatap wajahnya, tangannya sibuk mengukir dasi dileher suaminya dengan asal. Sedang tubuhnya ia tempatkan diatas paha suaminya.
Tidak adil! padahal dia sudah memasang dasi dengan sangat asal tapi kenapa pria ini masih saja terlihat tampan?. Malah pagi ini dia berkali-kali lebih tampan karna rambutnya yang sedikit basah.
Sungguh dia sangat tidak mood hari ini, disisi lain Adiba ingin jika suaminya terlihat rapi dan tampan. Tapi disisi lain dia sangat cemburu jika Gibran tampil lebih tampan dikantor nanti. Apalagi hari ini dan 2 hari kedepan tidak ada sekertaris Vino yang akan mengawasi.
"Apa kau bahagia?" Tanya Gibran tiba-tiba.
"Hah?" Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu?.
Adiba menatap lekat wajah tampan Gibran yang selalu saja membuat jantungnya berdebar.
Gibran terdiam menanti jawaban istrinya.
"Te_tentu"
Gibran menautkan kedua alisnya, membuat Adiba gugup. Meski kedekatan mereka sudah sangat baik, namun kecanggungan dihati tetap saja selalu membuat Adiba gugup.
"Apa maksudmu suamiku?" Mengalungkan tangan keleher Gibran.
__ADS_1
"tentu saja aku bahagia." Adiba menjawab semanis mungkin, mata biru itu membuat jantungnya kembali berlonjakan.
ayo jantung, berhentilah. pria ini sudah menjadi milikmu!
Gibran menuntun istrinya untuk berdiri dan berjalan tepat di atas balkon. Pagi saat ini yang cerah membuat suasana pagi menjadi sejuk dan sedap dipandang.
Pria itu memeluk istrinya dari belakang, mengusap perut dan mencium tengkuk lehernya.
"Maafkan aku!" Lirih Gibran.
Adiba terdiam mendengar ucapan suaminya.
Ada apa ini? apa aku terlalu jahat tadi? hmm maafkan aku aku tidak berniat.
Adiba semakin merasa bersalah ketika terdengar isak kecil dari arah belakang.
Apa dia menangis?
kenapa kingkong tua ini seperti tuyul sekarang?
Pria itu memeluk dengan sangat kuat membuat Adiba sedikit kesulitan bernafas.
Gibran tersadar, dengan segera dia melepas pelukan itu dan membalikan tubuh istrinya.
"Maafkan aku" Mencium kemudian memeluknya.
Gibran kembali terisak dipelukan Adiba. Adiba sendiri tidak berani bertanya akan hal apa yang menyebabkannya seperti itu? Tatapan Gibran selalu saja membuatnya gugup.
"Kumohon jangan pernah pergi lagi dariku" Lirihnya diiringi isak tangis.
Adegan demi adegan dimana Adiba ingin pergi bersama Zein tempo hati terus saja menghantui fikirannya. Dia sangat bersyukur karna tuhan masih memberikan kesempatan dan mengembalikan Adiba padanya. Bahkan dia diberikan hadiah istimewa oleh tuhan akan bayi mereka.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kalian berdua.
"Tolong maafkan semua kesalahanku istriku"
hm? apa dia bilang, istriku?
__ADS_1
Gibran merangkum wajah istrinya yang sedikit lebih cabi sekarang.
"Berjanjilah kau tidak akan pergi kemanapun tanpaku"
Hey! itu permintaan atau titah!! kenapa kau selalu saja begitu padahal kau sendiri sedang menangis saat ini.
"Iya" Ujarnya kemudian tersenyum menikmati pelukan suaminya yang hangat. Meski dia selalu takut dan terpesona kepada pria ini. Namun jauh didalam lubuk hatinya, Adiba juga menginginkan ayah dari bayinya selalu hadir dalam hidup mereka, selamanya.
Adiba mengusap pundak lebar itu, pundak yang selama ini ingin ia sentuh namun tak bisa, kehadiran perempuan lain dirumah tangga mereka membuat dirinya asing bagi suaminya sendiri. Baru sekarang ia dapat menyentuh dan mengelusnya.
Adiba ikut menangis bahagia karna dia sudah berhasil mendapatkan cinta dari suaminya.Ucap syukur ia lantunkan karna ia mendapatkan Cinta yang tulus dari orang yang sangat penting dalam hidupnya. Juga mendapatkan Cinta dari seorang ibu yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Mama? seketika Adiba teringat kepada kejadian yang belum lama terjadi.
"Suamiku, apa Anna baik-baik saja?" Adiba berbicara dengan sangat pelan dan sopan, dia tidak ingin menganggu mood Gibran yang lagi melaw. Tapi dia sangat ingin tahu kabar adik ipar cantiknya itu.
Adiba sungguh tidak percaya jika Anna menyukai sekertaris Vino, pantas saja dia sampai tersedak air ketika mendengar kabar Sekertaris Vino ingin menikah waktu itu.
Adiba terus berkelana menyimpulkan hal hal yang dia bayangkan tanpa sadar dengan raut wajah Gibran yang kembali ditekuk.
"Aku akan mencarikan pasangan untuknya?!"
hah? tuan, kau ini kenapa? mengertilah perasaan wanita.
Adiba sangat tidak percaya dengan keputusan suaminya, bagaimana bisa dia mencarikan pasangan untuk wanita yang mencintai orang lain. Adiba merasa prihatin karna dia mengerti bagaimana sakitnya mencintai seseorang yang bahkan dia sendiri tidak mencintai kita
Seperti Anna dan Vino
Seperti aku dan suamiku, Adiba melamun mengingat wanita cantik dan modis itu.
Gibran yang mengerti perasaan istrinya kemudian kembali memeluknya. dia sudah sangat hafal tentang sifat, pemikiran dan keinginan istrinya saat ini.
Maafkan aku, kumohon lupakan hal itu karna itu semakin membuatku lebih sakit.
"Percayalah sayang, aku tau apa yang terbaik untuk adikku sekarang."
Adiba menghembuskan nafasnya "Baiklah."
__ADS_1
Gibran berangkat setelah sarapan, tak lupa ia mencium kening dan perut istrinya yang sedikit membesar.