PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH

PENANTIAN ISTRI SHOLEHAH
Bertemu bule


__ADS_3

"Silahkan masuk nyonya." Seorang pria paruh baya mempersilahkan Adiba masuk kedalam mobil.


Adiba hanya mengikuti masuk tanpa banyak bertanya, dia mengira jika supir ini mungkin utusan suaminya.


"Terima kasih" Ucap Adiba yang hanya di jawab senyuman oleh sang sopir.


Adiba duduk dibelakang, sedang Bi Lastri duduk di depan bersama sopir.


Mobil yang ditumpangi mereka pun mulai melaju dengan kecepatan sedang.


Setelah menempuh waktu 30 menitan, Sopir keluar mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Adiba.


Mata Adiba terpana melihat kemegahan mall besar di depan matanya. Tertera tulisan Adelard Wijaya mall di papan besar diatas gedung tersebut.


Adiba menyadari sesuatu,


"Kenapa kita kesini bi? kita kan hanya akan membeli keperluan dapur" Tanya Adiba sambil mengikuti langkah Bi Lastri.


"Tuan memberi perintah agar tidak membawa neng ke pasar tradisional dan mengirim sopir ini tadi."


Adiba hanya membulatkan mulutnya.


Adiba dan Bi Lastri sudah masuk kedalam mall tersebut, tanpa bertele-tele mereka langsung ke toko bahan dapur karna memang itu tujuannya.


"Bibi ketoilet dulu ya neng, kebelet" Ucap bi Lastri menahan panggilan alamnya


Adiba menahan tawanya melihat wajah bi lastri yang lucu.


"Silahkan bi, hati-hati"


"Iya, jika sudah nanti tunggu di kasir aja ya neng"


Adiba mencari-cari bahan keperluan dapurnya sendiri tanpa Bi Lastri.


Sibuk mencari bahan, pandangan Adiba berganti ketika melihat dompet jatuh dari handle bag seorang wanita cantik dan sexy yang sedang berjalan menuju kasir.


Adiba mengambil dompet tersebut dan berjalan mengikuti wanita tersebut.


Gadis itu terlihat panik ketika di depan kasir, Adiba mempercepat langkahnya


-Mungkin dia mencari dompetnya. Batin Adiba


"Permisi, ini dompetnya nona tadi jatuh disana" Ucap Adiba tersenyum memberikan dompet tebal berwarna pink.


Gadis itu langsung memeluk Adiba, membuat Adiba terlonjak


"Thank you very much, you are a good girl ."


"Sama-sama" Jawab Adiba tersenyum kaku, dia tidak mahir berbahasa inggris tapi dia sedikit tahu ucapan gadis di depannya ini.


Gadis ini menyadari perubahan wajah Adiba, dia tersenyum kemudian dia merubah logat berbicaranya menggunakan bahasa Indonesia.


"Oh iya perkenalkan namaku Keyla, siapa namamu?" Mengangkat tangan sambil tersenyum


"Adiba" Jawabnya sambil menerima jabatan tangan.

__ADS_1


"Apa kau lapar? ayo kita makan bersama sebagai tanda terimakasihku." Ajaknya ramah.


"Tidak nona, terima kasih" Jawab Adiba tak kalah ramahnya.


"Come on, please." Menjabat tangan Adiba membuat Adiba sangat tidak enak jika menolaknya.


"Baiklah" Ucapnya pelan, membuat keyla tersenyum


"Nyonya" Sahut Bi Lastri berlari sampai terpongoh-pongoh.


"Bibi?"


"Bibi cariin, kirain ada yang nyulik" Jawab Bi Lastri panik


"Haha bibi ini ada-ada aja." Jawab adiba sambil tertawa lucu dengan tingkah pembantunya. Mana ada gadis sebesar dirinya diculik, aneh (fikirnya).


"Ekhem" Deheman Keyla menyadarkan keduanya yang tengah asyik mengobrol.


"Eh, Perknalkan bibi ini temanku keyla"


"Keyla" Ucapnya tersenyum tanpa mengajak jabat tangan seperti yang dilakukannya pada Adiba tadi.


"salam kenal nyonya keyla" Ucap Bi Lastri yang hanya dijawab senyuman oleh Keyla


"Ayo" Ajak Keyla.


"Bibi kami akan makan di depan sana. tolong lanjutin belanjaannya ya." Ucap Adiba terburu-buru karna tangannya sudah ditarik oleh keyla.


"Baiklah hati-hati nyonya"


-Mungkin itu teman lamanya. Batin Bi Lastri


Di meja makan.


Mereka makan berdua dengan makanan yang sudah dipesan sebelumnya.


"Apa anda bukan orang Indonesia nyonya" Tanya Adiba membuka suara kepada wanita beramput pirang di depannya ini.


Wanita ini tersenyum.


"Jangan seformal itu. Panggil saja aku keyla.


Aku sedang berlibur disini."


Jawabnya sambil memasukan stik kedalam mulutnya.


"Oh begitu."


"Hem, apa kau mau jadi temanku? aku tidak punya teman disini" Ucapnya sambil menatap wajah Adiba.


"Tentu saja" Jawab Adiba tersenyum.


Keyla langsung menghampiri Adiba duduk disampingnya, kemudian memeluk Adiba dengan sangat erat.


"Kau baik sekali, kau mirip seperti kakakku?"

__ADS_1


-Sepertinya dia rindu kakaknya. Batin Adiba.


"Ah, benarkah?" Tanya Adiba heran, benarkah ada orang bule yang mirip degannya. Punya tetesan dari mana dia, haha


"Iya, dia cantik sama sepertimu" Ucap Keyla sambil melepas pelukannya.


"Haha keyla. kau bisa saja, terima kasih juga dari orang yang lebih cantik." Ucap Adiba sambil memegangi pipi kanan Keyla yang sudah merona.


Obrolah pun berlanjut, mereka bertuka nomor ponsel agar mudah berkomunikasi. Kemudian mereka memutuskan untuk pulang ketempat asal masing-masing.


Di Apartemen.


Adiba dan Bi Lastri pulang tepat pukul 5 sore, Bi Lastri merapikan semua barang belanjaannya kemudian pamit pulang.


Adiba masuk kedalam kamarnya mengendap-endap, memastikan kedatangan Gibran. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kamar, membuat Adiba sangat lega.


"Huft Selamat!!" Ucapnya sambil memegangi dadanya.


Tidak mendapati Gibran di dalam kamarnya Adiba langsung membersihkan badan dan menjalankan kewajibannya.


Adiba sudah menyiapkan makan malam, tapi sudah pukul 9 malam Gibran tak kunjung pulang. Adiba memutuskan untuk tidur.


"Mungkin masih banyak pekerjaan, tapi untunglah" Gumamnya kecil.


Adiba memakai piyama tebal dan panjang untuk berjaga-jaga, berselimut sampai keseluruh tubuhnya kemudian pura-pura tidur.


-Mungkin dia akan melepaskanku jika aku tertidur duluan. Batin Adiba tersenyum penuh kemenangan.


Pukul 10 malam, Gibran baru tiba di Apartemen. Adiba yang menyadarinya terlihat gugup namun dia tetap rileks berpura-pura tertidur. Gibran yang melihat Adiba sudah tertidur pulas di balik selimut membuatnya tersenyum penuh arti sambil membuka kancing kemejanya.


Gibran memutuskan membersihkan badannya terlebih dahulu, kemudian ikut naik keatas ranjang. Membuka selimut yang menutupi wajah cantik istrinya, membuat Adiba cepat-cepat menutup rapat-rapat matanya.


Gibran tersenyum puas ketika dirinya dapat mudah memposisikan tubuhnya diatas tubuh Adiba dan mengukungnya.


-Aaaa kau ini! aku kan sedang tidur bodoh! Umpat Adiba kesal.


"Kau mau menghindar dariku ya?" Ucap Gibran sambil tersenyum kecil tepat di telinga halus Adiba.


"Aku tidak akan melepaskanmu!" Ucapnya lagi dan langsung mendaratkan bibirnya di leher jenjang istrinya.


Adiba tidak tahan lagi, dia langsung terlonjak karna geli ketika hembusan tiap hembusan nafas Gibran yang sudah memburu sudah mendarat di telinga dan leher putihnya.


"Eh, tidak suamiku" Jawab Adiba refleks membuat Gibran menahan tawanya.


Gibran memang mengetahui akal-akalan istri kecilnya yang pura-pura tidur untuk menghindar darinya. maka dari itu dia menjahili Adiba dengan mencium seluruh area sensitifnya dan lihatlah, rencananya berhasil. Tanpa harus bersusah payah membangunkan Adiba terlonjak dengan sendirinya.


Tanpa meminta izin sang punya, Gibran langsung ******* habis bibir kenyal istrinya tandas tanpa sisa sambil tangannya yang sudah tidak dapat dikondisikan.


-Tamatlah riwayatku!!!!" Batin Adiba pasrah sambil menyeimbangi permainan yang diberikan suaminya.


Gibran membuka seluruh pakaian Adiba dengan bibir yang masih berpautan. Gibran enggan melepasnya, karna bibir ini yang dari tadi membuatnya setres karna harus menyelesaikan pekerjaan sialnya.


Setelah mereka berdua sama-sama polos, Gibran baru melepas pautannya membuat Adiba ngos-ngosan.


"Kau sudah pintar ya sekarang" Goda Gibran pelan sambil mencium lembut kening Istrinya. Membuat Adiba merah merona.

__ADS_1


Gibran memulai penyatuannya dan memompa tubuh Adiba tanpa henti. Malam yang dingin karna hujan deras menjadi malam yang sangat panas bagi Gibran dan Adiba, entah berapa lama mereka melakukannya yang pasti tepat pukul 1 malam Gibran baru melepaskan Adiba kemudian tertidur bersama dengan posisi Gibran memeluh Adiba dengan eratnya.


__ADS_2